Kamis, 16 April 2026, publik kembali disuguhi cerita yang kalau dirangkai rapi, sebenarnya sudah siap tayang—bukan di bioskop, tapi di ruang sidang. Tim Penyidik JAM PIDSUS menetapkan AW sebagai tersangka dalam perkara TPPU yang berkaitan dengan terpidana Zarof Ricar.
Menariknya, kisah ini memang berawal dari dunia perfilman. Judulnya pun terdengar ambisius: “Sang Pengadil.” Sebuah nama yang memberi kesan tegas, berwibawa, dan penuh keadilan. Ironisnya, justru di balik layar film ini, muncul cerita yang membuat kata “pengadil” terasa… sedikit multitafsir.
Proyek film tersebut digarap dengan skema patungan yang cukup demokratis: masing-masing Rp1,5 miliar dari tiga pihak. Total Rp4,5 miliar—angka yang cukup untuk membuat film, atau dalam konteks ini, membuka alur cerita baru di dunia hukum.
Namun, seperti banyak cerita menarik, plot twist-nya tidak datang dari skenario film, melainkan dari hasil penggeledahan. Di kantor AW, penyidik menemukan lima boks dokumen—yang isinya bukan naskah film atau storyboard, melainkan sertifikat tanah milik Zarof Ricar.
Belum cukup sampai di situ, ada juga uang tunai dan emas batangan. Paket lengkap yang biasanya lebih identik dengan investasi jangka panjang, bukan properti pendukung industri kreatif.
Kisah penitipan ini sendiri terdengar sederhana: “tolong simpan dulu.” Sebuah kalimat yang dalam kehidupan sehari-hari bisa berarti menitip helm atau tas, tapi dalam kasus ini skalanya sedikit… berbeda.
Menurut penyidik, AW diduga sudah mengetahui—atau setidaknya menduga—bahwa aset tersebut punya latar belakang yang kurang bersih. Tapi tetap diterima dan disimpan. Sebuah keputusan yang mungkin awalnya terasa praktis, namun belakangan jadi cukup mahal konsekuensinya.
Kini, dengan sangkaan pasal TPPU, AW resmi menjalani penahanan 20 hari ke depan. Dari yang semula terlibat dalam produksi “Sang Pengadil”, kini justru menjadi bagian dari proses yang akan diadili.
Kasus ini seolah mengingatkan bahwa dalam kehidupan nyata, tidak semua peran bisa dipilih sesuka hati. Kadang seseorang masuk cerita sebagai pendukung, tapi berakhir sebagai tokoh utama—tanpa casting dan tanpa skrip.
Dan seperti biasa, pelajarannya tetap sama: kalau ada yang menitip “barang sedikit besar” dengan cerita yang agak samar, mungkin ada baiknya bertanya dua kali. Karena tidak semua yang terlihat seperti proyek kreatif… benar-benar sekadar kreatif.






