TMMD

TMMD ke-106 Kodim 0204/DS, Merangkai Kebersamaan Mewujudkan Harapan

Semangat kebersamaan merupakan hakikat dari kemanunggalan TNI dengan rakyat. Itulah roh perjuangan bangsa yang harus terus dipelihara. Semangat yang tercermin dalam gotong royong ini harus terus dihidupkan sebagai warisan leluhur.

Semangat itu telah berhasil menjadi senjata pamungkas untuk mengalahkan tantangan yang selama puluhan tahun dihadapi warga Desa Pispis, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Puluhan tahun lamanya warga desa ini terkurung oleh Sungai Bah Bolon. Ketiadaan jembatan membuat mimpi sebagian besar warga untuk hidup sejahtera tak pernah terwujud.

Sungai Bah Bolon dengan riaknya yang deras dan dua tebing curam di kiri kanannya telah menjadi tantangan yang tak pernah terkalahkan. Jembatan yang menjadi dambaan tak pernah kesampaian.

Saimah boru Saragih adalah saksi hidup warga berpuluh tahun berjuang membangun jembatan. Ia bersama Iping Purba, suaminya memutuskan untuk mengadu nasib ke Kampung Sampang Buah tahun 1962 lalu.

Kala itulah kali pertama perkenalannya dengan Bah Bolon. Rambung, tanaman penghasil karet yang menjadi primadona di tahun 1962 telah membawanya ke Sampang Buah untuk merangkai harapan.

Kerja kerasnya bersama suami membuahkan hasil. Tanah Deli yang subur tak pernah menghianati kerja keras Iping. Tanaman itu memang bisa menjadi penopang hidupnya, tapi belum mampu mememenuhi harapannya.

Getah berlimpah yang dihasilkan ratusan batang rambung di kebunnya belum bisa mewujudkan sepenuhnya harapan Saimah. Hasil penjualannya tak mampu menggeser garis nasib ke titik keluarga sejahtera. Penyebabnya, sarana transportasi yang sangat tidak memadai.

Untuk menjualnya ke penampung, Iping menempuh perjalanan teramat sulit menuju Desa Serbananti. Jika musim hujan jalan setapak yang menghubungkan Kampung Sampang Buah dengan kampung-kampung sebelah becek dan sangat licin. Bahkan pada beberapa bagian ditutupi lumpur setinggi betis.

Jalan sejauh sekitar 10 kilometer itu harus ditempuh dengan susah payah. Getah karet seberat 30 sampai 50 kg harus dipikul menelusuri jalanan itu. Selain menguras tenaga juga memakan waktu dua jam lebih untuk sampai ke lokasi di mana pengepul menunggu untuk menampung getah karet hasil kebun warga. Hasil kerja kerasnyapun ditetapkan berdasarkan harga pengepul. Sangat tidak layak dan jauh dari harapannya

Jalan lainnya adalah menyintas derasnya arus Sungai Bah Bolon. Itupun tak kalah sulit. Tebing curam setinggi 60 meter harus dituruni. Kemudian menggunakan rakit, getah diseberangkan melintasi derasnya arus dan dipikul kembali menaiki tebing curam menuju ke gudang penampungan di Desa Silau Padang. Meski jaraknya cuma beberapa ratus meter, tapi pilihan kedua ini juga bukan jalan terbaik, meski harga jualnya lebih baik.

Seiring perjalanan waktu, Kampung Sampang Buah yang kini berubah nama menjadi Dusun 5 Sampang Buah, Desa Pispis, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai itu, semakin ramai penghuni. Semua mereka mengandalkan perkebunan untuk penopang hidup. Ironinya, semua mereka menghadapi masalah sama. Tak kunjung memadainya sarana transportasi. Derasnya arus Sungai Bah Bolon telah mengisolir mereka.

Pendidikan anak-anak juga menghadapi kendala. Setiap hari mereka harus mengarungi derasnya arus Bah Bolon. Kala musim hujan, banjir bandang menerjang. Itulah saat di mana anak-anak mereka tak bisa pergi ke sekolah.

Juga ketika ada warga yang hendak melahirkan atau sakit parah. Mereka tak punya pilihan kecuali harus menggotongnya menuruni tebing curam. Kemudian menggunakan rakit menyeberangkannya ke Desa Silau Padang untuk dilarikan ke klinik atau ke RS Gunung Pamela, milik perusahaan perkebunan negara PTPN III.

Baca Juga :   Tim WASEV Mabes TNI Tinjau TMMD 108 Kodim 0203/Lkt di Langkat

Kondisi itu membuat Iping tertantang. Ia mengajak warga bergotong royong mengumpulkan dana untuk membangun jembatan. Melalui proposal, permohonan juga diajukan ke Kabupaten Deliserdang. Namun upaya itu tak membuahkan hasil. Pun demikian saat pemekaran Kabupaten Serdang Bedagai dari Deliserdang dan memiliki otonomi sendiri 2003 lalu. Lagi-lagi permohonan membentur tembok birokrasi pemerintah daerah setempat.

Iping pun akhirnya membawa perjuangannya hingga akhir hayat. Tahun 2008 ia meninggal dunia bersama cita-citanya yang tak pernah kesampaian. Baru pada tahun 2014 perjuangan warga Desa Pispis membuahkan hasil. Jembatan gantung selebar satu meter dengan panjang 42 meter membentang. Namun hanya bisa dilintasi sepedamotor. Begitu pun warga merasa sangat bersyukur.

“Rasanya sangat bahagia. Desa kami tidak lagi terisolir. Jembatan itu kami namakan jembatan emas, karena telah memberi harapan emas kepada warga Desa Pispis,” ujar Masruddin Purba, Kepala Dusun 5, Desa Pispis, Kecamatan Sipispis.

Sebagai dusun paling ujung di Desa Pispis, Masrudin mengerti betul kesulitan warganya akibat ketiadaan jembatan. Tanah yang subur, sejatinya memberikan kesejahteraan bagi warga sekitar. Tapi keterisoliran membuat kondisi sebaliknya. Kebun karet dan sawit belum mampu mendongkrak taraf hidup sebagian besar warga Dusun V dan enam dusun lainnya di Desa Pispis.

Sementara jumlah penghuni terus bertambah, sedangkan lapangan kerja tak kunjung berubah. Akibatnya ketika mencapai usia produktif, mereka tak punya pilihan lain. Menjadi buruh di perkebunan milik abang, kakak atau orang lain. Usaha lain yang bisa menghasilkan rupiah sangat terbatas. Salah satunya membuka warung. Lagi-lagi hasil jualan hanya pas untuk makan.

Kenyataan serupa dikatakan tokoh masyarakat Desa Pispis, Rapendi Damanik, mantan Kepala Desa Pispis yang baru saja habis masa jabatannya dan kini kembali mencalonkan diri. Satu-satunya yang menjadi harapan warganya adalah jembatan. Tidak kali ini saja, jembatan ujar Rapendi, sudah menjadi dambaan sejak zaman opung (kakek/nenek) mereka.

Sebagai desa yang jaraknya hanya 4 km dari kantor Camat Sipispis, seharusnya Desa Pispis paling pesat perkembangannya. Lagi-lagi Sungai Bah Bolon yang memisahkan menjadi halangan. Inilah ironi Desa Sipispis. Komoditas perkebunan seperti karet dan sawit serta pisang barangan, tak mampu memberikan kesejahteraan bagi warganya. Bahkan pada tahun 1990-an pisang asal Sipispis menjadi incaran para
pengepul untuk dikirim ke provinsi lain seperti Riau bahkan Jakarta.

Desa seluas 8.510 km persegi ini, lanjut Rapendi, dihuni oleh 823 jiwa atau 201 keluarga. Menurut Rapendi, gambaran perekonomian warga berdasarkan sensus ekonomi memang sangat memprihatinkan. Dari 201 keluarga itu 41 di antaranya belum memiliki pesawat televisi. “Artinya 40 lebih warga kami yang belum memiliki pesawat televisi. Padahal seharusnya di zaman kini kepemilikan barang elektronik bisa didapat dengan mudah melalui cicilan atau kredit. Namun itupun masih banyak di antara warga kami yang belum mampu memilikinya,” ujar Rapendi.

Oktober 2019 menjadi titik balik bagi warga Desa Pispis. Desa itu menjadi lokasi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-106 Kodim 0204/DS. Empat sasaran fisik ditetapkan pada TMMD ini yaitu pembangunan jembatan sepanjang 43 meter, tinggi 15 meter dan lebar 3 meter. Kemudian rehab dua unit rumah tidak layak huni di Dusun 2 dan Dusun 5 serta pembuatan badan jalan sepanjang 1.000 meter.

Baca Juga :   Uluran Kasih Satgas TMMD Buat Ibu Marni

Kemudian sasaran non fisik berupa penyuluhan berupa wawasan kebangsaan, bela negara, kesehatan, pendidikan, KB/Kes, narkoba, pertanian, peternakan dan keagamaan.

Semua sasaran itu harus dituntaskan selama sebulan. Untuk menyelesaikannnya 125 personel TNI dikerahkan. Mereka terdiri dari Yonif 126/Kala Cakti, Yon Zipur, TNI AL, AU serta kepolisian yang dikerahkan sebagai Satuan Tugas (Satgas) TMMD ke-106 Kodim 0204/DS. Mereka harus menjalankan tugas untuk mempersembahkan kesejahteraan kepada warga Desa Pispis.

Sejatinya waktu satu bulan sangat tidak memadai untuk mengerjakan seluruh sasaran fisik itu. Kondisi topografi yang ekstrem dengan tebing curam di kiri dan kanan sungai menjadi tantangan teramat sulit. Tidak saja karena dapat membahayakan personel, tapi longsor dan tingginya curah hujan kerap menjadi hambatan.

Tebing setinggi sekitar 60 meter pun harus ditebas hingga menyisakan 15 meter dari dasar sungai. Pengerjaan pondasi di bibir sungai menjadi pekerjaan terberat. Untuk membuat dudukan tiga pondasi ukuran selebar 3 meter panjang 6 meter dalam 50 cm serta dua sumuran dalam setiap pondasi sedalam 1,5 meter harus dilakukan menggunakan alat pemecah batu, karena kerasnya batu padas di bibir sungai.

Hujan yang kerap turun hampir setiap hari membuat pengerjaan lebih sering terhenti. Namun, tak pernah ada waktu yang terbuang sia-sia. Setiap turun hujan di pagi atau siang hari, selalu diganti dengan kerja lembur di malam hari menggunakan penerangan seadanya dari mesin genset.

Semua itu tidak mudah bagi para personel Satgas. Untuk menurunkan material pondasi jembatan, harus dilakukan secara estafet. Puluhan prajurit berbaris dari atas tebing hingga ke bawah. Material kemudian dilansir secara estafet satu persatu ke bawah. Sedikit saja kesalahan nyawa jadi taruhan.

Longsor juga membuat pembangunan sering molor. Tak sedikit material jembatan yang tertimbun. “Dibutuhkan waktu empat hari untuk mengeluarkan material jembatan dari timbunan, setelah material longsor kita semprot menggunakan air,” ujar Dansatgas TMMD ke-106 Kodim 0204/DS Letkol Kav Syamsul Arifin, SE, M.Tr (Han)

Sasaran fisik lainnya seperti pembukaan dan rehab rumah tidak layak huni juga mengalami hambatan tak kalah pelik. Cuaca kerap jadi rintangan. Jalan yang sudah dilebarkan berubah menjadi genangan lumpur kala hujan mengguyur. Kondisi ini menghambat pendistribusian material bangunan ke lokasi pembangunan rumah.

Namun semua hambatan itu tak sedikitpun mengendorkan semangat para personel Satgas. Setiap hambatan justru menjadi pemecut semangat. Setiap halangan menjadi pengalaman untuk dicarikan jalan keluar dalam pengerjaan selanjutnya.

Terlebih setelah Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) TMMD ke-106 Mabes TNI AD, Mayjen TNI Hassanudin, SIP, MM turun melakukan peninjauan pada 18 Oktober 2019 lalu. Asrena Kasad itu mengakui ekstrimnya lokasi sasaran TMMD ke-106 Kodim 0204/DS ini dan berhasil memecut semangat para prajurit.

“Saya dapat laporan sasaran di lokasi ini sangat ekstrim. Ternyata setelah saya lihat memang sangat ekstrim. Tapi saya diyakinkan oleh Danrem (Komandan Korem 022/PT Kol. Inf Raden Wahyu Sugiarto) maupun Dansatgas (Letkol Kav Syamsul Arifin, red) bahwa sasaran ini pasti selesai. Mereka tidak pernah tidur, kecuali mengantuk untuk terus mengawasi pengerjaan jembatan ini. Medan ekstrim harus dijawab dengan kerja di lapangan. Target yang telah ditetapkan harus dapat tercapai demi kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Baca Juga :   Kaum Ibu Antusias Ikuti Pelatihan Pengolahan Nugget di Sicanang

Bupati Serdang Bedagai Ir. Soekirman juga mengakui itu. Menurutnya dari 237 desa di Kabupaten Serdang Bedagai, Desa Sipispis merupakan salah satu desa sangat terpencil, karena terkurung oleh Sungai Bah Bolon.

Selama ini warga yang hendak keluar harus mengambil jalan memutar sejauh 20 km dengan jarak tempuh 2 jam untuk sampai ke jalan lintas provinsi yang menghubungkan Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Deliserdang serta Simalungun. Padahal, kalau jembatan selesai paling hanya 10 menit. “Inilah yang menghambat kemajuan Sipispis. Pembangunan jembatan serta hasil TMMD lainnya ini diharapkan menjadi pemancing dan pemacu semangat kita untuk semakin memajukan daerah,” katanya.

Selain pembangunan fisik, melalui program TMMD juga telah dilakukan berbagai kegiatan langsung kepada masyarakat seperti penyuluhan bela negara, penyuluhan anti narkoba, wawasan kebangsaan, hukum dan Kamtibmas, serta KB-Kesehatan.

Demikian pula penyuluhan lingkungan hidup, kehutanan dan mitigasi bencana yang diharapkan mampu menambah wawasan masyarakat tentang permasalahan dan materi dimaksud, juga menjadi sarana mempererat manunggalnya TNI dan masyarakat.

“Keberhasilan program TMMD ke-106 tahun 2019 ini mencerminkan kemanunggalan TNI dan masyarakat, yang pada hakikatnya telah memperkuat kesatuan dan persatuan kita dalam bingkai NKRI,” katanya.

Implementas kemanunggalan TNI dengan masyarakat memang tercermin dari TMMD ini. Tidak saja gotong royong dalam melakukan pembangunan sasaran fisik. Warga merasakan kehadiran para prajurit TNI di Desa Pispis memberi warna positif. “Selama ini kami selalu enggan untuk bergaul dengan TNI. Tapi sejak kehadiran TNI di desa kami, tak ada lagi sekat. Sudah seperti saudara dan para orangtua menganggap mereka (tentara, red) seperti anak sendiri,” ujar Rapendi Damanik.

Rasa persaudaraan itu juga memantik simpati masyarakat. Hampir setiap hari ada saja warga yang dengan sukarela mengantar sekadar panganan maupun minuman kepada personel Satgas yang sedang bekerja. Hampir setiap hari ada saja warga yang menggelar doa bersama demi keamanan dan kelancaran Satgas dalam bekerja.

Itu semua dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada prajurit TNI yang telah bekerja teramat keras untuk mewujudkan jembatan dambaan warga Desa Pispis sejak generasi pertama.

Kini semua sasaran fisik nyaris selesai 100 persen. Dua RTLH selesai direhab, salah satunya merupakan rumah tahan terpaan angin puting beliung yang bakal dijadikan percontohan di seluruh Indonesia. Jalan sepanjang 1.000 meter tuntas dikerjakan. Jembatan pun selesai tepat waktu.

Melalui TMMD Kodim 0204/DS harapan masyarakat pun terwujud. Semangat gotong royong personel Satgas dan masyarakat jadi bukti, pekerjaan seberat apapun berhasil diselesaikan. Jembatan yang seharusnya dikerjakan dalam tempo enam bulan, berhasil diselesaikan sebulan.

“Kinerja ini bukan hasil dari pekerjaan kami sendiri, melainkan ada partisipasi masyarakat di dalam bergotong royong bersama untuk mensukseskan program Satgas TMMD di wilayah Sipispis ini. Melalui kegiatan ini kemanunggalan TNI dan rakyat terekat kuat. Kebersamaan dan budaya gotong royong yang menjadi sebagai ciri khas Bangsa Indonesia pun tetap terjaga,” Dansatgas yang juga Dandim 0204/DS. (susilo)

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer

To Top