Di Instalasi Hemodialisa RSUD Dr. Pirngadi Medan, suasana Peringatan Hari Ginjal Sedunia terasa lebih dari sekadar seremoni. Ada deru mesin, ada wajah-wajah yang menunggu, dan ada harapan yang menggantung di antara selang-selang medis yang bekerja tanpa banyak bicara.
Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap, hadir dengan pesan yang cukup menyentuh. Ia berbicara bukan hanya sebagai pejabat, tapi juga sebagai anak yang pernah melihat ibunya berjuang menjalani cuci darah di masa ketika biaya kesehatan terasa seperti ujian tambahan dalam hidup.
“Dulu belum ada BPJS,” kenangnya. Sebuah kalimat sederhana yang mengingatkan kita bahwa kebijakan publik, ketika bekerja dengan baik, bisa mengubah beban menjadi sedikit lebih ringan—meski tidak selalu membuat segalanya menjadi mudah.
Dengan sekitar 40 mesin hemodialisa yang melayani hingga 80 pasien per hari, rumah sakit ini tampak sibuk, hampir seperti stasiun keberangkatan harapan. Setiap pasien datang dengan cerita, dan setiap mesin bekerja seperti penjaga waktu—diam, konsisten, dan tidak pernah benar-benar libur.
Dalam nada Horatian, kita bisa tersenyum kecil saat mendengar rencana pembangunan gedung tujuh lantai lengkap dengan parkir dua lantai. Sebuah visi yang terdengar megah—karena siapa yang tidak ingin rumah sakit yang tinggi, luas, dan tentu saja, tidak membuat bingung saat mencari tempat parkir?
“Insyaallah akan berbeda,” kata Zakiyuddin. Dan memang, dalam banyak hal, perbedaan sering kali dimulai dari rencana. Hanya saja, publik sudah cukup akrab dengan satu jenis bangunan yang paling sering berdiri: harapan yang belum selesai.
Di sinilah nada berubah. Juvenalian mulai angkat suara.
Karena di balik rencana pembangunan dan penambahan fasilitas, ada satu hal yang terus diulang—pelayanan. “Anggap pasien itu keluarga sendiri,” ujar Zakiyuddin. Sebuah nasihat yang begitu benar, sampai-sampai terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak perlu diingatkan berulang kali.
Namun kenyataannya, justru karena sering diingatkan, kita jadi tahu: masih ada yang perlu dibenahi.
Apa artinya gedung tujuh lantai jika senyum petugas masih satu lantai di bawah harapan? Apa gunanya alat canggih jika pasien masih harus menunggu dengan rasa cemas yang tidak kunjung dijelaskan?
Permintaan kamar yang tinggi, keterbatasan tempat tidur, dan antrean layanan menjadi bagian dari realitas yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan blueprint pembangunan. Kota Medan, seperti banyak kota lain, tidak kekurangan rencana—yang sering kurang adalah kecepatan mewujudkannya.
Program UHC yang memungkinkan berobat hanya dengan KTP memang patut diapresiasi. Sebuah kemajuan yang membuat akses kesehatan terasa lebih dekat. Tapi akses tanpa kualitas pelayanan yang setara ibarat pintu terbuka menuju ruangan yang masih berantakan.
Di hadapan Plt. Direktur Utama RSUD Dr. Pirngadi, Mardohar Tambunan, pesan tentang pentingnya pelayanan kembali ditegaskan. Dan kita semua mengangguk—karena memang, pada akhirnya, pasien tidak datang untuk mengagumi bangunan, tetapi untuk sembuh.
Mungkin itulah ironi kecilnya: kita bisa membangun gedung setinggi tujuh lantai, tapi yang paling sulit justru membangun satu hal sederhana—empati yang konsisten.
Dan di antara suara mesin cuci darah yang terus berdengung, ada satu harapan yang tidak pernah berubah: semoga yang diperbaiki bukan hanya fasilitasnya, tapi juga cara kita memperlakukan manusia di dalamnya.(***)






