Advetorial

Melalui MTQ ke 51 Kota Medan: Jadikan Al Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan Untuk Membentuk Masyarakat Kota Medan yang Religius

Matabangsa-Medan:  Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-51 Tingkat Kota Medan dibuka oleh Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi di lahan Eks Taman Ria Jalan Gatot Subroto Medan, Sabtu (3/3/2018) malam.

Pembukaan MTQ itu turut dihadiri Wakil Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi, Ketua DPRD Medan Henry Jhon Hutagalung, Wakil Ketua DPRD Medan H Iswanda Nanda Ramli. Ketua TP PKK Kota Medan Hj Rita Maharani Dzulmi Eldin SH, Wakil Ketua TP PKK Hj Nurul Khairani Lubis, Dandim 0201/BS Kol Inf Bambang Herqutanto serta unsur Forkopimda Kota Medan, pimpinan OPD, camat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta ibu-ibu pengajian.

Berkaitan dengan penyelenggaraan MTQ ini, Wakil Ketua DPRD Medan H Iswanda Nanda Ramli mengharapkan agar masyarakat Kota Medan dapat menjadikan Al Qur’an sebagai ilmu pengetahuan, untuk membentuk dan membangun Kota Medan menjadi kota yang masyarakatnya religius.

“MTQ ini memiliki banyak manfaat, diantaranya dapat meningkatkan pemahaman, penghayatan sekaligus pengamalan isi dan kandungan yang tersurat maupun tersirat dalam Al Qur’an agar dapat diamalkan dalam perjalanan hidup kita didunia,” kata H Iswanda.

Melalui MTQ ini, Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) DPRD Kota Medan Hj Hamidah berharap, penyelenggaraan MTQ yang dilaksanakan meriah dan sukses setiap tahun ini, dapat menjadi forum silaturahmi yang penuh mengandung nilai-nilai  Ukuwah Islamiyah agar dapat memperkuat persaudaraan Kaum Muslimin Muslimat sebagai sesama warga  Kota Medan.

Menurut Hj Hamidah, politikus muslimah yang akrab dengan konstituennya di Dapil IV (Daerah Pemilihan IV meliputi Kecamatan Medan Timur, Medan Perjuangan dan Medan Tembung) penyelenggaraan MTQ yang religius ini,  harus terwujud sebagai sarana dakwah dan syiar keagamaan yang efektif dan bermanfaat bagi masyarakat secara umum. MTQ harus mampu dan terbukti menjadi kekuatan besar mendorong masyarakat berbuat lebih baik.

“Cukup urgensi, kita harapkan bagaimana penyelenggaraan MTQ ini,  bisa lebih menggairahkan masyarakat untuk senantiasa mempelajari ,memahami dan mengamalkan Wasiat Al Qur’an sesuai tuntunan dan petunjuk ketika menempuh perjalanan hidup didunia,” ujarnya.

Guna mencapai sasaran tersebut, Hj Hamidah sangat sepakat upaya Pemerintah Kota Medan yang rutinitas setiap tahun melaksanakan MTQ. Sasaran ini sangat berkorelasi dengan program ‘Maghrib Mengaji’ yang telah dilterapkan PemkoMedan disetiap kecamatan bahkan sampai ke tingkat kelurahan dan lingkungan, pada wilayah kerja Pemerintah Kota.

“Program Maghrib Mengaji ini harus diapresiasi dengan semangat yang mengebu-gebu oleh semua pihak, agar Pemko dapat terus melaksanakan program yang sangat mulia ini secara kontinyu.  Sehingga dapat diharapkan, dari sanalah nanti muncul bibit qori dan qoriah untuk diikutsertakan dalam MTQ,” kata politisi PPP yang duduk di Komisi A DPRD Kota Medan ini.

“Kegiatan MTQ ini, memang sudah harus dibiasakan secara menetap. Karena dengan begitu, akan tumbuh sikap pada generasi muda untuk lebih mencintai Alquran. Jika isi kandungan Alquran sudah mengakar, maka akan lebih mudah untuk mengamalkannya, sehingga muncul generasi muda Islam yang berakhlakul karimah,” ungkap Hj Hamidah.

