Dari Limbah Jadi Berkah: Kompil Gandeng Direktur Air Limbah Tirtanadi, Ikrimah Hamidy Siap Jadi Pembina

Ekonomi, Sumut14 Dilihat

Dari Limbah Jadi Berkah: Kompil Gandeng Direktur Air Limbah Tirtanadi, Ikrimah Hamidy Siap Jadi Pembina

Kadang, urusan limbah memang lebih cepat bikin orang menutup hidung daripada membuka pikiran. Tapi tidak bagi Komunitas Peduli Limbah (Kompil). Mereka justru datang dengan semangat yang wangi: membawa gagasan, bukan sekadar aroma persoalan.

Dalam suasana audiensi yang hangat dan jauh dari kesan “bau-bau formalitas”, Ketua Kompil David Susanto bersama Wakil Ketua Rivai Parinduri dan Sekretaris Lilik Riadi Dalimunthe bertemu langsung dengan Direktur Air Limbah Perumda Tirtanadi, Ikrimah Hamidy, yang didampingi Kepala Divisi Operasional Pelayanan Limbah Iwan Hamsar Siregar di ruangan direksi Kamis 23 April 2026.

Pertemuan itu bukan untuk mengeluhkan septic tank tetangga yang penuh misteri, melainkan memperkenalkan apa sebenarnya Kompil. Sebuah komunitas yang peduli bahwa limbah bukan hanya urusan belakang rumah, tapi juga masa depan kota.

David Susanto membuka pembicaraan dengan santai namun penuh isi. Ia menjelaskan bahwa Kompil hadir sebagai wadah edukasi, advokasi, dan kolaborasi masyarakat dalam mendukung pengelolaan air limbah yang sehat, tertib, dan berkelanjutan. Karena kalau limbah dibiarkan, biasanya masalahnya tidak ikut mengalir—malah mengendap.

Rivai Parinduri menambahkan, kesadaran masyarakat soal sanitasi masih sering kalah pamor dibanding urusan banjir maupun sampah. Padahal, katanya, kota yang sehat tidak dibangun dari caption Instagram, tapi dari sistem limbah yang benar.

Sementara itu, Lilik Riadi Dalimunthe menegaskan Kompil ingin menjadi mitra strategis, bukan sekadar penonton di pinggir got. Mereka siap membantu sosialisasi, forum diskusi, hingga mendorong masyarakat agar paham bahwa membayar layanan lumpur tinja bukan bentuk penderitaan, tapi investasi kesehatan.

Mendengar paparan itu, Ikrimah Hamidy tampak menyambut baik. Ia mengapresiasi kehadiran Kompil yang menurutnya menjadi angin segar dalam upaya membangun kesadaran publik soal pengelolaan limbah. Ikrinah juga menjelaskan tugas dan fungsi yang menjadi tupoksinya. Termasuk memaparkan rencana-rencana ke depan.
Menurut Ikrimah, selama ini urusan limbah memang sering dianggap “tak terlihat maka tak dipikirkan”. Padahal, ketika masalah datang, biasanya bukan cuma terlihat—tapi juga tercium.

Ia menilai kolaborasi seperti ini penting, sebab Perumda Tirtanadi tidak bisa berjalan sendiri. Butuh komunitas yang mampu menjembatani komunikasi dengan masyarakat agar pelayanan air limbah tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga diterima secara sosial.

Di akhir pertemuan, Kompil memberikan “serangan manis” dengan menawarkan kesediaan Ikrimah Hamidy untuk menjadi pembina komunitas tersebut. Sebuah tawaran yang tentu sulit ditolak—apalagi setelah diskusi berjalan sehangat itu.

Tanpa banyak drama seperti rapat yang suka molor, Ikrimah pun menyatakan kesediaannya. Ia siap menjadi pembina Kompil dan berharap komunitas ini benar-benar menjadi motor perubahan, bukan hanya aktif saat foto bersama.

Akhirnya, audiensi itu membuktikan satu hal penting: membicarakan limbah ternyata tidak selalu kotor. Kalau dibahas dengan niat baik dan kerja nyata, justru bisa menjadi langkah bersih menuju kota yang lebih sehat. Tidak lupa foto bersama untuk membuktikan kehadiran dan keseriusan kolaborasi membangun Sanitasi Aman tahun 2030.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *