Dor! Ketika Sabu Lebih Lincah dari Moral, dan Peluru Jadi Bahasa Terakhir

Hukum, Nasional11 Dilihat

Medan — Di sebuah negeri yang kadang lebih cepat panas oleh kabar sensasi daripada kesadaran kolektif, bunyi “dor” kembali menggema. Bukan sekadar suara peluru, melainkan tanda tanya besar: siapa sebenarnya yang lebih dulu lumpuh—pelaku, atau sistem yang membiarkannya tumbuh subur?

Minggu malam (3/5/2026), Jalan Desa Cinta Rakyat berubah dari sekadar lintasan warga menjadi panggung drama klasik: kejar-kejaran, perlawanan, dan akhirnya, timah panas sebagai titik. Seorang pria berinisial MSL (41), yang konon sudah lama menjadikan sabu sebagai mata pencaharian, akhirnya “ditenangkan” dengan cara paling tegas yang dikenal aparat—peluru di kaki.

Ironisnya, wilayah Bagan di Kecamatan Percut Sei Tuan bukanlah nama baru dalam kamus peredaran narkoba. Ia sudah lama dikenal, bahkan mungkin lebih dikenal daripada program pencegahan yang entah ke mana arah dan bentuknya. Seolah-olah, sabu di sana punya alamat tetap, sementara solusi hanya datang sesekali seperti tamu undangan.

MSL tidak sendiri. Ia ditemani ZH (54), rekan seperjalanan dalam bisnis yang tidak mengenal pensiun ini. Dua pria yang mungkin tak pernah masuk daftar tokoh masyarakat teladan, tapi jelas berhasil masuk daftar Target Operasi. Mereka bukan pemain baru—hanya pemain lama yang terlalu lama dibiarkan bermain.

Polisi menyebut pengejaran berlangsung dua hari. Dua hari untuk menangkap dua orang. Tapi entah sudah berapa tahun jaringan ini dibiarkan berdenyut, bernafas, bahkan mungkin berkembang biak dengan nyaman di bawah hidung semua pihak yang seharusnya “tidak kecolongan”.

Saat penangkapan, MSL mencoba kabur, bahkan melawan. Sebuah tindakan yang dalam narasi resmi selalu berujung sama: “tindakan tegas dan terukur.” Kalimat yang terdengar rapi di atas kertas, namun menyimpan realitas bahwa hukum di lapangan seringkali lebih cepat bicara dengan peluru daripada dengan pencegahan.

Seratus gram sabu berhasil diamankan. Satu ons. Angka yang bagi sebagian orang mungkin tampak besar, tapi bagi jaringan narkoba, itu bisa jadi hanya serpihan dari gunung es yang lebih masif, lebih licin, dan lebih sulit disentuh.

Kasat Resnarkoba menegaskan tidak ada ruang bagi pelaku narkoba di Medan. Pernyataan yang gagah, tegas, dan berulang kali kita dengar. Namun realitas di lapangan seringkali membalas dengan senyum sinis: ruang itu selalu ada—kadang di gang sempit, kadang di balik meja yang lebih rapi.

Kita pun dipaksa bertanya, dengan nada yang semakin getir: apakah peluru benar-benar solusi, atau hanya penutup sementara dari luka yang lebih dalam? Sebab selama permintaan masih hidup, selama sistem masih bisa dinegosiasikan, dan selama moral masih bisa ditawar, maka sabu akan selalu menemukan jalannya.

Akhirnya, “dor” malam itu bukan sekadar suara tembakan. Ia adalah alarm keras bahwa perang ini belum selesai—dan mungkin belum benar-benar dimulai dengan cara yang benar.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *