Matabangsa-Jakarta: Presiden Haidar Alwi Institute (HAI), R. Haidar Alwi meminta agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap permainan mafia alat-alat kesehatan terkait pengadaan impor 10 ribu boks atau 300. unit alat Rapid Test Biozek oleh BUMN Kimia Farma. Pasalnya, hasil investigasi OCCRP (Organizer Crime & Corruption Reporting Project) bersama sejumlah media lintas negara menunjukkan adanya beberapa kejanggalan. Baik menyangkut akurasi, validasi, harga, hingga asal produk.
Temuan ini memperkuat pendapat R Haidar Alwi sebelumnya yang mencurigai konspirasi epik mafia alkes nasional dan internasional dalam rangka pengadaan barang/ atau jasa untuk penanganan Pandemi Covid-19. Bahkan, ia juga telah memperingatkan Menteri BUMN Erick Thohir supaya tidak tutup mata dan telinga bilamana mafia alkes telah menggerogoti oknum pejabat di perusahaan pelat merah.
“Ingat nggak saat Erick Thohir melempar isu mafia alkes ke publik? Waktu itu saya tanggapi, jangan-jangan Pak Menteri tunjuk hidung sendiri, bukan ke personal Erick Thohir ya, tapi lingkungan Kementerian BUMN dan anak-cucu usahanya, karena mereka yang mendominasi impor alkes saat ini. Hasil investigasi OCCRP dan kawan-kawan menjadi bukti bahwa kecurigaan saya bukan tanpa dasar.”
“Oleh sebab itu, saya minta KPK menindaklanjuti temuan OCCRP dan mengungkap permainan mafia alkes dalam impor Rapid Test oleh Kimia Farma. Kejar dan buru pejabat yang memanfaatkan momentum Pandemi Covid-19 untuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya. Siapa tahu berhubungan dengan sindikat internasional. Jangan kasih ampun. Jika terbukti hukum mati saja!” Demikian kata R Haidar Alwi, Selasa (12/5/2020).
Pada awal April lalu, BUMN Kimia Farma mendatangkan 10. boks atau 300. unit alat Rapid Test merek Biozek dari Belanda. Andi Prazos selaku Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma mengaku pembelian Biozek terjadi atas rekomendasi bagian pengembangan bisnis Kimia Farma. Salah satu pertimbangannya adalah karena Inzek International Trading BV mengizinkan calon kliennya untuk survei lokasi.
Belakangan, investigasi OCCRP dan rekanannya menemukan bahwa produk yang diklaim buatan Inzek International Trading BV Belanda itu ternyata adalah buatan Hangzhou AllTest Biotech Co Ltd, Cina. Mereka mengklaim alat Rapid Test tersebut memiliki akurasi sampai 92,9% untuk mendeteksi Immunoglobulin M (IgM) dan 98,6% untuk Immunoglobulin G (IgG), jenis antibodi yang diproduksi tubuh ketika terinfeksi bakteri, kuman dan virus.
Akan tetapi, sejumlah penelitian justru menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Diantaranya penelitian Sir John Bell dari Oxford University, studi non-peer-review dari Spanyol dan jurnal ilmiah Juan Cuadros Gonzales dari Yale University. Bahkan Inggris, India, Ceko, Spanyol dan Slovakia akhirnya memutuskan untuk mengembalikan alat Rapid Test buatan Cina yang dikemas ulang dengan berbagai merek oleh beberapa perusahaan.
“Ironisnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Kementerian Kesehatan merekomendasikan Biozek atas dasar saran WHO. Saya kan udah mengingatkan berulangkali, jangan mendewakan Barat, kita nggak harus mengikuti semua saran mereka. Semestinya diperiksa dulu lebih teliti, layak atau tidak, akurat atau tidak. Jangan cuma asal masuk aja tuh barang, asal enak asal untung,”
“Karena sangat berbahaya kalau hasil tesnya nggak akurat. Pasien yang sebenarnya positif Covid-19 tapi hasil tesnya negatif, bisa menularkannya kemana-mana. Sedangkan yang sesungguhnya negatif tapi hasil tesnya positif Covid-19, menyebabkan penumpukan pasien di rumah sakit, menambah beban tenaga medis. Belum lagi dampak psikologis yang bersangkutan dan keluarganya karena divonis mengidap penyakit mematikan Covid-19,” papar R. Haidar Alwi.
Ketidakakuratan alat Rapid Test buatan Cina pernah terbukti di RSUD Kota Bogor pada April lalu. Dari 800 petugas yang menjalani Rapid Test, 51 di antaranya dinyatakan positif Covid-19. Namun, setelah menjalani Tes Swab, mereka akhirnya dinyatakan negatif Covid-19.
Demikian pula yang terjadi di Banjar Serokadan, Bali. Awalnya dengan alat Rapid Test, 443 warga terdeteksi positif Covid-19. Akan tetapi setelah setelah Tes Swab, hanya 1 (satu) orang yang benar-benar positif Covid-19.
Hingga Rabu (6/5/2020), Kimia Farma telah menjual lebih dari 181. unit alat Rapid Test Biozek ke 58 rumah sakit dan 28 dinas kesehatan di Aceh, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Papua. Sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya mematok biaya antara Rp 500. – Rp 650. untuk Rapid Test.
Laboratorium Klinik Kimia Farma memungut biaya Rp 650. untuk sekali Rapid Test. Sedangkan RSUD RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang saat dikonfirmasi Threechannel pada Senin (11/5/2020) sore mengaku memasang tarif Rp 500. untuk satu kali Rapid Test. Pada Maret lalu, rumah sakit ini pernah memesan 2.480 unit alat Rapid Test dengan harga beli Rp 220. per unit atau totalnya mencapai Rp 540…
Meskipun Kimia Farma tidak bersedia membuka harga beli Rapid Test Biozek, OCCRP menemukan harga jual di pasaran sebenarnya hanya 5 Euro atau sekitar Rp 80. per unit. Sementara CEO Inzek International Trading BV, Zeki Hamid mengatakan pihaknya tidak senang bila produk mereka dijual dengan harga lebih dari 10 Euro atau sekitar Rp 160. per unit. Di media sosial, pasar negara Asia Selatan menjual Biozek isi 30 unit per boks dengan harga Rs 100. atau Rp 8.., setara Rp 267. per unit.
“Hitungan sederhananya, kita pakai harga OCCRP yakni Rp 80. per unit. Untuk pengadaan 300. unit, Kimia Farma mengeluarkan biaya Rp 24 Miliar. Misalkan mereka jual di Indonesia Rp 220. per unit, total penjualan Rp 66 Miliar. Bayangkan, hampir tiga kali lipat dari perolehan. Padahal diberikan fasilitas bebas bea masuk, cukai, pajak dan sebagainya,” pungkas R. Haidar Alwi.(mu)
Artikel ini dikutip dari www.haidaralwiinstitute.com dengan judul : KPK Harus Usut! BUMN Kimia Farma Dalam Pusaran Mafia Alkes





