PERMATA, Perempuan, dan Proposal Harapan: Ketika Ketangguhan Dilatih, Realita Diuji

Politik208 Dilihat

Di tengah semangat Pemprov Sumatera Utara yang ingin membangun kembali ekonomi keluarga terdampak bencana, lahirlah sebuah program dengan nama yang begitu indah: PERMATA. Sebuah akronim yang berkilau, seolah ingin meyakinkan bahwa dari reruntuhan bencana, akan lahir perempuan-perempuan tangguh yang siap bersinar.

Dipimpin oleh Dwi Endah Purwanti, program ini digagas sebagai prioritas tahun 2026. Fokusnya mulia: melatih perempuan di hunian tetap (huntap) untuk bertani hidroponik, mengolah frozen food, hingga membangun usaha kecil. Sebuah paket lengkap—dari sayur hingga sosis beku—yang diharapkan mampu mengangkat ekonomi keluarga.

Namun di balik pelatihan hidroponik dan vertical garden, ada pertanyaan yang tumbuh lebih cepat dari tanaman itu sendiri: apakah yang benar-benar dibutuhkan para perempuan korban bencana adalah pelatihan… atau kepastian hidup?

Karena mari jujur—bertani di atas lahan terbatas dengan sistem hidroponik memang terdengar modern. Tapi ketika dapur masih berjuang menyalakan api setiap hari, konsep “vertical garden” bisa terasa lebih vertikal di proposal daripada di kenyataan.

Program ini juga menawarkan pelatihan pengolahan makanan beku. Sebuah langkah yang progresif—karena di tengah ekonomi yang serba cair, setidaknya ada sesuatu yang bisa dibekukan. Sayangnya, yang sering tak bisa dibekukan adalah ketidakpastian: pasar di mana, modal berapa lama bertahan, dan siapa yang benar-benar membeli produk mereka nanti?

Di sisi lain, DP3AKB juga menghadirkan layanan psikososial. Ini penting. Karena luka akibat bencana tidak hanya terlihat di bangunan yang roboh, tapi juga di hati yang retak. Namun lagi-lagi, terapi terbaik seringkali bukan hanya sesi konseling, tapi juga rasa aman yang nyata—yang sayangnya tidak bisa dibagikan dalam bentuk brosur program.

Bantuan kepada 1.000 korban banjir dan longsor pun disalurkan. Angka yang terdengar besar, tapi dalam skala bencana, seringkali hanya seperti setetes air di tengah banjir yang belum sepenuhnya surut.

Tak berhenti di situ, rencana talkshow kepemimpinan perempuan dan ajang penghargaan seperti Bella Award juga disiapkan. Ini bagian yang menarik—karena di satu sisi perempuan diajak bangkit dari bencana, di sisi lain mereka juga diajak naik panggung untuk dirayakan. Sebuah perjalanan yang cukup jauh: dari huntap ke spotlight.

Sementara itu, program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), layanan CHILL, hingga larangan anak di bawah 16 tahun memiliki akun media sosial juga ikut dirancang. Sebuah paket kebijakan yang lengkap—dari perlindungan anak hingga festival permainan tradisional. Anak-anak diajak kembali ke permainan lama, mungkin sebagai pengingat bahwa dunia nyata masih ada di luar layar.

Namun, di tengah semua ini, satu hal yang patut direnungkan: apakah program-program ini benar-benar menyentuh akar persoalan, atau sekadar mempercantik cabang-cabangnya?

Karena membangun ketangguhan perempuan bukan hanya soal pelatihan, sertifikat, atau bahkan penghargaan. Ini soal akses terhadap modal, pasar, pendidikan, dan yang paling penting—keberlanjutan. Tanpa itu, “perempuan tangguh” berisiko hanya menjadi slogan yang kuat di spanduk, tapi rapuh di lapangan.

PERMATA memang indah. Tapi seperti batu mulia lainnya, nilainya tidak ditentukan dari namanya—melainkan dari seberapa kuat ia bertahan di tekanan nyata.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *