Stadion Dikejar, Prestasi Menyusul? Semoga Bukan Sekadar Lari di Tempat

Medan, Olahraga18 Dilihat

Langkah cepat Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas dalam mengejar penyelesaian Stadion Teladan memang patut “diapresiasi”. Setidaknya, ada sesuatu yang akhirnya benar-benar dikejar—meskipun kita masih menunggu apakah hasilnya ikut berlari atau justru tetap jalan santai.

Apresiasi pun datang dari berbagai kalangan. Salah satunya dari pegiat olahraga sekaligus mantan pengurus KONI, Benny Hidayat Pane. Wajar saja, di tengah budaya “nanti-nanti saja”, gerak cepat memang terlihat seperti prestasi tersendiri.

Menurut Benny, percepatan ini menunjukkan kepedulian wali kota terhadap olahraga. Tentu saja. Karena dalam logika kita, membangun stadion adalah bukti cinta pada olahraga—meskipun kadang prestasinya masih harus dicari di tempat lain.

Katanya, kalau stadion selesai, akan banyak kegiatan olahraga digelar. Betul. Karena selama ini mungkin masalah utama olahraga kita memang hanya satu: kurang gedung. Bukan pembinaan, bukan sistem, apalagi konsistensi.

Stadion Teladan sendiri bukan bangunan baru. Berdiri sejak 1953, sudah cukup tua untuk memahami bahwa menjadi “ikon” tidak selalu sejalan dengan menjadi solusi. Tapi tidak apa-apa, yang penting terlihat megah dulu.

Wali kota juga disebut tidak hanya fokus pada olahraga, tapi juga menjaga ikon kota. Ini menarik. Karena menjaga ikon memang penting—terutama kalau ikon itu bisa difoto, diresmikan, dan jadi latar belakang pidato.

Rencananya, stadion ini akan digunakan untuk Piala AFF U-19 tahun 2026. Agenda besar, tentu. Harapannya juga besar. Seperti biasa, setiap ada event, kita optimis. Setelah event selesai? Ya, semoga optimisme itu tidak ikut pulang.

PSMS Medan juga diharapkan kembali menjadikan stadion ini sebagai kandang. Logikanya sederhana: pulang ke rumah sendiri, performa meningkat. Karena memang dalam sepak bola modern, faktor utama kemenangan adalah… alamat stadion.

Harapan pun melambung—PSMS bisa berprestasi dan naik ke Liga 1. Tentu saja. Karena selama ini mungkin yang kurang hanya satu: rumput stadion yang lebih segar.

Di sisi lain, geliat olahraga masyarakat juga disebut meningkat, apalagi dengan ramainya Car Free Day. Ini kabar baik. Setidaknya, warga masih sempat olahraga, meskipun kadang lebih sibuk jalan-jalan daripada benar-benar berolahraga.

Dengan hadirnya Stadion Teladan yang “segera selesai”, pilihan tempat olahraga warga akan semakin banyak. Sebuah kemajuan besar, karena akhirnya kita punya lebih banyak lokasi untuk beraktivitas—meskipun tantangan utamanya tetap sama: konsistensi.

Pada akhirnya, pembangunan stadion ini memang layak diapresiasi. Karena di negeri yang penuh rencana, melihat sesuatu benar-benar dikerjakan itu sudah seperti bonus.

Tinggal satu pertanyaan kecil: setelah stadion selesai, apakah prestasi ikut dibangun… atau kita kembali puas dengan bangunan megah dan harapan yang direnovasi setiap tahun?

foto karikatur AI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *