Ragam

Mengenal Sejarah dan Masa Depan Perkebunan Indonesia

MataBangsa – Medan : Selain menggelar Pameran foto Perkebunan, Potret Exibition 2017 juga menggelar Diskusi ilmiah yaitu mengenal “Sejarah dan Masa Depan Perkebunan Indonesia” digelar di gedung Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS) Jalan Brigjen Katamso Medan, Sumatera Urara. Tepatnya didepan Museum Perkebunan Indonesia.

Tampil dalam diskusi tersebut yaitu, Erond L. Damanik Akademisi dari Universitas Negeri Medan, sebagai Moderator membuka diskusi diikuti puluhan Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Negri (PTN) maupun Swasta dan langsung menyerahkan materi pertamanya kepada, Dr. Edy Sumarno dari Fakultas Ilmu Budaya USU Medan menyampaikan Sejarah singkat Perkebunan Indonesia pada masa lalu.

Menurutnya, dalam sejarah Perkebunan Indonesia sampai tahun 2014 saat ini sekitar 2. 126.632,16 hektar lahan di Sumut, 10,85 persen dari area Perkebunan secara nasional merupakan lahan milik Pemerintah yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ) seperti, PT. Perkebunan Nusantara, PTPN 2, PTPN 3 dan PTPN 4 serta Perusahaan Perkebunan Nasional milik swasta dan asing.

Kemajuan Perkebunan di Indonesia memang didorong oleh kaum kapitalis pada masa dahulu yang mendatangkan berbagai Suku, Etnis dan Bangsa di Negara lain datang ke Sumatera Utara.

Baca Juga :   Potret Perjalanan Perkebunan Indonesia Dipamerkan

“Sebelum masa di era Zaman Kolonial Belanda, hasil tanaman komoditas yang sangat terkenal dan Primadona pada saat itu adalah Lada. Namun seiring dengan berkembangnya waktu, komoditas tersebut mulai beralih di era Bangsa Belanda datang ke Indonesia membuka Perusahaan Perkebunan Khusus Tembakau di Kawasan DeliSerdang, yang kini dikenal dengan sebutan Tembakau Deli hingga tersohor keseluruh Dunia,” jelas Erond.

Khusus Perkebunan Tembakau diperkenalkan oleh Pioner Tembakau bernama Jacob Nienhuijs, pendiri perusahaan ‘de Deli Maatschappij’ yang artinya perusahaan perkebunan terbesar di Sumatera Utara.

Komoditas Perkebunan pertama dari Sumut mulai berkembang sejak tahun 1863 dan menjadi komoditas paling menguntungkan bagi pemerintah Sumut sampai tahun 1890, sebelum kemudian beralih menjadi Pekebunan Kelapa Sawit.

Pada masa itu, Tembakau Deli yang merupakan hasil Perkebunan adalah menjadi sumber pemicu perekonomian masyrakat khususnya di Sumut. berkembang dari lada. Dan bisa dianggap daun tembakau adalah pemicu ekonomi di Sumut.

“Jadi mulai dari akses Pembangunan Jalan, Transportasi Kereta Api, Rumah Sakit, Air Minum, Telekomunikasi dan Bangunan-Bangunan fasilitas umum lainnya di Kota Medan, merupakan bukti kejayaan Perusahaan Perkebunan, khususnya Tembakau Deli memiliki peran penting mendongkrak ekonomi Sumut,“ tambahnya.

Baca Juga :   Potret Perjalanan Perkebunan Indonesia Dipamerkan

Sementara itu Dr. Suroso Rahutomo yang menjadi pemateri kedua dalam diskusi tersebut, merupakan Peneliti Agronomi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS ) Medan, menyampaikan jika ada berbicara sejarah berarti kita harus berbicara masa depannya. Terutama Kelapa Sawit yang saat memiliki kualitas Nomor 1 di Dunia.

Ia menjelaskan, isu miring yang berkembang saat ini tentang Kelapa Sawit telah berkembang dan masyarakat juga harus mengetahui bahwa Kelapa Sawit juga banyak memiliki nilai positif bagi masyarakat.

Di depan puluhan mahasiswa, Suroso menyampaikan adanya program Oil Palm Sainds Tecno Park ( OSTP ) PPKS Medan dengan konsep memberikan Perspektif lain tentang perkebunan terutama Kelapa Sawit ‎dimasa depan. “Jadi kita ingin mengkoneksikan ide-ide yang ada di perkebunan Kelapa Sawit termasuk teknologinya lebih dekat ke Comunity (Komunitas), dan khusus dalam kegiatan anak muda dapat mengembangkan Enterpreneurship yang langsung berkaitan dengan teknologi-teknologi yang ada dikelapa sawit,” tandas Suroso.

Lanjutnya, peran generasi muda saat ini sangat diperlukan dalam mengangkat hal positif ditengah- tengah masyarakat. Banyak peluang bagi mereka khususnya bagi anak muda yang memiliki komunitas dan berminat untuk berwirausaha terutama untuk menjadi Star up Enterpreneurship yang berbasis teknologi.

Baca Juga :   Potret Perjalanan Perkebunan Indonesia Dipamerkan

“Kita punya teknologinya, kita sediakan fasilitasnya, nanti kemudian bisa menjadi pengusaha yang tangguh,“ ujarnya.

Saat ini ada beberapa teknologi yang sudah didapat dan sudah dijadikan Enterpreneurship seperti, produksi coklat dengan menggunakan Biji Sawit diolah sebagai bahan campuran pembuatan coklat yang dapat dikosumsi dan dijual sebagai sumber pendapatan masyarakat.

Akademisi itu juga mengajak para wirausahawan untuk memakai pupuk yang bersumber dari tanaman Kelapa Sawit. Dan yang paling penting adalah kita harus kampanye tentang sawit itu sendiri, banyak masyarakat yang tidak tau bahwa sebenarnya kelapa sawit memiliki hal yang positip yang bisa dijadikan usaha.

“Kita ingin menawarkan kepada masyarakat umum khususnya anak-anak muda, bagi yang punya ide dan kreatifitasnya dalam mengkampanyekan hlyang positif dan kreatif. Misalnya desain gambar, kerajinan dan lainnya berasal dari limbah sawit. Kita menunggu ide-ide kreatif tersebut dan siap bekerjasama untuk mengembangkan hal tersebut.” tandasnya. (wd-09)

Print Friendly
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top