Halal Bihalal Tanpa Sekat: Sekatnya Disimpan Dulu, Dibuka Lagi Nanti

Medan, Politik16 Dilihat

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Aula Asrama Haji Medan, tempat di mana semua orang tampak sepakat bahwa perbedaan adalah hal biasa—terutama setelah selesai diperdebatkan dengan cukup serius sebelumnya.

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, hadir dalam Halal Bihalal Partai Keadilan Sejahtera Kota Medan dengan pesan yang sangat menenangkan: mari tinggalkan sekat-sekat politik. Sebuah ajakan yang terdengar seperti membersihkan rumah setelah pesta besar—rapi di permukaan, meski sisa-sisa masih mungkin terselip di sudut-sudut tertentu.

Acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, mulai dari KH Muhammad Nuh, Andi Pramata, Salman Alfarisi, Anton Simarmata, hingga Rajudin Sagala. Kombinasi yang lengkap—seperti tim besar yang kini sepakat duduk satu meja setelah sebelumnya mungkin berada di sisi meja yang berbeda.

Dalam sambutannya, Rico Waas mengajak semua pihak memaknai Syawal sebagai titik awal persatuan. “Kontestasi sudah berakhir,” ujarnya. Dan semua mengangguk, karena memang kalender sudah berganti—meski ingatan kadang belum sepenuhnya ikut pindah.

Ia juga hadir didampingi Muhammad Sofyan dan Andi Mario Siregar, menegaskan bahwa membangun kota tidak bisa dilakukan sendiri. Sebuah pernyataan yang sangat bijak, karena memang lebih nyaman bekerja bersama—apalagi kalau hasilnya nanti bisa dibagi dalam bentuk apresiasi.

Rico pun memberikan pujian kepada PKS sebagai partai dengan disiplin dan militansi kader yang kuat. Sebuah apresiasi yang terasa pas di suasana halal bihalal—di mana semua pihak memang sedang berada dalam mode saling menghargai, setidaknya sampai acara selesai.

Menariknya, di tengah pembahasan politik dan pembangunan, ia juga menyinggung soal ketergantungan pada gadget. Katanya, jangan sampai manusia berubah jadi robot. Sebuah peringatan yang disampaikan dengan penuh kesadaran—di hadapan audiens yang kemungkinan besar sedang merekam, memotret, atau minimal mengecek pesan masuk.

“Kota boleh maju, teknologi boleh berkembang, tapi nilai tidak boleh hilang,” ujarnya. Dan semua sepakat, sambil mungkin diam-diam memastikan baterai ponsel masih cukup sampai acara berakhir.

Di akhir sambutan, Rico berharap kolaborasi tidak hanya berhenti di formalitas. Kalimat yang sudah begitu sering terdengar di acara formal, hingga hampir menjadi bagian dari susunan acara itu sendiri.

Cenderamata pun diserahkan sebagai tanda terima kasih. Sebuah simbol klasik yang selalu berhasil menutup pertemuan dengan manis—seperti penutup cerita yang rapi, meski bab berikutnya belum tentu seindah harapan.

Pada akhirnya, Halal Bihalal ini menjadi bukti bahwa politik juga bisa hangat, santai, dan penuh senyum. Dan seperti tradisi tahunan lainnya, semua sepakat untuk saling memaafkan, saling mendukung, dan saling melupakan perbedaan—tentu saja, sampai suatu saat nanti perbedaan itu kembali dibutuhkan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *