Ragam

Pemondokan Sistem Zonasi, Buat Calon Haji Merasa di Kampung Sendiri

Catatan Ir. H. Soekirman (TPHD Kloter 7) dari Makkah Al-Mukarromah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kebijakan Pemerintah RI melalui Kementerian Agama yang membuat pondokan jamaah calon haji berbasis sistem zonasi membuat rasa Indonesia sangat kental dan persaudaraan terjalin. Demikian dirasakan para calon haji Kloter 7 (Sergai, Tebing Tinggi dan Nias). Meskipun agak jauh dari Masjidil Haram, tidak ada masalah karena tersedia shuttle bus yang melayani jamaah full 24 jam.

Saya laporkan dari Makkah Al-Mukaromah. Bagi yang sudah pernah berhaji, dapat membandingkan dengan sistem zonasi seolah-olah kita sedang berada di Indonesia, atau daerah kita sendiri. Toko bahan pokok dan berbagai kebutuhan termasuk oleh-oleh tersedia. Semua toko tersebut diberi merk ‘Toko Indonesia’. Bahkan beberapa ada yg mengibarkan bendera merah putih.

Seperti pondokan Kloter 7 yang berlokasi di Sysyah tepatnya Hotel Rehab Al-Mahabbah maktab 117 dengan 15 lantai dihuni selain jamaah calon haji asal Sergai, Tebing Tinggi dan Nias, juga jamaah kloter asal Binjai dan Medan. Kemudian disebelah hotel kami di maktab 116 adalah kloter Medan dan Simalungun. Di depannya adalah maktab 115 pondokan kloter Padang Sidempuan, Tapanuli Tengah dan Sibolga.

Sedangkan di belakang hotel kami adalah maktab 111 tempat menginap jamaah calon haji Sumatera Barat. Pokoknya sekitar pondokan zonasi Sumatera Utara saling berdekatan sehingga suasananya seperti di kampung sendiri.

Toko Indonesia

Hal menarik lainnya bahwa semua pemondokan selalu dilengkapi dengan toko Indonesia yang menjual barang-barang maupun bahan-bahan kebutuhan sehari-hari layaknya di negeri kita. Bagi yang mencoba memasak sendiri beras pandan wangi atau jasmin R 6/kg, sambal terasi R 15/botol, tomat R 6/kg, cabe merah/hijau R 10/kg, kerupuk R 5/bks, pisang ambon R 10/kg, pop mie R 5/gelas, dan bahan-bahan kebutuhan lainnya tersedia.

Demikian halnya dengan obat-obatan ada minyak angin, tolak angin, dan lain-lain. Bagi yang tidak suka masak sendiri, di seputaran maktab ada restoran Indonesia yang menyediakan lontong, soto madura, bakso, nasi campur, nasi pecal, rata-rata R 12/porsi, teh manis panas R 2/gls, juice mangga, lemon R 3/porsi. Semua serasa menu di kampung sendiri.

Namun bagi yang suka jatah makanan dari daker Kemenag sudah cukup lezat dengan menu nasi, daging atau ayam goreng, ikan, telur dadar, serta sayuran seperti terong, sambel tempe dan brokoli. Masing-masing jamaah biasanya diberi satu kotak dengan isi didalamnya berupa teh, kopi, gula dan satu gelas untuk sarapan pagi. Para jamaah juga dimudahkan dengan air panas yang tersedia dispenser masing-masing level hotel.

Di lokasi pondokan sistem zonasi hampir semuanya ada masjid lokal, yg melaksanakan sholat fardu dan ada pula tausyiah tuan Syekh yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Kapasitas masjid masing-masing maktab itu berkisar 500 orang termasuk jamaah perempuan yang berlokasi dilantai atas.

Dekatnya jarak masjid dengan pondokan yang hanya berjarak sekitar 20 m sangat membatu bagi jamaah yang tidak pergi ke Masjidil Haram untuk menunaikan ibadah sholat.

Untuk oleh-oleh seperti kurma nabi, sajadah, pernak pernik, jam tangan, batu cincin, baju gamis, topi lobe, tasbih, mainan anak, dan lain-lain cukup tersedia di toko-toko Indonesia itu. Umumnya para pemilik toko itu adalah orang Arab tetapi mereka sangat fasih berbahasa Indonesia.

Demikian kami laporkan dari Makkah Al-Mukarromah.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.(AMN/*Sugandhi Siagian)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top