Dafaa Jadi Tembok Berjalan, Australia Dibuat Frustrasi di Babak Pertama Semifinal AFF U-19 2026
Deli Serdang – Timnas Indonesia U-19 berhasil menahan gempuran bertubi-tubi Australia pada babak pertama semifinal ASEAN U-19 Boys Championship 2026 atau Piala AFF U-19 di Stadion Utama Sumatera Utara. Hingga turun minum, kedua tim masih bermain imbang tanpa gol.
Sejak peluit pertama dibunyikan wasit Baizanarov Alimardon, Australia yang ditangani Richard Garcia langsung menunjukkan status mereka sebagai juara Grup C dengan permainan agresif dan tempo tinggi.
Lini belakang Indonesia dipaksa bekerja ekstra keras menghadapi kombinasi serangan yang dibangun oleh kapten Australia Haine Anthony Eames bersama rekan-rekannya seperti Medin Memerintah, Amlani Ratu dan Oliver Ilija Dragicevic yang beberapa kali mengancam dari sektor sayap.
Namun, setiap peluang yang mengarah ke gawang Indonesia seolah menemukan satu rintangan besar bernama Dafa Al Gasemi Setiawarman. Penjaga gawang bernomor punggung 23 itu tampil luar biasa dengan sederet penyelamatan penting.
Australia beberapa kali memperoleh tendangan bebas di area berbahaya. Situasi yang biasanya membuat pelatih berdiri tegang di pinggir lapangan justru berubah menjadi ajang unjuk refleks bagi Dafaa. Satu demi satu bola hasil eksekusi pemain Australia berhasil ditepis dengan gemilang.
Di tribune stadion, para pendukung Garuda Muda sempat beberapa kali menahan napas saat bola meluncur deras menuju gawang. Untungnya, tangan Dafaa bekerja lebih cepat daripada rasa cemas ribuan penonton yang memenuhi stadion.
Pelatih Indonesia Nova Arianto tampak terus memberikan instruksi dari tepi lapangan. Anak asuhnya dipaksa lebih banyak bertahan dibandingkan biasanya, meski sesekali mencoba keluar melalui serangan balik yang dipimpin Arkham Kaka Putra Purwanto dan Dimas Aditya Prasetyo.
Kapten Indonesia I Putu Panji Apriawan juga tampil disiplin mengawal pertahanan bersama Mathew Ryan Baker yang baru bergabung dengan skuad menjelang semifinal.
Sementara itu, Australia terus mencoba membongkar pertahanan Garuda Muda melalui kombinasi umpan-umpan pendek dan bola mati. Sayangnya bagi Young Socceroos, mereka belum menemukan cara untuk melewati “kode keamanan” bernama Dafaa.
Jika ada penghargaan pemain paling sibuk pada babak pertama, mungkin Dafaa sudah bisa mengklaimnya sebelum turun minum. Saat pemain lain masih mencari ritme permainan, sang kiper sudah lebih dulu berkeringat karena berkali-kali menjadi penyelamat Indonesia.
Babak pertama pun berakhir dengan skor 0-0. Australia boleh unggul dalam tekanan dan peluang, tetapi Indonesia masih berdiri tegak berkat ketangguhan lini belakang dan penampilan heroik Dafaa di bawah mistar. Pertarungan menuju tiket final masih terbuka lebar pada 45 menit kedua. (***)





