Kesehatan

Tiap Bulan Ditemukan Kasus Baru HIV, Pada Anak

Matabangsa-Medan:  Dokter spesialis anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan, dr Rita Evalina Rusli MKed (Ped) SpA(K) mengungkapkan jika pihaknya setiap bulan selalu menemukan kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada anak.

dr Rita mengatakan, 90 persen infeksi dan penularan HIV pada anak ini terjadi, akibat dari penularan ibunya.Retrovirus tersebut, kata dr Rita, menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menimbulkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Sebanyak 20 hingga 50 persen ibu yang positif HIV dan hamil akan menularkan virus itu kepada bayi yang dikandungnya.

“Kasus HIV anak di Medan dan Sumatera Utara memang cukup banyak. Hampir setiap bulan, di RS ini ditemukan kasus baru. Anak HIV yang rutin kontrol dan mendapat ARV  teratur, sejauh ini kualitas hidupnya cukup baik,” ungkapnya kepada wartawan di Medan, Kamis 26 Oktober 2017.

Lebih jauh dr Rita menjelaskan, ada empat sumber penularan utama HIV yang perlu diwaspadai, yakni pasangan yang berganti-ganti, pengguna narkoba suntik, transfusi darah dan dari ibu ke anak. Penularan dari ibu kepada bayinya sudah terjadi sejak saat dalam kandungan, yakni 5 hingga 10 persen. Sedangkan selama proses melahirkan sebesar 10 hingga 20 persen serta melalui ASI sebesar 5 hingga 20 persen.”Untuk mencegah terjadinya HIV pada anak harus dicegah penularan HIV kepada wanita usia produktif,” jelasnya.

Untuk pencegaha, kara dr Rita, ada empat cara yang harus dilakukan. Di antaranya, pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi, pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan positif HIV, pencegahan penularan HIV dari ibu yang positif HIV dan sedang hamil kepada bayi yang dikandungnya. Lalu memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu dengan HIV beserta anak dan keluarganya.

“Dengan melakukan upaya tersebut disertai pengobatan jangka panjang, teratur dan disiplin dari ibu hamil yang positif HIV, maka penularan dari ibu ke anak bisa diturunkan hingga menjadi 1 hingga 2 persen,” ujarnya.

Bila seorang ibu hamil dicurigai terinfeksi HIV, sambungnya, maka ibu harus diperiksa untuk memastikan positif atau negatif. Jika terbukti positif, segera diberikan obat Anti Retro Virus (ARV) agar perkembangan virus bisa ditekan, sehingga kemungkinan penularan ke anak lewat plasenta bisa diminimalisir.

Begitupun pada anak, setelah anak lahir, maka segera dipastikan tertular HIV atau tidak. Jika positif maka harus diberikan ARV. Pada kondisi tidak hamil, bila seorang wanita terbukti positif HIV,  pemberian ARV tergantung sampai kerusakan sistem imun yang sudah terjadi.

“Biasanya anak terinfeksi HIV datang dengan keluhan sering demam, gizi buruk, sering diare, pembesaran kelenjar getah bening, tuberculosis, mulut berjamur dan radang paru. Pada kondisi ini, dokter mulai curiga kemungkinan terinfeksi virus tersebut,” paparnya.

Untuk itu, ia mengimbau perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikannya. Bila terbukti infeksi, maka ARV harus diberikan secara teratur, dengan harapan Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) dan Anak Dengan HIV AIDS (ADHA) dapat hidup normal seperti orang atau anak-anak lainnya.”Sampai sekarang belum ada bukti bahwa ARV bisa dihentikan pada seseorang, artinya ARV akan dikonsumsi seumur hidup,” tutupnya. (BS)

 

 

Print Friendly
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top