Di tengah berkembangnya berbagai inovasi di masyarakat, ternyata ada satu “metode” baru dalam urusan pinjam-meminjam: kalau permintaan ditolak, cukup naikkan emosi—dan kalau perlu, sekalian tangan.
Itulah yang diduga dilakukan TA Ginting (35) terhadap adik kandungnya sendiri, Sri Rejeki Ginting (29), di Medan Amplas. Sebuah contoh nyata bagaimana hubungan keluarga bisa naik level—dari sekadar konflik biasa menjadi “demonstrasi fisik”.
Kejadiannya pun tidak rumit. Pelaku datang, minta pinjam mobil. Ditolak. Di sinilah logika berhenti bekerja, dan emosi mulai mengambil alih panggung.
Tas ditarik, kunci diperebutkan, lalu jatuh. Momen ini seharusnya jadi tanda untuk berhenti. Tapi tidak. Justru dilanjutkan dengan pukulan ke telinga korban—sebuah respons yang, entah bagaimana, dianggap solusi.
Korban bahkan sempat mencium aroma alkohol dari mulut pelaku. Sebuah detail penting yang menjelaskan kenapa situasi sederhana bisa berubah jadi adegan kekerasan. Karena ketika akal sehat cuti, yang tersisa hanya reaksi tanpa rem.
Ini bukan pertama kali. Pelaku disebut sudah sering meminjam mobil—dan mengembalikannya tidak tepat waktu, bahkan dalam kondisi rusak. Tapi tampaknya, rekam jejak seperti ini tidak cukup untuk menghentikan kebiasaan. Justru seperti lisensi untuk mengulang.
Korban yang merupakan dokter kecantikan kini harus berurusan dengan memar di telinga dan gangguan pendengaran. Ironis—di saat orang lain datang untuk memperbaiki penampilan, justru dirinya harus menghadapi dampak kekerasan dari orang terdekat.
Laporan polisi sudah dibuat. Nomor lengkap, tanggal jelas. Semua prosedur sudah ditempuh. Tinggal satu hal yang sering jadi pertanyaan klasik: seberapa cepat tindakan nyata akan menyusul?
Kuasa hukum korban juga sudah angkat suara, mendesak pelaku segera ditangkap. Karena kalau tidak, kekhawatiran terbesar bukan lagi soal kejadian ini—tapi kemungkinan terulangnya kejadian berikutnya.
Dan di sinilah kita melihat pola yang terlalu sering terjadi. Kekerasan terjadi, laporan dibuat, harapan disampaikan. Sementara itu, pelaku sering kali masih punya waktu untuk “berpikir”—atau mungkin mengulangi.
Yang lebih mengkhawatirkan, dugaan kebiasaan konsumsi alkohol dan narkoba disebut bukan hal baru. Artinya, ini bukan kejadian tiba-tiba. Ini pola. Dan pola yang dibiarkan biasanya tidak berhenti sendiri.
Pada akhirnya, kejadian ini bukan sekadar soal pinjam mobil yang gagal. Ini tentang bagaimana emosi, kebiasaan buruk, dan minimnya kontrol bisa berubah jadi kekerasan—bahkan dalam lingkup keluarga sendiri.
Dan mungkin, pelajaran paling pahit dari semua ini adalah: di beberapa situasi, menolak permintaan sederhana bisa berujung risiko yang tidak sederhana sama sekali.(***)






