Munas PERSAJA 2026—Saat “Hiposentrum” Tak Lagi di Perut Bumi, Tapi di Pidato Pembukaan

Hukum, Nasional32 Dilihat

Rabu, 15 April 2026, Gedung Utama Kejaksaan Agung mendadak terasa seperti pusat gempa—bukan karena pergeseran lempeng, melainkan karena istilah “hiposentrum” yang tiba-tiba naik pangkat jadi jargon utama Munas PERSAJA. Bedanya, yang ini tidak merobohkan bangunan, melainkan membangun semangat… setidaknya di atas kertas sambutan.

Sang tuan rumah, ST Burhanuddin, membuka acara dengan penuh wibawa. Kalimat-kalimatnya mengalir rapi, seperti berkas perkara yang sudah disusun sebelum sidang. Ia menegaskan bahwa Kejaksaan kini adalah “game changer”—sebuah istilah yang biasanya dipakai di dunia startup, tapi kini mampir ke ruang sidang.

Tema besar pun tak kalah ambisius: PERSAJA sebagai hiposentrum penguatan Kejaksaan. Sebuah konsep yang terdengar seismik, seolah setiap keputusan jaksa bisa menimbulkan getaran nasional. Dan mungkin memang begitu—bedanya, yang bergetar bukan tanah, melainkan opini publik.

Dalam paparannya, Jaksa Agung menjelaskan bahwa hukum kini tak lagi sekadar menghukum, tapi juga memperbaiki, memulihkan, bahkan merehabilitasi. Dari retributif ke restoratif—dari “hukum sebagai palu” menjadi “hukum sebagai pelukan.” Tentu saja, pelukan ini tetap harus sesuai prosedur.

Tak lupa, era digital ikut disinggung. Jaksa modern, katanya, harus paham teknologi dan “rule of algorithm.” Sebuah frasa yang terdengar canggih, meski sebagian mungkin masih bertanya-tanya: apakah keadilan nanti diputuskan oleh hati nurani, atau oleh baris kode?

Di sisi lain panggung, Asep N. Mulyana tampil membawa kabar kolaborasi. PERSAJA resmi menggandeng Ikatan Dokter Indonesia, dipimpin Slamet Budiarto. Sinergi ini menarik—jaksa dan dokter kini satu meja, mungkin karena keduanya sama-sama akrab dengan istilah “diagnosa,” hanya beda objek: yang satu tubuh, yang satu perkara.

Kerja sama ini mencakup banyak hal, dari keterangan ahli hingga pusat kesehatan yustisial. Bahkan sengketa medis pun akan didampingi secara hukum. Sebuah kolaborasi yang terdengar seperti serial crossover—antara drama hukum dan drama rumah sakit, lengkap dengan episode rehabilitasi.

Munas ini juga dihadiri sekitar 13 ribu lebih peserta, baik langsung maupun virtual. Sebuah angka yang mengesankan, karena menunjukkan bahwa semangat berkumpul tetap tinggi—meski sebagian hadir lewat layar, mungkin sambil sesekali mengecek notifikasi lain yang tak kalah penting.

Tak ketinggalan sesi “Bincang Pagi” yang menghadirkan para akademisi seperti Widodo Putro dan Danrivanto Budhijanto, serta tanggapan dari Heru Pramono. Diskusi ini kemungkinan besar penuh gagasan besar—jenis percakapan yang membuat kita merasa lebih pintar, meski kadang lupa apa kesimpulannya.

Pada akhirnya, pesan utama tetap sama: integritas, profesionalitas, dan etika. Tiga kata yang selalu hadir di setiap forum resmi, seperti tamu kehormatan yang tak pernah absen. Tantangannya tentu bukan mengucapkannya, tapi menjaganya tetap hidup setelah mikrofon dimatikan.

Dan begitulah, Munas PERSAJA 2026 berlangsung dengan khidmat, penuh istilah besar dan harapan yang tak kalah besar. Tinggal satu pertanyaan kecil yang menggantung: ketika hiposentrum sudah ditetapkan, apakah getarannya akan benar-benar terasa—atau hanya berhenti di teks pidato dan backdrop acara?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *