Medan — Ada yang menarik dari ruang khusus Wakil Wali Kota Medan pagi itu. Bukan sekadar audiensi biasa, melainkan pertemuan yang rasanya seperti obrolan warung kopi—ringan, santai, tapi isinya cukup untuk bikin yang dengar mengangguk sambil mikir.
Wakil Wali Kota Medan, H. Zakiyuddin Harahap, menerima kedatangan pengurus Pemuda Panca Marga (PPM) Kota Medan dengan gaya khas: serius tapi tidak tegang. Dalam suasana yang jauh dari kesan “rapat penuh tekanan”, justru muncul pembahasan berat yang dibungkus ringan—perang melawan narkoba.
Dalam kesempatan itu, H. Zakiyuddin Harahap menegaskan perang terhadap narkoba bukan cuma soal kejar-kejaran dengan pelaku, Senin 06 April 2026. Kalau cuma itu, mungkin polisi sudah seperti pemain film laga setiap hari. Namun, menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana menyelamatkan generasi muda dengan pendekatan yang lebih manusiawi—dan kalau bisa, sekalian kreatif biar tidak membosankan.
Ia pun mengajak semua elemen masyarakat untuk ikut turun tangan. Karena, seperti kata pepatah yang tidak pernah benar-benar diucapkan tapi terasa nyata: narkoba tidak pernah pilih-pilih pintu, jadi yang jaga juga jangan pilih-pilih waktu.
“PPM bisa ambil peran mengajak anak-anak muda ke kegiatan positif. Olahraga, kegiatan sosial, apa saja yang penting bikin mereka sibuk dengan hal baik,” ujar H. Zakiyuddin Harahap, yang tampaknya paham bahwa anak muda kalau sudah sibuk, jangankan narkoba—chat mantan saja bisa lupa dibalas.
Ajakan tersebut terdengar sederhana, tapi justru di situlah seninya. Kadang solusi besar memang tidak perlu rumit—cukup konsisten dan tidak kalah menarik dari godaan yang ingin dilawan.
Sementara itu, Ketua PPM Kota Medan, Syaiful Syahbana, yang hadir bersama jajaran pengurus lainnya, menjelaskan bahwa organisasi mereka memang sudah lama “bermain di lapangan”—tentu saja bukan lapangan politik, melainkan lapangan olahraga dan pembinaan generasi muda.
Ia menyebutkan bahwa PPM merupakan organisasi yang beranggotakan anak-anak veteran. Namun jangan salah, meski berakar dari masa lalu, geraknya justru mengarah ke masa depan—terutama dalam membina generasi muda agar tidak terseret arus perilaku negatif.
“Salah satu upaya kami adalah menyediakan fasilitas olahraga dan mengajak remaja untuk aktif. Biar mereka punya kegiatan yang positif,” ujar Syaiful Syahbana, dengan nada yang terdengar seperti pelatih yang lebih memilih anak asuhnya berkeringat di lapangan daripada ‘keringat dingin’ karena salah pergaulan.
Audiensi ini pun menjadi pengingat halus bahwa perang melawan narkoba tidak selalu harus dengan wajah tegang. Kadang, dengan senyum, ajakan, dan lapangan bola, hasilnya justru lebih mengena.
Dan di tengah semua itu, satu hal jadi jelas: melawan narkoba bukan hanya soal siapa yang paling keras, tapi siapa yang paling konsisten mengajak—bahkan kalau perlu, sambil bercanda sedikit agar pesannya tidak terasa seperti ceramah panjang di hari Senin pagi.(***)






