Suasana kekeluargaan menyelimuti Hotel Santika Dyandra dengan begitu hangat, seolah-olah semua persoalan kota ikut larut bersama senyum dan jabat tangan. Di Ballroom yang rapi dan berpendingin sejuk itu, Halal bi Halal terasa seperti ruang ideal—tempat semua orang sepakat bahwa kebersamaan adalah kunci dari segalanya.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, bersama Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap, hadir dengan penuh keakraban. Kehadiran keduanya disambut hangat oleh Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Sugiat Santoso, yang juga menjabat sebagai Ketua IKA MSP FISIP USU—sebuah kombinasi jabatan yang cukup untuk memastikan acara berjalan tertib sekaligus penuh makna.
Dalam suasana yang santai namun sarat pesan, Rico Waas menyampaikan bahwa membangun Kota Medan tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Perlu dukungan dari seluruh stakeholder dan lapisan masyarakat. Sebuah pernyataan yang terdengar bijak—dan memang benar—meski diam-diam membuat publik bertanya: kalau semua harus bersama, siapa yang sebenarnya paling dulu bergerak?
“Insya Allah dari silaturahmi ini, kita memiliki semangat bersama membangun kota Medan yang kita cintai,” ujar Rico. Kalimat yang mengalir halus, seperti musik latar dalam acara resmi—menenangkan, tapi belum tentu cukup keras untuk menembus hiruk-pikuk persoalan kota.
Di titik ini, Horatian satire tersenyum tipis. Karena memang, tidak ada yang salah dengan silaturahmi. Bahkan, ini mungkin bagian paling manusiawi dari birokrasi: saling menyapa, saling memaafkan, dan saling berharap. Kota pun terasa lebih ringan ketika dibicarakan dalam suasana penuh kekeluargaan.
Namun, di balik kehangatan itu, Juvenalian satire mulai mengetuk lebih keras. Sebab di luar ballroom, Medan tidak selalu sehangat ini. Jalan berlubang tidak ikut diperbaiki oleh jabat tangan, banjir tidak surut oleh sambutan, dan keluhan warga tidak otomatis hilang hanya karena kata “sinergi” diucapkan dengan penuh keyakinan.
Acara yang juga dirangkai dengan penyerahan santunan kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa menjadi momen yang menyentuh. Tapi di saat yang sama, ia seperti pengingat diam: bahwa kepedulian sosial masih sering hadir dalam bentuk seremoni, sementara akar persoalannya menunggu disentuh lebih dalam.
Para tokoh yang hadir mungkin pulang dengan perasaan hangat. Foto-foto tersimpan rapi, ucapan terarsipkan baik. Tapi kota, seperti biasa, tetap berjalan dengan segala kompleksitasnya—tanpa jeda, tanpa pendingin ruangan.
Barangkali inilah ironi kecilnya: kita sangat pandai menciptakan ruang kebersamaan yang nyaman, tapi seringkali lambat membawa kenyamanan itu ke ruang publik yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, silaturahmi adalah awal yang baik. Tapi kota tidak dibangun dari awal saja—ia butuh kelanjutan. Karena jika tidak, kehangatan hanya akan tinggal di dalam ballroom, sementara di luar sana, realitas terus menunggu untuk benar-benar disentuh.(***)






