Paviliun Kayu yang Diam-Diam Menyindir Kita
Di tengah semarak Pekan Raya Sumatera Utara yang merayakan usia emas ke-50, hampir semua daerah berlomba tampil paling mencolok. Ada yang memikat dengan permainan lampu, ada yang sibuk menghadirkan teknologi, bahkan ada yang lebih mirip pusat perbelanjaan daripada rumah budaya. Eits ada juga yang menghadirkan produk unggulan rokok hasil daerah Kota Pematang Siantar, termasuk kopi yang kita kenal sehari-hari di warung kopi.
Kabupaten Batu Bara justru memilih jalan yang berbeda. Paviliunnya berdiri anggun dengan dominasi kayu, mengusung bentuk rumah panggung khas Melayu. Tidak berteriak minta perhatian, tetapi justru membuat orang ingin mendekat. Seolah bangunan itu sedang berbisik, “Kalau punya identitas, tak perlu banyak sensasi,| ujar Maya, pengunjung yang datang.
Paviliun Kabupaten Batu Bara tampil memikat dengan arsitektur rumah panggung khas Melayu yang seluruh fasadnya didominasi material kayu berwarna cokelat tua. Atapnya bertingkat dengan kemiringan yang tegas, dihiasi ukiran dan lis berornamen Melayu yang memperkuat kesan anggun sekaligus berwibawa.
Bangunan ini ditopang tiang-tiang kokoh, sementara teras yang luas dengan pagar kayu mengundang pengunjung untuk singgah dan menikmati suasana yang hangat. Dari kejauhan, paviliun ini tidak tampak mencolok karena kemewahan, melainkan karena keaslian karakternya. Kehadiran kayu yang mendominasi setiap sudut bangunan menghadirkan nuansa alami, teduh, dan bersahaja, seolah membawa pengunjung kembali pada filosofi rumah Melayu yang dibangun selaras dengan alam, menjadikan paviliun ini bukan sekadar tempat pameran, tetapi juga representasi identitas budaya Kabupaten Batu Bara yang tetap kokoh berdiri di tengah arus modernisasi.
Rumah panggung bukan sekadar soal bentuk. Ia adalah warisan cara berpikir masyarakat Melayu yang mampu berdamai dengan alam. Lantai yang ditinggikan melindungi dari banjir, sirkulasi udara mengalir bebas, sementara kayu menghadirkan kehangatan yang sulit ditiru beton. Nenek moyang ternyata sudah mengenal konsep bangunan yang ramah lingkungan jauh sebelum istilah green building menjadi tren.
Yang menarik, isi paviliun ternyata tidak kalah kaya dibanding tampilannya. Di balik dinding-dinding kayu itu, tersusun 154 jenis produk unggulan hasil karya Dekranasda, TP PKK, pelaku UMKM, hingga koperasi Kabupaten Batu Bara. Etalasenya dipenuhi beragam produk, mulai dari kuliner, makanan dan minuman, makanan olahan dalam kaleng, aneka anyaman, songket, hingga bakal tenun yang menjadi kebanggaan daerah.
Harganya pun beragam. Ada produk yang ramah di kantong, ada pula kain tenun dan songket berkualitas tinggi yang nilainya mencapai lebih dari Rp500 ribu. Harga yang sebenarnya bukan sekadar membayar selembar kain, melainkan menghargai ketekunan tangan-tangan pengrajin yang merawat tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.
Di sinilah letak sindiran halus paviliun Batu Bara. Ketika dunia sibuk mengejar sesuatu yang serba instan, masih ada orang-orang yang sabar menenun benang demi benang, menganyam helai demi helai, dan mengolah hasil bumi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Ternyata, kesabaran masih bisa dijual, bahkan memiliki harga.
Ironisnya, kita sering lebih bangga memakai barang bermerek dari luar, tetapi lupa bahwa karya anak daerah memiliki cerita yang jauh lebih mahal daripada labelnya. Padahal setiap motif songket menyimpan filosofi, setiap anyaman mengandung keterampilan turun-temurun, dan setiap produk kuliner membawa cita rasa kampung halaman.
Paviliun Batu Bara seakan mengingatkan bahwa kemajuan tidak selalu identik dengan gedung tinggi dan layar digital. Kemajuan juga bisa lahir dari tangan ibu-ibu PKK yang tekun berkarya, para pengrajin Dekranasda yang menjaga warisan budaya, serta pelaku koperasi dan UMKM yang terus berusaha menghidupkan ekonomi masyarakat.
Mungkin inilah pesan yang ingin disampaikan tanpa harus menggurui. Bahwa sebuah daerah tidak hanya dikenal dari megahnya bangunan, tetapi dari kemampuannya merawat identitas sekaligus mengubahnya menjadi sumber kesejahteraan.
Di usia emas Pekan Raya Sumatera Utara yang ke-50, Paviliun Kabupaten Batu Bara hadir bukan sekadar sebagai tempat pameran. Ia adalah pengingat bahwa budaya tidak seharusnya hanya dipajang untuk difoto. Budaya harus hidup, dipakai, dipasarkan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dan di tengah gemerlap paviliun lain yang berlomba tampil paling modern, rumah kayu itu tetap berdiri tenang. Seolah ingin mengatakan, yang paling berharga bukanlah apa yang paling baru, melainkan apa yang tetap mampu bertahan tanpa kehilangan jati dirinya.(***)







