Sumut

Membangun Desa Menata Kota untuk Sumut Bermartabat

Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi dan Wakil Gubernur (Wagubsu) Musa Rajeckshah bertekad mewujudkan Sumut Bermartabat lewat Konsep Membangun Desa Menata Kota.

Fokus membangun desa dan menata kota tersebut  sudah disiapkan Gubsu Edy Rahmayadi, Wagubsu Rajeckshah dan Sekdaprov Sumut Hj Sabrina lewat langkah-langkah konkrit yang harus ditempuh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) lima tahun kedepan, salah satunya dengan memberdayakan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Terlebih lagi dengan disahkannya  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sumut 2018 – 2023 oleh DPRD Sumut bebeapa waktu lalu, Gubernur dan Wagub Sumut kni telah punya konsep jelas mewujudkan komitmennya membangun desa menata kota itu.

Berdasarkan RPJMD, visi sumut yang maju, aman dan bermartabat akan konkrit diwujudkan melalui lima misi yaitu mewujudkan masyarakat bermartabat dalam kehidupan, dalam politik, dalam pendidikan, dalam pergaulan dan dalam lingkungan.

“Dalam RPJMD  ini  implementasi visi dan misi Sumut yang maju, aman dan bermartabat dengan sasaran membangun desa menata kota bukan lagi sekadar komitmen apalagi wacana. Melainkan secara konkrit sudah tertuang dalam dokumen resmi,” tegas Gubsu Edy Rahmayadi kepada wartawan pada pertengahan Maret lalu.

Untuk itu,  semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) harus sudah siap menjabarkan visi misi ini. Semua rencana strategis (Renstra) OPD harus serempak dan saling mendukung memberhasilkan visi misi itu..

Makanya dalam berbagai kesempatan, terutama ketika berkunjung ke daerah kabupaten/kota Gubernur dan Wagubsu selalu mengajak seluruh rakyat  sumut tetap kompak dan bersama-sama membangun daerah ini. Menggali berbagai potensi dan kekayaan yang ada di daerah serta memanfakannya untuk membangun  daerahnya masing-masing.

Apalagi,  Sumut ini memiliki potensi kekayaan sumber daya alam yang luar biasa besarnya. Bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapur dan jepang. Namun belum dimanfaatkan secara masksimal sehingga Sumut masih tertinggal dibanding negara negara tetangga tersebut.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi selalu menyatakan, program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut yang dalam sloganya ‘Membangun Desa Menata Kota’,  karena semangat agar pembangunan di masyarakat bisa dirasakan merata dan adil. Sebab selama ini pengembangan seringkali mengarah ke wilayah perkotaan, sedangkan desa kerap terabaikan.

Padahal di Sumut,  kata Gubernur, kawasan pedesaanlah yang mendominasi. Desa-desa tersebut memiliki potensi yang luar biasa, seperti pertanian, wisata, kuliner dan berbagai hasil kerajinan masyarakat. Jika dikelola dan dikembangkan secara maksimal dapat mendorong percepatan pembangunan di Sumut, khususnya bagi masyarakat desa sendiri.

Jika desa-desa di Sumut maju dan masyarakatnya sejahtera, maka tidak akan ada lagi yang berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota. Sehingga akan lebih mudah untuk menata kota. “Karena itu, sangat diharapkan dukungan dari semua elemen masyarakat, khususnya pers, dalam upaya membangun desa menata kota ini,” ujarnya.

Baca Juga :   Wagubsu Harapkan Lahir Generasi Beriman, Bertakwa dan Berilmu

Karena menurutnya, sehebat apapun kota, namun jika desanya amburadul, tidak akan ada kemajuan signifikan pada daerah tersebut. “Sebab, semua perubahan berawal dari perkembangan desa,” ujar Gubsu  beberapa waktu lalu saat melakukan kunjungan ke Serdang Bedagai.

Ajak Seluruh elemen

Karenanya Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi terus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama membangun daerah demi mewujudkan visi Sumut Bermartabat. Termasuk insan pers yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Menurut Gubernur, peran media dalam menyampaikan pesan positif kepada masyarakat, menjadi satu ujung tombak untuk mendukung pembangunan.

“Saya mau bicara di sini karena saya ingin agar kita semua memahami bagaimana kita harus membangun Sumut ini bersama. Saya tidak bisa sendiri, tanpa kalian, tak bisa jalan semua ini,” ujar Gubernur saat menggelar silaturahmi dengan wartawan unit Pemprov Sumut di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Selasa (23/7).

