Pendidikan

Kaya Tapi Pengemis

Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

Alkisah, pada suatu hari, seorang sufi tampak sedang khusyuk berdoa di dalam masjid. Di sampingnya, ada seorang saudagar kaya yang mengamati. Saudagar itu sangat serius memperhatikan sufi tersebut. Setelah selesai berdoa, saudagar itu kemudian mendekatinya. Sejenak kemudian, si saudagar menawarkan sekantong uang emas.

“Aku tahu engkau ingin menggunakan uang ini di jalan Tuhan. Maka ambillah,” kata sau dagar itu. “Sebentar saudara,” sang sufi kemudian melanjutkan perkataannya dan balik bertanya, “Aku tidak yakin apakah aku berhak mengambil uangmu itu. Apakah engkau orang kaya? Apakah masih banyak persediaan uangmu di rumahmu?”

“Oh, ya, aku masih banyak uang di rumah. Ada seribu keping emas di rumahku,” jawab saudagar itu dengan nada sedikit meninggi. Kemudian, sang sufi bertanya lagi, “Apakah engkau ingin seribu emas lagi?” “O, jelas. Aku ingin seribu ke ping emas lagi. Maka, tiap hari aku berdoa agar aku menghasilkan lebih banyak uang,” kata si saudagar. Setelah itu, sang sufi berkata, “Maaf, aku tidak dapat mengambil uang ini. Seorang yang kaya tidak berhak mengam bil uang dari seorang pengemis.”

Mendengar itu, si saudagar langsung naik pitam. “Bagaimana kau ini! Enak saja kau menyebutku seorang pengemis,” katanya dengan mata melotot. Maka, sang sufi kemudian menjawab dengan nada tenang, “Aku adalah orang kaya karena aku sangat puas dengan apa yang diberikan Tuhan kepadaku. Sementara, kau adalah pengemis karena selalu merasa tidak puas dan selalu meminta lebih dari Tuhanmu.”

Secara lahiriah, saudagar itu kaya dengan limpahan harta, tapi secara batiniyah ia adalah miskin karena merasa kurang dengan harta yang dimilikinya, bahkan merasa haus dan tamak akan harta yang belum diraihkan lagi. Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, tetapi kekaya an itu adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR al-Bukhari no 6.446 dan Muslim no 1.051).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam penjelasannya terhadap hadis ini, “Alhasil, orang yang disifati dengan ‘ghina an-nafs’ (kekayaan jiwa) adalah orang yang qana’ah terhadap apa yang Allah SWT berikan kepadanya. Dia tidak tamak untuk menum puk-num puk harta tanpa ada kebutuhan. Tidak pula dia meminta-minta kepada manusia dengan mendesak. Dia merasa ridha dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya, seakan-akan ia terus-menerus merasa cukup.”

Alangkah bahagia kehidupan orang yang hati, jiwa, dan pikirannya selalu merasa kaya. Mensyukuri nikmat yang ada tanpa terus mengangankan segala yang dipunyai orang. Harta sekadarnya apalagi ber le bih selalu digunakan untuk memacu amal baik dan ibadah. Batinnya tenang karena tidak diperbudak dunia, tetapi justru merajai dunia. Rasulullah memuji pribadi demikian. “Sungguh berbahagia orang yang masuk agama Islam dan diberi rezeki cukup, serta dikaruniai Allah sifat qana’ah atas segala yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim). Wallahu’alam. (Republika.Co.Id/*Sugandhi Siagian)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top