Pers

Ketua Dewan Pers: Media Massa Dipersimpangan Jalan

Matabangsa-Medan : Indonesia sekarang ini negara dengan media terbanyak, yakni 47.000 dan menjadi terbesar di dunia. Hal tersebut dikatakan Yosep Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers Indonesia dalam rangkaian seminar informasi aktual, Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu dengan tema Media Massa VS Media Sosial di Four Points by Sheraton Hotel, Jumat, 27 Oktober 2017.

Yosep mengatakan, sebanyak 2.000 media cetak, namun hanya 321 media cetak yang memenuhi syarat disebut sebagai media profesional, hal tersebut berdasarkan Data Pers 2015.

“Untuk media online, sebanyak 43.300. Namun yang tercatat sebagai media profesional hanya 168 media online. Lalu ada 674 media radio dan 523 media televisi,” ungkap Yosep.

Masalah penegakan etika pers, banyaknya media abal-abal yang mengatasnamakan media, namun yang dihasilkannya bukan produk jurnalistik. “Hal tersebut menjadi peran kontrol sosial melihat hal tersebut agar semakin dihindari.”

Apalagi belakangan ini semakin banyak informasi didapatkan dari media sosial, yang juga tidak bersumber. “Mayoritas wartawan saat ini ternyata memilih jalan paling mudah untuk menulis, menemukan ide berita, sekaligus memverifikasi sebuah fakta hanya dengan mengandalkan sumber media social.”

Baca Juga :   Pemprovsu Raih WTP Dari BPK RI, Sejak...

Karena itu, kita harus paham bahwa yang membedakan media sosial yaitu, bentuknya adalah info media. “Mendapatkan informasi berdasarkan potongan pesan atau kumpulan pesan awal yang diterima seseorang. Sementara, media massa melakukan kumpulan informasi media yang disampaikan kepada publik yang telah dicek kebenarannya dan diverifikasi oleh wartawan,” ungkapnya, sekaligus menjelaskan bahwa peran dewan pers, mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada berita-berita yang tidak terverifikasi. Mengembalikan otoritas kebenaran faktual media arus utama. Serta mengembalikan kepercayaan pada profesi jurnalis.

Sata ini, yang masuk media massa adalah media cetak, televisi, media online sedangkan yang masuk media social adalah facebook, whatsapp, line, path, instagram. Media massa diketahui siapa penanggungjawab, memiliki badan hukum, alamat yang jelas dan wartawannya telah mendapat pendidikan dan pelatihan jurnalistik.

Setiap media yang lolos verifikasi, kata dia, berhak difasilitasi atau dimediasi Dewan Pers jika mengalami permasalahan atau sengketa mengenai pemberitaan, dan diselesaikan dengan Undang-undang Pers.

Melalui verifikasi ini, Dewan Pers juga memastikan komitmen pengelola media dalam menegakkan profesionalitas dan perlindungan terhadap wartawan. Selain itu, melalui pendataan atau verifikasi perusahaan pers, Dewan Pers ingin mendorong penguatan media pers dan positioning media mainstream dalam memasuki era konvergensi media.

Baca Juga :   Wagubsu Minta Perkuat Gugus Tugas Cegah Perdagangan Orang

Disebutkannya, verifikasi ini merupakan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers untuk mendata perusahaan pers. Yosep mengatakan bahwa pihaknya cukup prihatin dengan banyaknya media atau wartawan yang disebut abal-abal karena tidak didasari profesionalisme.

Keberadaan media atau wartawan abal-abal tersebut kerap mencoreng profesi wartawan maupun media profesional seperti menerbitkan informasi yang tidak sesuai dengan kode etik.

Bahkan, kata dia, tidak jarang oknum wartawan abal-abal ini melakukan tindak pidana berupa penipuan dan pemerasan.

Sebelumnya, Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, mengatakan bahwa media massa mempunyai peran dan kontribusi besar bagi pembentukan karakter bangsa, yaitu jujur, suka menolong, menjunjung tinggi kebenaran, menegakan keadilan dan bertanggung jawab.

Karena itu, ia menyatakan sangat setuju dengan program Dewan Pers dalam hal melakukan verifikasi terhadap media massa, baik media cetak maupun media elektronik dan media online.

“Saat ini kita dituntut dengan “good governance”. Media juga harus “good media” dan masyarakatnya juga harus “good people” agar selaras,” ujarnya.

Baca Juga :   Gubsu Erry Himbau KDH Dukung Karang Taruna untuk Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan

Seminar sehari yang diikuti sejumlah insan pers dan mahasiswa itu, juga menghadirkan narasumber sekaligus pemateri, yaitu dosen pasca sarjana UI Dr Irwansyah, MA, dan pengamat pers asal Sumut, J Anto.(dave)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top