Di tengah zaman ketika banyak orang lebih cepat menghafal kode promo daripada rumus pelajaran, sebuah pemandangan yang agak tidak biasa muncul di Medan. Perusahaan transportasi online Maxim mendadak menggeser fokus dari mengantar penumpang menjadi mengantar semangat belajar lewat ajang “Maxim Quiz: English Brain Game”.
Biasanya, aplikasi transportasi identik dengan urusan titik jemput, tarif perjalanan, dan sesekali drama mencari lokasi pelanggan yang ternyata “di depan rumah warna hijau” di gang yang semua rumahnya berwarna hijau. Namun kali ini, Maxim memilih jalur berbeda: mengumpulkan pelajar untuk adu kecerdasan, bukan adu kecepatan menerima order.
Kompetisi yang disebut sebagai yang pertama digelar di Sumatera Utara itu berlangsung di SMK Negeri 8 Medan, kemarin. Puluhan siswa SMA dan SMK ditantang menjawab berbagai pertanyaan pengetahuan umum dan bahasa Inggris. Suasananya cukup menegangkan. Bedanya, yang berkeringat kali ini bukan pengendara motor di bawah terik matahari, melainkan para peserta yang berusaha mengingat jawaban sebelum bel berbunyi.
Menariknya, acara ini tidak hanya menguji kemampuan akademik. Para peserta juga mendapatkan bekal tambahan berupa edukasi keselamatan berkendara dari Satlantas Polres Medan dan Jasa Raharja. Sebuah pengingat bahwa mengetahui arti present perfect tense memang penting, tetapi mengetahui cara memakai helm dengan benar juga tidak kalah penting.
Belum cukup sampai di situ, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Utara turut hadir memberikan penyuluhan bahaya narkoba. Jadi dalam satu hari, para pelajar mendapatkan paket lengkap: belajar bahasa Inggris, belajar keselamatan di jalan, sekaligus belajar cara menjauhi hal-hal yang bisa merusak masa depan.
Head of Subdivision Maxim Medan, Erick Elfrada Sinurat, berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk melatih kemampuan berpikir cepat, menambah wawasan, dan meningkatkan rasa percaya diri. Sebab di era sekarang, keberanian menjawab pertanyaan kadang lebih langka daripada sinyal internet yang stabil saat hujan deras.

Pihak sekolah tentu menyambut baik kegiatan tersebut. Kepala SMK Negeri 8 Medan, Wilma Handayani, menilai kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor swasta seperti ini memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi siswa. Lagi pula, sesekali belajar di luar format ulangan harian memang terasa lebih menyenangkan daripada mendengar kalimat, “Anak-anak, hari ini kita ada tes mendadak.”
Jasa Raharja juga memanfaatkan momentum ini untuk mengenalkan pentingnya perlindungan dan keselamatan berkendara kepada generasi muda. Sebuah langkah yang masuk akal mengingat banyak remaja yang sudah fasih mengendarai motor, tetapi terkadang masih menganggap lampu sein sebagai fitur dekoratif.
Sementara itu, BNN mengingatkan bahwa masa depan generasi muda jauh lebih berharga daripada godaan sesaat dari narkoba. Pesan yang sederhana namun penting: lebih baik kecanduan membaca buku atau belajar bahasa Inggris daripada kecanduan hal-hal yang justru menghambat masa depan.
Pada akhirnya, kompetisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk papan tulis dan tumpukan tugas. Kadang ia datang lewat kuis yang seru, pertanyaan yang memancing rasa ingin tahu, dan kolaborasi berbagai pihak yang peduli pada generasi muda. Jika biasanya aplikasi transportasi membantu orang mencapai tujuan perjalanan, kali ini Maxim tampaknya sedang mencoba membantu para pelajar mencapai tujuan yang lebih jauh: masa depan yang lebih baik. Dengan catatan, tentu saja, mereka tetap rajin belajar dan tidak hanya mengandalkan fitur pencarian jawaban di internet.(***)






