Jumat Barokah, Saat Wartawan, Polisi, dan Teh Manis Bertemu dalam Harmoni Nasional

Medan22 Dilihat

Di sebuah sudut hangat Kota Medan, tepatnya di Jalan Bromo, Lorong Karya, ada satu kegiatan yang konsisten melawan dinginnya hubungan formal: “Jumat Barokah.” Bukan sekadar agenda mingguan, ini semacam oase sosial—tempat di mana berita, doa, dan obrolan ringan bersatu tanpa perlu konferensi pers.

Di Sekretariat Pewarta Polrestabes Medan, para wartawan berkumpul. Hadir juga perwakilan dari Polrestabes Medan. Suasananya akrab, seolah-olah semua headline yang biasanya tegang sedang cuti bersama.

Agenda dimulai dengan doa. Sebuah momen di mana semua berharap—bukan hanya untuk keberkahan hidup, tapi mungkin juga untuk berita yang lebih adem, narasumber yang lebih jujur, dan deadline yang sedikit lebih manusiawi.

Ketua pewarta, Chairum Lubis, dalam sambutannya menekankan pentingnya hubungan baik antara media dan kepolisian. Sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, tapi punya makna dalam: kalau hubungan baik, informasi bisa lebih lancar. Kalau terlalu lancar? Nah, itu nanti bahan diskusi lain.

“Jumat Barokah bukan sekadar kegiatan rutin,” katanya.
Dan memang benar. Ini juga ajang silaturahmi, berbagi, dan—yang tidak kalah penting—bertukar cerita. Dari yang serius sampai yang “off the record tapi semua tahu.”

Diskusi santai pun mengalir. Topiknya seputar tugas wartawan dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Sebuah peran yang menarik, karena wartawan di satu sisi mengawasi, di sisi lain juga diajak ngopi bareng yang diawasi. Harmoni versi Indonesia: kritis, tapi tetap senyum.

Di sela-sela obrolan, tawa pecah. Bukan karena isu nasional tiba-tiba selesai, tapi karena di ruangan itu, semua sepakat untuk sejenak tidak terlalu tegang. Karena pada akhirnya, di balik berita keras dan laporan serius, tetap ada manusia yang butuh suasana ringan.

Kegiatan seperti ini memang sederhana. Tidak ada panggung megah, tidak ada pidato panjang berlembar-lembar. Tapi justru di situlah kekuatannya—di keakraban yang tidak dibuat-buat.

Harapannya, “Jumat Barokah” ini terus berjalan. Bukan hanya jadi rutinitas, tapi jadi pengingat bahwa sinergi itu tidak selalu harus formal. Kadang cukup dengan duduk bersama, berbagi cerita, dan secangkir kopi yang mungkin lebih jujur dari sebagian pernyataan resmi.

Karena di negeri ini, kadang yang membuat hubungan tetap hangat bukan hanya kerja sama, tapi juga obrolan ringan di hari Jumat.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *