Kesehatan

Kemoterapi Tak Untungkan Penderita Kanker

Tak lelah berjuang melawan kanker meski telah memasuki stadium akhir. Metode penyinaran atau kemoterapi terus dilakukan, tak peduli seberapa besar efektivitas pengobatan itu.

Menurut sebuah penelitian terbaru, Sabtu (15/10/2010), kemoterapi ternyata sering menimbulkan kegelisahan dan tidak memberikan keuntungan apapun bagi sang penderita. Dalam penelitian dipublikasikan pada jurnal American Medical Association disebutkan sekitar 9 persen wanita berusia 65 tahun ke atas dengan harapan hidup kurang dari 2 tahun karena kanker ganas, masih sering menjalani serangkaian tes mammogram (sejenis kemoterapi).

Adapun 15 persen pria penderita kanker ganas juga masih menjalani proses penyinaran prostat. Para peneliti menyatakan mereka melakukan penelitian ini semata-mata untuk mengurangi pengeluaran para penderita kanker. Mengurangi kemoterapi atau prosedur penyinaran oleh penderita kanker stadium akhir terbukti mampu mengurangi pemeriksaan biopsi tidak dibutuhkan ditambah lagi tekanan psikologis.

“Keuntungan kemoterapi bagi kelangsungan hidup penderita kanker ternyata tidak seperti yang dibicarakan selama ini. Keuntungan dari prosedur ini hanya dapat dirasakan saat stadium awal penyebaran kanker,” ungkap pimpinan penelitian, Camelia Sima merupakan asisten biostatistik di Memorial Sloan-Kettering Cancer Center di New York.

Para peneliti dalam studi ini mengobservasi 87.736 pasien Medicare terdiagosa kanker paru-paru, usus, pankreas, esophagus dan payudara stadium akhir selama 1998-2005. Mereka diamati mulai dari Desember 2007 sampai akhir hayat mereka. Kelangsungan hidup pasien rata-rata berusia 75 tahun.

Kisaran tingkat kelangsungan hidup mereka beragam, penderita pankreas mampu bertahan selama 4,3 bulan, sementara penderita kanker payudara bertahan sampai 16,2 bulan. Para peneliti kemudian membandingkan para penderita kanker ini dengan 87.307 pasien Medicare yang tidak menderita kanker.

Kemudian para peneliti mengamati kegunaan dari tes mamografi, tes Pap serta prosedur penyinaran prostat dan usus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8,9 persen wanita yang menderita kanker stadium akhir masih melakukan setidaknya sekali tes mamografi, sekitar 5,8 persen lainya masih menjalai tes Pap.

Angka ini dibandingkan dengan 22 persen dan 12 persen oleh mereka yang tidak terjangkit kanker. Pada pasien pria, 15 persen penderita kanker ganas menjalani penyinaran kanker prostat, sementara 27,2 persen pasien yang tidak menderita kanker menjalani tes serupa.

Disimpulkan bahwa 35 persen penderita kanker masih menjalani rangkaian prosedur penyinaran tersebut dibandingkan dengan level 55 persen dari mereka yang tidak terjangkit kanker. Hal ini berarti bahwa satu dari tiga atau dalam beberapa kasus, satu dari dua orang terus menjalankan kemoterapi walaupun prosedur ini tidak membantu memperpanjang harapan hidup mereka.

Peneliti kedua dalam studi ini, Katherine Panageas menyatakan bahwa kebanyakan dokter diajarkan agar memaksa pasien mereka untuk secara rutin melakukan kemoterapi karena kebanyakan orang tidak menjalankan prosedur ini ketika mereka diwajibkan.

Saran dokter untuk secara rutin melakukan kemoterapi tidak serta merta harus diaplikasikan bagi penderita kanker stadium akhir karena mereka mungkin saja tidak akan bertahan hidup sebegitu lamanya untuk merasakan manfaat berbagai kemoterapi tersebut. “Pada populasi tertentu kami melihat adanya sebuah pemanfaatan yang berlebihan,” lanjut Panageas dalam sebuah wawancara telepon. (tz/bisnis)

 

Print Friendly
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top