Medan

Kampoeng Djadoel Ramah Medsos Dan Ramah Untuk Belajar Membatik

KOTA SEMARANG berbenah agar warganya membangun perkampungan ramah media sosial. Setelah Kampoeng Pelangi yang mendunia. Ada juga Kampoeng Djadoel lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Kampoeng Batik karena berlokasi di kawasan Kampung Batik Tengah.

Kampoeng Batik lebih kepada pengungkapan dan pengenalan sejarah diawali dengan lukisan murah batik, mural wayang beber dan rumah produksi batik. Lokasi tidak jauh dari Pasar Johar Semarang dan Kota Lama, terdapat Bundaran Bubakan dan SPBU, terdapat jalan masuk dengan gapura besar bertuliskan Kampung Batik Semarang.

Saat kita melewati Gapura sekira 50 meter kita menyusuri gang arah kiri dengan petunjuk dinding-dinding yang banyak dihiasai polesan cat bertema batik. Suasana kampung batik pun terbilang sejuk dan bersih.

Kampoeng Batik sudah ada sejak tahun 1970-an, mulai hidup kembali sejak lukisan dinding seorang warga viral di media sosial. Luwiyanto namanya.

Luwiyanto mulai menyadarkan kembali beberapa warga di lingkungannya untuk menghidupkan kembali Kampoeng Batik secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. Upaya meyakinkan warga berhasil, mulai banyak turis lokal datang untuk belanja dan belajar membantik.

Baca Juga :   Gubsu Edy Rahmayadi Bersemangat Genjot Budidaya Bawang Putih di Humbang Hasundutan

Upaya pertama dilakukan menyamakan visi dan misi warga Kampung Batik Tengah RT 04/RQ02 Kel. Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur. Maka lahirlah visi, misi dan motto Kampoeng Djadoel yang ditempelkan di dinding rumah warga.

Tokoh masyarakat setempat Dwi Christanto yang juga Ketua RT 04 RW II Kelurahan Rejo Mulyo Kecamatan Semarang Timur menceritakan empat tahun lalu daerahnya dikenal dengan wilayah kriminal dan kelam karena lampu tidak ada dan sering banjir.

Kampoeng Batik ini hanya dihuni 24 kepala keluarga dan hanya 12 rumah yang aktif memproduksi batik, kata Dwi kepada wartawan Unit Pemko Medan, Rabu, 28 November 2018, ketika mengunjungi Kampoeng Djadoel.

“Daerah ini dikenal kampung kriminal. Artinya, kampung ini sering terjadi perampokan dan penjambretan karena minimnya lampu penerangan ditambah dengan sering banjir sehingga membuat kampung ini kumuh,” kata Dwi.

Dwi menceritakan akhir Desember 2016 masyarakat di kampung ini bersepakat untuk merubah paradigma Kampoeng Djadhoel  ini yang awalnya wilayah kumuh dan kriminal menjadi wilayah wisata ramah media sosial dengan ikon Kampung Batik.

Baca Juga :   Tabrak Warung dan Pengendara Motor, Supir Avanza Kabur

Meski sudah ada bantuan dari CSR sebut Dwi ternyata belum maksimal untuk membantu para pengrajin batik, akhirnya masyarakat berinisiatif untuk membuat kotak pemeliharaan atau kotak bantuan bagi pengunjung yang datang.

Selain membatik kata Dwi ada juga masyarakat yang kreatif membuat foto mural yang sudah viral di media sosial dan media massa dan ramah media sosial.

Dwi mengharapkan agar Pemko Semarang lebih memperhatikan Kampung Djadhoel ini agar perekonomian masyarakat semakin meningkat. Intinya, Kampung Batik ini ramah instangramable dan ramah untuk belajar membatik.

Sementara, Kasubbag Humas Pemko Medan, Hendra Tarigan, saat ditanya tujuan mengunjungi Kampoeng Batik mengatakan, apa yang dilakukan Pemko Semarang dapat menjadi inspirasi dan diadopsi Pemko Medan untuk diterapkan Kota Medan.

“Kampoeng Batik ini sangat menginspirasi kita. Apa lagi dengan adanya Sentra Batik Medan yang diperkenalkan Ketua TPPK Ibu Hj. Maharani dapat meniru tindakan Kampung Batik Semarang agar mampu mendatangkan wisatawan,” pungkas Hendra.(dave)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top