Belajar Siaga Bencana dari BPBD Sumut: Jangan Tunggu Musibah Datang Baru Panik

Belajar Siaga Bencana dari BPBD Sumut: Jangan Tunggu Musibah Datang Baru Panik

Medan – Banyak orang baru teringat soal bencana ketika banjir mulai masuk rumah, gempa mengguncang, atau kebakaran terjadi di sekitar lingkungan. Padahal, kesiapsiagaan seharusnya dimulai jauh sebelum musibah datang. Itulah pesan yang ingin disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara kepada masyarakat.

Di stan BPBD Sumut, Senin 27 Juli 2026, pengunjung tidak hanya melihat berbagai peralatan penyelamatan, tetapi juga mendapatkan penjelasan langsung mengenai fungsi dan cara penggunaannya. Edukasi tersebut disampaikan Dolly Ritonga dan Billi Lubis, yang memperkenalkan peralatan penanganan bencana mulai dari kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, banjir, hingga penyelamatan di kawasan Danau Toba dan Kabupaten Samosir.

Menurut mereka, setiap alat memiliki fungsi berbeda dan tidak bisa digunakan sembarangan.

“Yang terpenting bukan hanya memiliki alat, tetapi masyarakat juga harus tahu apa fungsi alat tersebut. Dengan begitu, mereka memahami bagaimana proses penyelamatan dilakukan saat terjadi bencana,” jelas Dolly.

Salah satu peralatan menarik perhatian pengunjung adalah sepeda motor pemadam kebakaran hutan dan lahan. Kendaraan ini dirancang untuk menjangkau lokasi yang sulit dilalui mobil pemadam.

Motor tersebut dilengkapi mesin pompa air, selang penyedot, selang penyemprot, jerigen bahan bakar, serta nozzle pemadam. Mesin pompa mengambil air dari sungai maupun danau melalui selang yang telah dilengkapi saringan agar kotoran tidak ikut masuk ke dalam mesin.

Untuk wilayah perairan seperti Danau Toba, BPBD juga memiliki mesin pompa apung. Berbeda dengan pompa biasa, alat ini dapat mengapung di permukaan air sehingga mampu menyedot air langsung dari tengah danau untuk membantu proses pemadaman maupun penyelamatan.

Selain peralatan pemadam, BPBD juga memperkenalkan berbagai perlengkapan keselamatan bagi petugas. Mulai dari APD (alat pelindung diri) lengkap untuk pemadam kebakaran, APD penyelamatan di air, hingga perlengkapan khusus untuk operasi di medan tinggi. Semua digunakan agar petugas dapat bekerja dengan aman saat menolong korban.

Motto BPBD, “Siap untuk Selamat,” menjadi pengingat keselamatan petugas dan masyarakat sama pentingnya dalam setiap operasi penyelamatan.

Pengunjung juga dikenalkan dengan berbagai jenis tandu yang memiliki fungsi berbeda.

Tandu Basket: Untuk evakuasi di medan ekstrem seperti jurang, tebing, longsor, dan penyelamatan di ketinggian.
Tandu Spencer (Folding Stretcher): Untuk membawa korban di medan yang sempit, pegunungan, atau lokasi yang sulit dijangkau karena ringan dan mudah dilipat.
Tandu Spinal (Spinal Board): Untuk korban yang diduga mengalami cedera tulang belakang atau leher agar posisi tubuh tetap stabil.
Tandu Scoop (Scoop Stretcher): Untuk mengangkat korban patah tulang atau cedera berat tanpa harus banyak menggerakkan tubuhnya, sehingga risiko cedera bertambah dapat diminimalkan.

Dalam penanganan bencana gempa, BPBD memperlihatkan dongkrak hidrolik yang berfungsi mengangkat reruntuhan bangunan atau dinding yang roboh. Alat ini menggunakan tekanan hidrolik sehingga mampu mengangkat beban berat saat proses evakuasi korban.

Tidak hanya itu, tersedia pula mesin pemotong beton dan mesin pemotong baja yang digunakan untuk membuka akses menuju korban yang terjebak di balik reruntuhan bangunan.

Sementara untuk penyelamatan di tebing maupun gedung bertingkat, BPBD menggunakan tali karmantel, yaitu tali khusus yang memiliki daya tahan tinggi dan menjadi perlengkapan utama dalam operasi penyelamatan di ketinggian.

Dolly Ritonga berharap masyarakat tidak hanya melihat peralatan tersebut sebagai pajangan, tetapi memahami manfaatnya.

“Semakin banyak masyarakat mengenal peralatan kebencanaan, semakin tinggi pula kesadaran untuk selalu siap menghadapi situasi darurat. Edukasi seperti ini sangat penting karena bencana bisa terjadi kapan saja,” ujarnya.

Ada satu pelajaran sederhana yang bisa dibawa pulang setelah berkunjung ke stan BPBD Sumut. Banyak orang hafal fitur ponsel terbaru, tetapi belum tentu tahu fungsi tandu spinal atau dongkrak hidrolik. Padahal, saat bencana datang, yang dibutuhkan bukan kecanggihan gawai, melainkan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kerja sama.

Karena pada akhirnya, bencana memang tidak bisa dihentikan. Namun dampaknya bisa dikurangi jika masyarakat mengenal risiko, memahami fungsi peralatan penyelamatan, dan memiliki kesiapan menghadapi keadaan darurat. Seperti motto BPBD Sumut, “Siap untuk Selamat.”(***)

Foto kiri atas searah jam jam: foto stand BPBD Provsu, mesin gerinda besi dan gerinda beton, sepedamotor pemadan kebakaran lahan dan hutan, tandu spencer dan spolding, tandu spinal dan pompa apung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *