Headline

Ketum PSSI Edy Rahmayadi: “Saya Pertahankan Sampai 2020”

Matabangsa-Medan: Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi yang juga Gubernur Sumatera Utara menyampaikan sejumlah data dan program organisasi dipimpinnya itu, pada silaturrahmi dengan insan pers di Medan, Rabu 5 November 2018.

Edy Rahmayadi juga menegaskan dirinya akan mempertahankan jabatan Ketua Umum PSSI hingga habis periode pada 2020. “Saya akan pertahankan sampai 2020.”

Menurutnya bicara tentang PSSI tak bisa hanya sambil lalu saja, namun harus turut disertai dengan sejumlah data dan program.

Hal itu pula yang menjadi alasan baginya tak ingin bicara banyak saat dicecar sejumlah wartawan baru-baru ini, mempertanyakan tentang prestasi timnas Indonesia.

“Makanya saya cuma bisa bilang wartawannya harus baik, biar timnasnya baik, tapi justru saya dibully karena pernyataan singkat itu,” kata Edy.

Terkait hal itu pula Edy ingin bertemu dengan sejumlah insan pers di Sumut guna mengungkap kondisi nyata persepakbolaan Indonesia.

Kondisi itu pula yang membuatnya bertekad tetap mempertahankan jabatan Ketua Umum PSSI di tengah desakan mundur.

Menurut mantan Panglima TNI Angkatan Darat ini, jika dibanding negara lain, kondisi sepakbola Indonesia jauh tertinggal.

“Ketertinggalan itu bahkan saya paparkan di hadapan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bersama 23 menteri dan juga dalam rapat komisi di DPR-RI,” kata Edy.

Bahkan dibanding Malaysia dan Singapura, kata dia Indonesia sangat jauh tertinggal baik dari jumlah pemain, pelatih, wasit maupun sarana stadion dan lainnya.

Berdasarkan data tahun 2016, papar Edy untuk jumlah pemain, Indonesia sangat minim di banding sejumlah negara lain.

Belanda memiliki 1.200.000 pemain dari 16.700.000 jiwa penduduk. Spanyol memiliki 4.100.000 dari 46.800.000 jiwa. Jerman memiliki 6.300.000 pemain dari 80.700.000 jiwa penduduk.

Thailand 1.300.000 pemain dari 64.600.000 jiwa penduduk. Singapura memiliki 190.000 dari 4.500.000 jiwa. Sementara Indonesia hanya memiliki pemain sebanyak 67.000 dari 250.000.000 jiwa.

Baca Juga :   Gubsu Erry Lepas Kapal Kemanusiaan ke Somalia

Selain itu, jumlah pelatih yang dimiliki Indonesia juga jauh tertinggal. Spanyol memiliki 22.000 pelatih, Jerman 28.668 pelatih, Thailand memiliki 1.100 pelatih, Malaysia memiliki 1.810 pelatih, Singapura memiliki 170 pelatih dan Indonesia memiliki 197 pelatih.

Sementara untuk kepemilikan wasit juga Indonesia dikatakannya masih minim. Spanyol memiliki 47 wasit, Jerman 43, Belanda 41, Thailand 19, Malaysia 26, Singapura 15, Vietnam 19 dan Indonesia hanya memiliki 5 orang wasit. “Itu pun saat ini yang aktif tinggal 2 wasit,” ungkapnya.

Begitu juga untuk kondisi sarana dan prasarana seperti kepemilikan stadion, Edy mengungkapkan jumlah sarana yang dimiliki Indonesia juga sangat minim. Menurutnya, Spanyol memiliki 109 stadion berstandar FIFA, Belanda 45 stadion standar FIFA dan 1.450 lapangan artifisial. Jerman 42 stadion standar FIFA dan 1.080 lapangan artifisial, Singapura memiliki 21 stadion standar FIFA dan Indonesia hanya memiliki 2 stadion standar FIFA dan 23 lapangan yang layak pakai.

“Stadion Teladan yang kita bangga-banggakan itu, tidak masuk dalam lapangan yang layak pakai itu,” kata Edy.

Karena itulah, Edy mengharapkan agar media dapat memberikan dukungan kepadanya untuk bersama memajukan PSSI.

Dalam kesempatan tersebut, Purna Jenderal Bintang tiga ini menampik adanya isu kedekatan dirinya dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Ratu Tisha.

“Sekarang di-bully lagi karena dibilang punya kedekatan dengan Ratu Tisha. Pertimbangannya, saya punya anak, saya punya istri, pasti kan saya tak akan pacaran sama kau Tisha. Yang untung saya dia yang rugi. Dia cantik, belum punya suami, anak saya 3,” katanya.

Baca Juga :   RUPS 2017, Gubsu Harapkan Manajemen PT Dhirga Surya Optimalkan Pengelolaan Aset

Edy bahkan sudah menduga isu ini akan menyeruak di kemudian hari sejak 2016 mereka dilantik.

Sehingga dari awal kepengurusan ia telah menegaskan tak akan jatuh cinta pada Tisha.

“Pertama dia dilantik, dia duduk di meja saya. Saya panggil, kan itu dulu kata-kata yang saya sampaikan. Aku tidak akan pernah jatuh cinta sama kau, kau masih ingat kata-kata itu,” katanya sambil menunjuk Tisha yang berada di bangku dengan anggukan.

Bahkan, pria yang menjabat Gubsu ini sempat bercanda bila ada isu tersebut semua laki-laki malah akan menjauhi Tisha.

“Hanya saya kasihan sekali sama dia, ada cowok nanti yang suka sama dia takut gara-gara tahu dekat sama saya,” cetusnya.

Bukan hanya itu, Edy juga memuji kinerja Tisha. Bahkan ia juga menginginkan di kongres berikutnya Ratu Tisha menjadi Ketua PSSI yang berikutnya.

“Ini hebatnya salah satu cewek indonesia yang bisa mampu seperti dia. Dia bisa berbicara di depan satu dari Herman yang satu dari Italia, dari manalah orang-orang. Bisa diam mendengarkan Tisha ini ngomong. Saya berharap ketua PSSI ke depan ini dia (Tisha) profesional, tak main-main,” kata Edy.

Sedih Karena Anaknya Marah

Hal ini disampaikan Edy saat mengadakan temu pers bersama wartawan di Aula Raja Inal Kantor Gubernur Sumut, Medan, Rabu (5/12/2018).

Edy mengakui di beberapa minggu terakhir dirinya banyak mendapat hinaan dari masyarakat akibat hasil minor yang diraih Timnas Senior di gelaran AFF lalu.

Pria yang juga menjabat sebagai Gubernur Sumut ini menuturkan bahwa dirinya siap menghadapi semua hinaan, namun yang membuat dirinya sedih adalah karena anaknya yang tak ingin ayahnya dicerca.

Baca Juga :   Penataan KJA di Danau Toba, Ingatkan Jumlah dan Produksi Ikan

“Saya anggaplah kalian presiden biar tak menghina-hina aku. Sedih saya dengarnya, aku kuat. Bintang tiga lo…. Tapi anakku. Aku tak papa, anakku yang marahin aku, ayah sudahlah,” tuturnya dengan nada tinggi.

Ex Pangkostrad ini mengakui dirinya tak sanggup bila anaknya sudah memarahinya. “Kalau anak sudah marah, nunduk saya gini. Sehebat apapun kalian punya hati nurani. Istri masih bisa kita cari lagi, kalau anak enggak ada lagi. Buah hati itu,” tutupnya.

Sementara, Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria yang hadir di kesempatan itu menambahkan, bahwa dalam kondisi serba terbatas tersebut, PSSI berhasil mengukir beberapa prestasi.

Tisha mengatakan bicara PSSI tidak hanya bicara timnas senior putra. Bicara PSSI juga bicara bicara tentang tim sepakbola Putri U16, Putra U16, Putri Senior, Futsal Putra, Futsal Putri, Putra U19, Putra U23 dan Tim Senior Putra. Bicara PSSI juga bicara 5 elemen yakni Tim Nasional, aktivitas bisnis, kompetesi, pengembangan dan organisas

Bahkan, prestasi PSSI yang diraih pada tahun 2018, beberapa di antaranya ada yang baru pertama kali diraih sejak PSSI berdiri.

“Tim putri U-16 debut di AFC sejak pertama kali PSSI berdiri, sedangkan tim putri senior lolos putaran 1 olimpiade,” ungkapnya.

Futsal putra juga memperoleh peringkat 3 AFF Championship, Futsal Putri 8 besar Asia, tim putra putri U-16 berada di peringkat 8 besar Asia, Putra U-23 memperoleh 16 besar di Asian Games, tim sepakbola pantai yang telah diaktifkan kembali sejak 2010.

“Jadi PSSI itu tidak pernah berjalan tanpa arah. Bahkan karyanya pun sudah disiapkan hingga 2045 atau 100 tahun Indonesia Merdeka, karena memang komitmen yang paling penting,” ujarnya.(dave)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top