Dikatakan Gubernur, program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut yang dalam slogannya ‘Membangun Desa Menata Kota’ karena semangat agar pembangunan di masyarakat bisa dirasakan merata dan adil. Sebab selama ini pengembangan seringkali mengarah ke wilayah perkotaan, sedangkan desa kerap terabaikan.

Padahal di Sumut, kata Gubernur, kawasan pedesaanlah yang mendominasi. Desa-desa tersebut memiliki potensi yang luar biasa, seperti pertanian, wisata, kuliner dan berbagai hasil kerajinan masyarakat. Jika dikelola dan dikembangkan secara maksimal dapat mendorong percepatan pembangunan di Sumut, khususnya bagi masyarakat desa sendiri.

Jika desa-desa di Sumut maju dan masyarakatnya sejahtera, maka tidak akan ada lagi yang berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota. Sehingga akan lebih mudah untuk menata kota. “Karena itu, sangat diharapkan dukungan dari semua elemen masyarakat, khususnya pers, dalam upaya membangun desa menata kota ini,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Gubsu Edy Rahmayadi tentang Membangun Desa Menata Kota langsung direspon Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara  Irman yang mengemukakan pihaknya siap menjabarkan perintah Gubernur dan wakil Gubernur Sumut

Menurutnya  dalam RPJMD 2018-2023 , visi sumut maju, aman dan bermartbat akan konkrit diwujudkan melalui lima misi tersebut.  “Yaitu mewujudkan masyarakat bermartabat dalam kehidupan, dalam politik, dalam pendidikan, dalam pergaulan dan dalam lingkungan serta prioritas pembangunan dengan sasaran utama membangun desa menata kota,” kata Irman.

Pengelolaan BumDes

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Sumut Aspan Sopian Batubara menyatakan salah satu upaya yang harus  dilakukan untuk menyukseskan program Membangun Desa Menata Kota adalah dengan mendorong peningkatan peran Badan Usaha Miik Desa (Bumdes) di daerah ini.

Baca Juga :   Gubsu Open House Di Rumah Panggung Pamah

“Potensi Badan Usaha Milik Desa (BumDes) di Sumatera Utara cukup besar. Sayang, pengelolaannya belum optimal,” katanya beberapa waktu lalu.

Aspan mengatakan, dari sekitar 5.000 -an BumDes yang terdaftar, hanya segelintir saja yang terkelola dengan baik dan menyumbang pendapatan kas desa. Karena itulah Pemprovsu melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) terus mendorong peningkatan peran BumDes dalam pembangunan  kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara.

Apalagi, sebut Aspan Sopiyan Batubara, ada 19 sektor anggaran program pemerintah yang mengalir ke desa dari infrastruktur, kesehatan, bersih narkoba hingga pengelolaan BumDes. Program BumDes saat ini menjadi perhatian karena diharapkan bisa menjadi sumber pendapatan potensial masyarakat desa.

“Sebenarnya banyak lahan usaha yang bisa digarap  BumDes, namun memang pengelolaannya belum optimal. Padahal, banyak potensi yang bisa digarap, termasuk potensi alam Sumatera Utara yang indah mendorong tumbuhnya usaha pariwisata yang dikelola BumDes,” katanya lagi.

Aspan mengakui, sebagian  besar BumDes di Sumatera Utara telah menggarap obyek wisata alam, namun harus lebih ditingkatkan lagi. Beberapa obyek  wisata yang dikelola BumDes itu diantaranya terdapat di desa-desa seputaran Danau Toba, Deliserdang, Serdang Bedagai, Nias dan lainnya.

Bahkan air terjun di  Tapanuli Tengah sudah ada yang menghasilkan pemasukan bagi desanya. Rata-rata tiap pekan obyek wisata itu dikunjungi 1000-1500 wisatawan. Demikian juga obyek wisata pedesaan arung jeram di Sipis-pis Sergai yang dikelola BumDes mulai tumbuh.

Sampai saat ini pihaknya terus memotivasi BumDes untuk meningkatkan peranserta mereka dalam rangka memajukan dunia pariwisata Sumatera Utara. Ia mencontohkan, keberhasilan obyek wisata Ponggor di Sleman, Yogyakarta, yang pengelolaannya dilakukan oleh BumDes.

