Kesehatan

Menkes Endang Rahayu Pamer Pemerataan Sebaran Dokter

Program pemerataan penyebaran dokter dan tenaga kesehatan menjadi andalan dalam laporan kinerja Kementerian Kesehatan selama satu tahun.

Meski penambahan dokter di daerah, khususnya di wilayah Timur Indonesia, sudah dilakukan secara masif, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan masih dirasa kurang.

Distribusiyang belum merata, kondisi prioritas yang tidak sama di daerah, serta luas wilayah Indonesia, menjadi salah satu kendala dihadapi Kemenkes, katanya dalam siaran pers pemaparan hasil pencapaian kinerja lembaganya di Gedung Kemenkes, Jumat (22/10/2010).

Dikemukakan, pada awal 2010, Indonesia telah menerapkan program internsif dokter Indonesia (PIDI) bagi lulusan baru Fakultas Kedokteran. Melalui PIDI diharapkan mutu dokter Indonesia akan semakin meningkat dan program ini dapat memperbaiki penyebaran dokter di rumah sakit-rumah sakit tipe C dan D serta puskesmas sekitarnya.

Internsif merupakan kewajiban bagi para dokter baru yang pendidikannya menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan berlaku bagi seluruh anggota World Federation of Medical Education (WFME).

Program ini berlaku sebagai praregistrasi bagi dokter baru untuk mendapatkan surat tanda registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia yang merupakan persyaratan untuk mendapatkan surat izin praktek.

Saat ini terdapat dua provinsi telah menjalankan program ini, yakni Sumatera Barat dan Jawa Barat. Di Sumbar terdapat 206 dokter lulusan FK Universitas Andalas yang sedang menjalankan PIDi, angkatan pertama 92 orang, ke II 65 orang dan angkatan III 49 orang, katanya.

Angkatan I akan menyelesaikan program intersifnya pada Januari 2011. Sementara pada 18 Oktober 2010 lalu, sebanyak 183 dokter baru lulusan FK UI telah memulai program internsif di Jawa Barat.

Sementara itu, mengenai Jamkesmas, Menkes menjelaskan sebesar 56 persen penduduk sudah punya asuransi kesehatan. Dari jumlah tersebut, 60 persen di antaranya adalah peserta Jamkesmas, 20,83 persen di-cover Jamkesda dan sisanya masuk dalam Askes dan Jamsostek.

Hampir 80 persen dari 56 persen adalah ditanggung pemerintah baik pusat maupun daerah, dan 50 persen di antaranya ada di kab/kota yang di-cover Jamkesda, pasien rawat jalan tingkat pertama (RJTP) hingga Juni 2010 sebanyak 53.434.727, adapun tindakan operasi terbanyak dibayar Jamkesmas, yakni untuk operasi caesar, kuret, katarak juga hernia, kata Menkes.

Menyoroti soal obat generik, Kemenkes telah melakukan repositioning obat generik yang awalnya hanya mengedepankan harga murah, kini juga mengedepankan obat generik yang bermutu unggul dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat.

Dengan upaya ini diharapkan masyarakat tidak lagi menilai obat generik sebagai obat kelas II yang diragukan khasiatnya. Saat ini ketersediaan obat generik cukup untuk 14,2 bulan. Di 2010 penggunaan obat generik di RS mencapai 57,8 persen sementara di puskesmas sudah mencapai 96 persen lebih, katanya.(dep/ds)

 

Print Friendly
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top