 

Laporan Ketua Panitia MTQ ke 51 Kota Medan

Sementara itu, Ketua MTQ ke 51 Kota Medan, Asisten Pemerintahan Setdakot Medan Musadad Nasution dalam laporannya mengatakan, tujuan dilaksanakannya MTQ ini, untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan merealisasikan ajaran agama dalam masyarakat sesuai dengan tuntunan Al Qur’an.

Musadad menjelaskan, MTQ di tahun 2018 ini diikuti 799 orang peserta yang merupakan utusan dari kecamatan se-Kota Medan, utusan Madrasah Aliyah Negeri/Swasta khusus cabang Fahmil Qur’an dan Syarhil Qur’an. “799 orang peserta akan mengikuti perlombaan selama sepekan, mulai 3 sampai 10 Maret,” kata Musadad.

Secara rinci dijelaskannya, dalam MTQ tahun ini dimusabaqahkan 7 cabang yaitu, Cabang Mujwwad putra-putri diikuti sebanyak 235 peserta. Kemudian Cabang Hifzil Qur’an putra-putri sebanyak 134 peserta, Cabang Fahmil Qur’an diikuti sebanyak 25 regu (75 peserta), Cabang Syarhil Qur’an sebanyak 31 regu (93 peserta), Khattil Qur’an putra-putri 84 peserta, Tafsirul Qur’an putra-putri sebanyak 32 peserta, Musabaqah Makalah Ilmiah Al Qur’an putra-putri sebanyak 31 orang.

Musadad juga menjelaskan, Kota Medan telah tiga kali berturut-turut menjadi juara umum MTQ Tingkat Provinsi Sumatera Utara. “Alhamdulillah, tahun ini Kota Medan dipercaya sebagai tuan rumah pelaksanaan MTQ Tingkat Nasional ke-27. Untuk itu mari kita sambut dan dukung penuh sehingga berjalan sukses dan lancar,” pungkasnya.

Pembukaan MTQ ke-51 Tingkat Kota Medan tahun 2018 ini ditandai dengan pemukulan bedug oleh Wali Kota bersama unsur Forkopimda. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan piala bergilir dari Camat Medan Area Ali Sipahutar selaku juara umum tahun lalu kepada Wali kota. Selanjutnya Wali Kota menyerahkan piala bergilir tersebut kepada Ketua Panitia MTQ untuk diperebutkan kembali. Pada malam pembukaan itu juga dilanjutkan dengan pelantikan dewan hakim yang dilakukan langsung Wali Kota.

Selanjutnya, Kecamatan Medan Area kembali keluar sebagai juara umum MTQ ke-51 Tingkat Kota Medan tahun 2018 di Lahan Eks Taman Ria Jalan Gatot Subroto Medan, Sabtu (10/3/2018) malam. Ini merupakan kemenangan kedua kalinya yang diraih secara berturut-turut sejak 2017. Selain meraih piala bergilir, Kecamatan Medan Area juga mendapatkan uang pembinaan. Selanjutnya, Kecamatan Medan Marelan ditetapkan menjadi tuan rumah pelaksanaan MTQ ke-52 Tingkat Kota Medan tahun 2019.

Diposisi runner-up berhasil direbut juara Kecamatan Medan Barat, sedangkan Kecamatan Medan Selayang menempati peringkat ketiga. Lokasi acara penutupan dipenuhi pengunjung, tercatat sekitar 10.000 pengunjung yang berasal dari seluruh penjuru Kota Medan.

Prosesi penutupan ditandai dengan penurunan bendera disertai penyerahan piala yang dilakukan langsung Wali Kota didampingi Wakil Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi didampingi Wakil Ketua DPRD Medan Iswanda Nanda ramli beserta unsur Forkopimda Kota Medan.

Berkaitan dengan itu, Ketua Fraksi PKS DPRD Medan H Jumadi, S.PdI melalui MTQ ke 51 ini mengharapkan, masyarakat dapat menghayati pengamalan ajaran Agama Islam sebagaimana wasiat dan amanah yang telah ditegaskan didalam Al Qur’an.

Al Qur’an harus dapat menjadi motivasi hidup bagi masyarakat Islam Kota Medan, selain mencintai dan memedomani Al Qur’an dalam melangkah kehidupan. Nuansa Kota Medan yang masyarakatnya religius harus dipertahankan dan terus ditumbuhkembangkan.

