Hukum

Sidang Pembunuhan di Hotel Helvicona, Terdakwa Pukul Korban Hingga 15 Kali

Matabangsa – Medan: Henderi alias Hendry Gondrong (37) nekat membunuh korban Almithania (34) dengan mencekik leher hingga tak bernapas. Sebelumnya, Hendry Gondrong tak menghiraukan Almithania meminta ampun usai terdakwa mukul bagian bibir hingga 15 kali pukulan. Usai Almithania tak bernyawa, terdakwa menyeret korban dan memasukkan ke dalam ember berisi air tanpa busana.

Hal ini terkuak dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Aisyah saat menggelar sidang perdana pembunuhan keji yang dilakukan Hendry Gondrong di Ruang Cakra I Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (1/8).

Pembunuhan ini terjadi saat keduanya terlibat adu mulut di Hotel Helvicona, Medan Tuntungan pada 6 April 2017 lalu. Hendry Gondrong dan Almithania merupakan teman dekat tapi mesra.

Dalam di dalam hotel, Almithania meminta uang, namun terdakwa belum dapat memberikan dengan alasan belum gajian. Merasa kesal tak diberi uang, Almithania lalu menampir pipir terdakwa sehingga api rokok mengenai bibir terdakwa.

“Kalau tau gini, saya pergi sama om om. Terdakwa menjawab ‘uang saya ada’ lalu korban kembali mengatakan ‘abang bohong, katanya sanggup, taunya gak sanggup. Kalau gak sanggup bilang aja gak sanggup dan aku tau kemampuan abang berapa,” ucap jaksa.

Karena Hendry Gondrong tak mau memberi uang, Almitamia lalu menjambak rambut terdakwa dan memukulnya dengan ikat pinggang sehingga membuat terdakwa kesal. Dan saat itulah terdakwa mulai secara bertahap menghabisi korban.

Setelah mukul bagian muka sebanyak 15 kali, terdakwa lalu mencekik leher korban dengan menggunakan kedua tangannya. Untuk memastikan Almitamia sudah tak bernyawa, terdakwa kembali mengambil ikat pinggang lalu membelitkannya ke leher korban hingga tak bernyawa.

“Namun keadaan korban pada saat itu sudah lemas, dan beberapa menit kemudian korban terjatuh di tempat tidur dan tidak ada perlawanan lagi. Lalu terdakwa mengendorkan tali pinggang yang di leher korban, kemudian terdakwa menarik kaki korban, sehingga korban terjatuh ke lantai,” ucap jaksa dari Kejari Medan ini.

Selanjutnya, Hendry Gondrong kembali membentukan kepala korban sebanyak dua kali lalu menyeretnya ke arah kamar mandi. Setelah sampai di pintu kamar mandi, terdakwa menggendong korban dan memasukkannya korban ke ember yang ada di kamar mandi,

“Posisi kepala korban di bawah, dan kaki korban terlipat, setelah itu terdakwa keluar dari kamar mandi, dan memakai celana dan baju. Lalu Terdakwa keluar dari dalam hotel, dan mengambil tas korban di dalam jok sepeda motor korban,” ucap jaksa.

Dari hasil pemeriksaan luar dan dalam dapat diambil kesimpulan penyebab kematian korban akibat trauma tumpul pada bagian kepala yang menyebabkan pendarahan pada rongga kepala di sertai adanya penekanan pada leher.

Atas perbuatannya, Hendry Gondrong terjerat pasal berlapir yakni Pasal 28 KUHPidana dan Pasal 351 ayat (3) KUHPidana dengan ancaman maksimal hukuman mati.(ase)

Keluarga Korban Mengoceh

Saat Pembacaan dakwaan berlangsung, keluarga korban Almithania yang sengaja hadir kerap mengoceh di persidangan. Mereka mencaci dan masih tidak dapat menerima perlakuan keji terdakwa terhadap keluarganya

“Manusia kau masukkan ember. Binatang kau, kurang ajar. Gaya kau pakai keberatan. Bisa kau nyangkal pembunuh,” ujar seorang perempuan berbaju merah.

Keluarga terdakwa yang juga hadir di persidangan menjadi bahan olok-olokan. Sebab, keluarga korban merasa risih dengan kehadirannya di persidangan. “Walaupun kau lebih tua, aku gak segan sama kau ya. Iya, cara matamu itu nengok. Gak segan aku samamu, kalau mau ribut sini kau,” ujar perempuan berambut sebahu ini.

Di luar sidang, awak media yang mencoba mewawancari keluarga korban juga mendapat imbasnya. Salah seorang laki-laki yang diketahui masih menjadi kerabat Almithania meradang kepada awak media. “Kalau sempat kalian liput keluarga kami, kutuntut kalian,” ujar pria kepada awak media.

Sontak pernyataan itu, mengundang emosi dan hampir terjadi pertikaian. Untung saja keluarga korban meminta awak media dapat memaklumi bahwa laki-laki tadi masih tak dapat menerima kematian keluarganya. “Udah ya bang. Maklumi aja, dia lagi gak tenang hatinya,” ujar seorang wanita paruh baya memisahkan. (wd-09)

Print Friendly
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top