Pendidikan

Orang Aswaja Percaya Takdir dan Ketentuan Allah Tapi Membuka Ruang Ikhtiar

Matabangsa-Jakarta: Orang Aswaja itu percaya takdir dan ketentuan Allah, tapi juga membuka ruang Ikhtiar. Kita bukan Mu’tazilah (free-will) tapi juga bukan Jabariyah (menyerahkan total semuanya kepada Allah tanpa usaha).

Demikian disampaikan Gus Nadirsyah Hosen selaku dosen pengajar di Monash Law School juga Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan New Zealand, Kamis 19 Maret 2020.

Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D mengatakan ini bukan masalah lebih takut Corona ketimbang Takut Allah. Ini sih Jabariyah.

Kita juga tidak mau hanya Percaya pada Ikhtiar semata dan Menafikan pentingnya Doa dan Berserah diri pada Allah. Ini sih Mu’tazilah.

Aswaja itu berimbang dan tengah-tengah. Doa dan Ikhtiar berjalan beriringan. Karena itu kalau ada acara keramaian dibatalkan atau dimodifikasi teknis pelaksanaannya itu bukan karena kita tidak lagi percaya ketentuan Allah. Ini justru sikap murni orang Aswaja.

“Bukannya tanpa ada Corona pun semua akan mati?”.

Iya benar, kalau begitu apa kita gak boleh hidup sehat dengan menghindari sakit dan berobat jika sakit? Ayoooo… “Nanti juga sembuh sendiri yang sakit korona”.

Kalau gitu sih, api kebakaran juga akan padam sendiri,  tapi apa menunggu sampai satu kampung terbakar?

Aswaja tidak akan membenturkan Takdir dan Ikhtiar; Ketentuan Allah dan Usaha Manusia. Semuanya dilakukan secara Proporsional dan Bersamaan.(dave)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top