Di sebuah suasana yang hangat, khidmat, dan tentu saja penuh protokoler, Rico Tri Putra Bayu Waas melepas 1.883 calon jemaah haji asal Medan. Acara berlangsung dengan segala elemen yang membuat sebuah seremoni terasa sah: ayat suci, talbiyah, pejabat lengkap, dan tentu saja—tradisi tepung tawar, yang selalu berhasil membuat kita merasa bahwa keberangkatan spiritual juga perlu sentuhan kosmetik budaya.
Tepung ditabur, doa dilangitkan, dan harapan pun dipoles rapi. Sebab dalam banyak hal, keberangkatan ke Tanah Suci memang harus dimulai dengan simbol—agar perjalanan panjang terasa sudah setengah selesai, setidaknya secara seremonial.
Dalam sambutannya, Wali Kota mengingatkan bahwa haji adalah panggilan Tuhan. Sebuah pengingat yang selalu tepat, meskipun daftar tunggu belasan tahun kadang terasa seperti panggilan yang harus melewati birokrasi terlebih dahulu.
Rentang usia jemaah pun disebutkan: dari 15 hingga 89 tahun. Sebuah spektrum yang luar biasa, membuktikan bahwa ibadah ini benar-benar inklusif—selama fisik, mental, dan tentu saja administrasi memungkinkan. Jemaah muda diminta membantu lansia, sebuah konsep teamwork yang mungkin lebih solid daripada banyak proyek kerja tim di kantor.
Lalu masuk ke bagian yang tak kalah penting: kesehatan. Karena di balik spiritualitas yang tinggi, ada realitas sederhana—kalau badan tidak kuat, niat sekuat apa pun tetap butuh istirahat. Dan di sinilah muncul peringatan paling membumi: hati-hati dengan kambing.
Ya, di tengah semua pesan moral dan religius, terselip satu kekhawatiran yang sangat manusiawi—kolesterol. Karena ternyata, perjalanan menuju kesucian juga harus melewati godaan gulai dan sate dalam skala internasional.
Tak lupa, pesan menjaga lisan, menghindari konflik, dan menjaga nama baik bangsa. Sebuah paket lengkap etika sosial yang biasanya juga berlaku di grup WhatsApp keluarga, hanya saja kali ini skalanya global.
Pemerintah Kota Medan pun memastikan rumah-rumah jemaah akan aman selama ditinggal. Sebuah janji yang menenangkan, meskipun dalam praktiknya, rasa khawatir manusia seringkali tidak tunduk pada pengumuman resmi.
Acara ditutup dengan pemberian souvenir—karena tidak ada perpisahan yang lengkap tanpa kenang-kenangan. Sebuah pengingat bahwa bahkan dalam perjalanan spiritual, kita tetap makhluk yang menghargai benda simbolis.
Dan begitulah, para jemaah dilepas dengan doa, pesan, dan sedikit pengingat soal pola makan. Karena pada akhirnya, menuju haji mabrur ternyata bukan hanya soal niat dan ibadah—tapi juga tentang bagaimana mengelola diri, dari hati… sampai kadar kolesterol.






