Ekonomi

Bukukan Laba Rp 4,08 Triliun, Kredit Bermasalah Bank Mandiri Meningkat

JAKARTA – Bank Mandiri mencatatkan perolehan laba bersih senilai Rp 4,08 triliun pada kuartal I/2017, naik 6,9% secara year on year. Perolehan laba ini didorong pertumbuhan kredit yang tumbuh sebesar 14,2% secara year on year (yoy) menjadi Rp 656,2 triliun.

Dikatakan Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo, selain kenaikan kredit, peningkatan laba bersih juga ditopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan premi bersih sebesar 3,0% menjadi Rp13,4 triliun, kenaikan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) sebesar 25,0% menjadi Rp5,3 triliun, kenaikan biaya operasional sebelum pajak dan pencadangan sebesar 11,9% menjadi Rp10,8 triliun dibandingkan pada akhir maret 2016.

“Laba komponen FBI dan cost efficiency, karena kami tidak lagi agresif dalam mengembangkan jaringan distribusi fisik, tapi digeser ke elektronik. Selain itu, kami melakukan efisiensi dari sisi Himbara,” ungkap Kartika, Selasa (25/4/2017).

Dari sisi penyaluran kredit, perseroan mencatatkan peningkatan pembiayaan ke sektor produktif yang tumbuh 13,0% menjadi Rp 497,8 triliun. Perinciannya, kredit investasi tumbuh 15,0% dan kredit modal kerja tumbuh 11,9%. Perseroan juga meningkatkan penghimpunan dana murah. Sepanjang kuartal I/2017, dana murah (giro dan tabungan) yang dihimpun Bank berkode emiten BMRI ini mencapai Rp465,6 triliun, naik 14,5% yoy.

Baca Juga :   Pilgub Sumut 2018, Pasangan Edy Rahmayadi-Ijeck Daftar ke Hanura

Kredit Bermasalah Meningkat
Sebelumnya, Bank Mandiri mencatatkan kenaikan rasio kredit bermasalah sebesar 80 bps secara year on year pada kuartal pertama 2017. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross Bank Mandiri per kuartal I/2017 tercatat sebesar 3,98%, naik 80 bps dibandingkan rasio NPL pada periode sama tahun lalu.

Direktur Manajamen Risiko dan Kepatuhan PT Bank Mandiri, Ahmad Siddiq Badrudin menuturkan, perkembangan rasio kredit bermasalah hingga akhir tahun ini akan sangat dipengaruhi oleh baki kredit. “NPL mungkin antara 3,5%-4% untuk gross, sedangkan net akan turun karena itu tergantung dari NPL amount dibagi oleh baki kredit, new booking dan pelunasan,” paparnya, Selasa (25/4/2017).

Ahmad Siddiq menambahkan, kalau kredit tumbuh berdasarkan proyeksi yakni 11%-13%, pihaknya yakin dapat menurunkan rasio NPL antara 3,5%-4%. Sebaliknya, bila pertumbuhan kredit lebih lambat, target penurunan rasio NPL berisiko akan tertahan. (bnis.c/kn-m10)

Print Friendly
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top