“Saya selalu minta para kepala dinas terkait di kabupaten/kota untuk membuat proposal BumDes, saya akan ikut kawal ke Jakarta. Saya optimis, BumDes di Sumatera Utara dengan potensi alam pedesaannya yang indah dapat mengelola obyek wisata seperti Ponggor itu,” ujarnya.

Seperti disebutkan, dari 5000-an BumDes yang ada di Sumut tidak semuanya berkembang, bahkan belum ada yang mandiri. Menurut Aspan, BumDes  masih harus lebih kreatif.  “Banyak yang mengajukan usaha simpan pinjam, namun saya tidak merekomendasikan. Berdasarkan pengalaman, usaha simpan pinjam banyak yang mati karena modal tidak kembali. Jadi tidak produktif,” terangnya.

Aspan mengakui, dalam rangka memantau perkembangan BumDes masih menemukan kelemahan. Salah satunya kesulitan koordinasi dan mendapatkan  informasi, karena pemerintahan kabupaten merupakan otonomi tersendiri.

Baca Juga :   Gubsu: Generasi Muda Harus Bercita-cita Membangun Sumut

Guna memotivasi peningkatan peran BumDes, Pemprovsu melaksanaan perlombaan BumDes yang kini sedang melakukan tahap penilaian. “Juri menjaring 24 BumDes yang diunggulkan kemudian mencari 10 nominator untuk memaparkan propil BumDes mereka. Dari nominator ini akan dicari juaranya,” ujarnya.

Berdasarkan data tahun 2019, ada puluhan Badan Usaha Milik desa (Bumdes) di kabupaten  daerah ini yang sudah berjalan dengan baik lewat berbagai jenis usaha sesuai potensi desanya.

Bahkan, ada satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara yang memiliki 7 Bumdes dengan beragam  jenis kegiatan usaha, antara lain  Desa Wisata dan home stay, peralatan pesta maupun pengelolaan air minum.

Tujuh Bumdes tersebut berada di Desa Hutanagodang, Hutaginjang, Sampuran, Sibandang, Papande an Desa Aritonang Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara.

Sementara di Kecamatan Ajibata Kabupaten  Toba Samosir, Bumdes  Bersama Partopi Pao mengelola usaha Rumah Pajang di Desa Motung, Sigapiton, Pardomuan Motung, Parsaoran Sibisa, Sirungkungan dan Desa Horsik.

Begitu juga di berbagai kabupaten lainnya,, seperti Delserdang, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah dan Kabupaten Serdangbedagai, Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Mandailng Natal dan lainnya.

Sesuai rekap data Bumdes Provinsi Sumatera Utara tahun 2019, Kabupaten Dairi memilki 36 Bumdes, Langkat (240), Nias (15), Tapanuli Tengah (121), Tapanuli Utara (38),  Deliserdang (209), Karo (132), Serdang Bedagai (109), Nias Barat (106).

Batubara (141), Humbang hasundutan (73), Madailing Natal (195), tapsel 57(,  Padamg sidinpuan (25), Labuhabaru (75), Labura (32), Labusel 951), Simalungun  (61), Asahan (177), Nias Utara (64), Gunung Sitoli (54).

Padang Lawas (143), Padang Lawas Utara (34),  Pakpak Bharat (18), Nias Selatan (54), Toba Samosir (87) dan Kabupaten Samosir dengan 68 Bumdes.

Ditekankan Aspan, peran BUMDES menjadi salah satu faktor pendukung Perekonomian Desa dengan pemanfaatan Potensi Desanya.

Hal ini pula yang mendorong Pemerintah Desa Buluh Duri bersama masyarakat Desa membentuk Badan Usaha Milik Desa dengan Nama BUDUMA dengan Arti Buluh Duri Mandirii dengan Penyertaan Modal dari Desa  Bumdes mengelola unit Wisata Arung Jeram  dengan 4  Unit Perahu Karet

Awal tahun 2019 ini pemerintahan Desa  Pengurus Bumdes dan Kader Posyandu yang terdiri 24 orang  Melaunching  kegiatan Dengan mengarungi Arus Sungai Bah Bolon dari Desa Bartong hingga Finish di Desa  Buluh Duri. Dengan. Menempuh 4 Jam Perjalanan.

Sebelumnya di tempat yang sama Wakil Gubernur sumatera Utara bersama Bupati Serdang Bedagai membuka Tounamen Arung Jeram tingkat Sumatera Utara dan mengapresiasi pemerintahan Desa yang melalui bumdes berkontribusi memajukan Desanya. (isvan)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top