Dikatakannya,  MTQ jangan hanya menjadi sebuah seremoni dan sebatas wahana rutin setiap tahun, tetapi harus ada perubahan dan peningkatan pengamalan ajaran Al Qur’an ditengah-tengah masyarakat Kota Medan yang terwujud dalam prilaku masyarakat.

Terjadi peningkatan Ukhuwah Islamiyah dan silaturahmi antara sesama, sehingga Al Qur’an yang mulia tetap menjadi motivasi, pedoman dan pegangan hidup bagi Masyarakat Islam.

Jumadi berpesan, kepada pemenang MTQ jangan berbangga hati berpuas diri, karena ke depan, tantangan yang lebih berat besar yakni MTQ tingkat Provinsi Sumut maupun tingkat nasional sudah menanti. Pertahankan prestasi yang sudah ada, asah keterampilan ilmu, kembangkan minat membaca maupun mengajarkan ilmu membaca kepada yang belum bisa membaca Al Qur’an.

Sangat penting dan utama mengajak saudara-saudara Muslim untuk mengamalkan kewajiban-kewajiban yang terkandung di Al Qur’an. Tidak hanya sebagai bekal pada lomba untuk jenjang yang lebih tinggi, tetapi juga sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan dunia dan akhirat secara seimbang.

“Pada MTQ Tingkat  Provinsi kabupaten/kota se-Sumut, kurun waktu tiga tahun terakhir, Kota Medan dengan kemampuan para qori yang handal mampu keluar sebagai juara umum berturut-turut. Karena itu terus giat belajar persiapkan diri menghadapi tantangan itu. Karena hal ini bukan pekerjaan mudah dan harus dilakukan dengan kerja keras,” ujar Jumadi.

Kepada jajaran pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kota Medan, para pembina, qori dan qoriah Jumadi juga berharap, jangan berpuas diri dengan seluruh prestasi yang sudah diraih selama ini.

“Cepat merasa bangsa dan berpuasdiri, itu harus dihindari, karena masih banyak Qori Qoriah yang lebih baik lagi. terus belajar tingkatkan kualitas. Bagi Qori maupun Qoriah yang belum berhasil meraih juara pada MTQ ke 51 ini, tidak berkecil hati dan putus asa, karena penyelenggaraan ini bukanlah “akhir.” Terus giat belajar, uber prestasi,” ajak Jumadi.

Menurut Jumadi, kepesertaan MTQ memiliki jenjang prestasi yang cukup panjang dan penting bagi masyarakat,  khususnya masyarakat Islam, sebagai syiar Islam, dakwah juga sebagai asah kemampuan, uji potensi diri, memperbaiki prilaku dan moralitas.

MTQ yang difasilitasi Pemko Medan, kata Jumadi,  memegang amanah yang cukup besar, termasuk pendanaan penyelenggaraan. Uang rakyat dari rakyat untuk rakyat harus kembali kepada rakyat sesuai proprorsinya. Jangan sampai menimbulkan fitnah dan praduga miring. Pemko harus profesional.

Selain itu Jumadi menyarankan, penyelenggaraan MTQ memilih lokasi yang tidak menimbulkan gangguan kemacetan lalulintas dan gangguan kenyamanan bagi masuarakat. Tekait hal ini Tokoh Masyarakat Davil IV ini juga menyarankan Pemko Medan ketika menyelenggaraan MTQ, dapat bekerja sama dengan pihak ke tiga.

Kepada dewan juri MTQ, meskipun punya hak progratif (hak mutlak) dan tugas kewajiban yang cukup berat Jumadi berharap, bertindak lebih profesional dan transparan. Karena kemampuan tiap-tiap individu Qori dan Qoriah memiliki klasifikasi ilmu dan latar belakang yang berbeda-beda .

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatnya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al Qur’an Al Anfal Ayat 2)

Ketua Komisi B DPRD Medan Rajuddin Sagala yang salah satunya membidangi agama menjelaskan, Musabaqah Tilawatil Qur‟an (MTQ) adalah suatu jenis lomba membaca Al-Qur‟an dengan mujawwad dan murattal, yaitu bacaan Al-Qur’an yang mengandung nilai seni baca dengan tajwid dan adab membaca menurut pedoman yang telah ditentukan.

