Pendidikan

Mental Inlander, Kita Belum Beranjak Meninggalkan Kebodohan

Matabangsa – Medan : Kita belum beranjak meninggalkan kebodohan. Sebab, pendidikan di Indonesia dengan sengaja ditelantarkan dari satu rezim ke lain rezim. Ini menandakan masih melekatnya ‘Mental inlander’.

“Bukti pertama untuk itu, pada tahun 1979 Indonesia mengirim guru dalam jumlah yang besar untuk membantu pembangunan pendidikan di Malaysia. Tetapi tidak sampai tiga dasawarsa, Indonesia ketinggalan jauh dari malaysia. Kini negara Malaysia banyak mendidik para dosen dan  mahasiswa tingkat doktoral untuk mendapatkan titel akademik dalam dunia pendidikan. Bagaimana ini semua bisa terjadi ?” tanya Anwar Bakti, pengamat pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kepada wartawan ketika ditemui, Rabu, (14/2/2018).

Lebih lanjut dijelaskan Anwar, bahwa hal tersebut menandakan bahwa pemerintah tidak perduli dan pendidikian itu cendrung dipolitisasi.

“Pendidikan selalu dipolitisasi. Pemerintah selalu merasa tidak punya tanggung jawab penuh. Karena, lembaga pendidikan milik swasta lebih banyak dari pada milik pemerintah untuk semua jenjang,” jelas alumnus Muallimin Yogyakarta ini.

Padahal, Anwar menyebutkan, untuk pendidikan telah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar 20 persen. Akan tetapi  seolah tidak memberi angin segar bagi dunia pendidikan.

“Meskipun telah ditetapkan jumlah anggaran pendidikan tidak boleh kurang  dari 20 persen dari APBN dan APBD, tetapi pemanfaatannya tidak tepat. Malah diduga dikorupsi,” sebutnya.

Kini, Anwar menerangkan,  santer isu akan dibuka Perguruan Tinggi (PT) asing di Indonesia dan pemerintah merasa sudah menempuh jalan yang benar untuk akselerasi pembangunan indonesia.

“Tetapi menurut Saya itu adalah sebuah cara dari orang yang berpenyakit inlander, menyerahkan Indonesia bulat- bulat ketangan asing. Sama terkutuknya dengan membagi bagi sumber daya indonesia untuk dieksploitasi  tangan asing atas kepentingan uang receh,” terang ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Medan priode 2010 – 2015 ini.

Selain itu, kata Anwar,  belum lagi cerita obsesi para inlander dengan gagasan Word Class Universiti yang menurut saya mekanisme untuk lebih menjerat Indonesia sebagai  bulan- bulanan negara asing.

“Saya merasa negeri ini telah merendahkan hasrat bangsa untuk maju sebagaimana yang tertuan dalam syair lagu kebangsaan bangun jiwanya bangun badannnya,” tandasnya. (red)

To Top