“Tilawah identik dengan kata Qira’ah yang mempunyai arti bacaan atau Qiraatul Qur’an bi al-naghan membaca Al Qur’an dengan lagu. Jumlah umat Islam yang dapat memahami AlQur’an sebagai kitab suci dan mukjizat sedikit, sebagian besar tidak mengetahuinya, namun mereka kaum Muslimin Muslimat senang membaca Al Qur’an, meskipun minim pengetahuannya tentang Ilmu Membaca Al Qur’an,” ujarnya.

Menurut Rajudddin, Al-Qur’an memiliki dimensi luas yang menimbulkan tiga hal yaitu seni, ilmu dan agama. Sehingga dengan seni hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup semakin terarah, dengan agama hidup semakin bermakna.

Tilawah Al-Qur’an mendapat perhatian yang besar dari kalangan umat Islam karena Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup untuk dibaca, dipelajari, dipahami, dan diamalkan. Untuk mencapai tujuan tersebut banyak cara dan usaha yang telah dilakukan umat Islam salah satunya dengan mengadakan MTQ.

MTQ kini telah membudidaya di masyarakat, kata Rajuddin, baik tingkat Nasional maupun Internasional. Hal ini merupakan media dan sarana dakwah yang cukup efektif, tidak kurang dari 30 propinsi di seluruh Indonesia dan 21 Kecamatan Kota Medan, turut ambil bagian baik sebagai peserta maupun sebagai penyelenggara karena MTQ diadakan secara bergilir dari satu kabupaten/kota dan Provinsi ke Provinsi lain.

“MTQ merupakan suatu manifestasi budaya Islam, bentuk asalnya membaca al-Qur’an merupakan suatu ibadah dan pengabdian seorang hamba kepada Allah.

Firman Allah dalam wujud al-Qur’an al-Karim sangat agung untuk didekati manusia, karena mengandung kemukjizatan dalam berbagai dimensi. Tak ada yang bisa menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan (QS. Al Waqiah: 77-80),” jelasnya.

Dikatakan Rajuddin, segala pendekatanpun dilakukan dengan membacanya, menghafalnya, dan mempelajarinya. Qurra (jamak Qori) Huffazh (jamak Hafizh) selalu tampil dikalangan kontemporer berupaya menggali maknanya dengan menyusun kitab-kitab tafsir, serta ilmu-ilmu al-Qur’an dengan memakai berbagai perangkat keilmuan.

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dan membaca Al-Qur’an merupakan pintu masuk untuk menyelami kedalaman Al-Qur.an, mengarungi luasnya lautan, maknanya yang tiada bertepi.

Diungkapkannya, bila lantunan firman Allah dibawakan dengan suara yang merdu dan lagu yang indah sungguh tidak jemu mendengarnya. Apresiasi masyarakat yang hangat  kemudian MTQ menjadi pesta budaya keagamaan yang penuh makna.

Maka pemerintah Indonesiapun, tutur Rajuddin, sejak 1968 mengakomodasinya menjadi salah satu program rutin negara sebagaimana negara-negara muslim lainnya didunia, karena melalui al-Qur’an itulah seluruh umat Islam bersatu padu terpanggil tanpa memandang faham atau aliran yang dianut.

Menurut Rajuddi lagi, membaca Al-Qur’an sudah termasuk amal yang sangat mulia dan mendapat pahala yang berlipatganda, sebab yang dibacanya adalah kitab Allah SWT. AlQur’an sebagai bacaan bagi orang mukmin, baik dikala senang maupun dikala susah, dikala gembira atau sedih, membaca Al-Qur’an bukan saja menjadi amal atau ibadah, tetapi juga menjadi obor dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.

Bacaan Al-Qur’an yang dapat melunakkan hati, jelas Rajuddin, adalah bacaan Al-Qur’an yang baik bertajwid dan berirama yang merdu. Bila Al-Qur’an dibaca dengan lidah yang fasih, dengan suara yang baik dan merdu, maka akan memberi pengaruh “baik/sejuk” kepada jiwa orang yang mendengarkannya.

“Membaca Al-Qur’an terkandung unsur ta‟abbud iartinya membaca Al-Qur’an harus mengikuti 32 ketentuan-ketentuan yang berlaku menurut Shahibul Kalamnya. Sahabat nabi, tabi‟in, dan Imam-imam qira’at telah ber itjma’ mengenai bolehnya membaguskan suara dalam membaca Al-Qur‟an dengan suara yang baik,” pungkas Rajuddin. (David Susanto)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top