Hari Ayurveda 2026 di USU: India dan Indonesia Bicara Pengobatan Tradisional, Mahasiswa Dapat Ilmu Plus Goodie Bag
MEDAN — Pengobatan tradisional kembali mendapat panggung akademik. Konsulat Jenderal India di Medan bersama Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar Hari Ayurveda 2026 di Fakultas Farmasi USU, Medan, Rabu (23/9/2026).
Mengusung tema “Ayurveda untuk Masa Depan yang Lebih Sehat”, kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, pakar dan mahasiswa untuk membahas Ayurveda sekaligus melihat relevansinya dengan kesehatan dan kebugaran masyarakat modern.
Acara itu turut dihadiri Tenaga Ahli Gubernur Sumatera Utara bidang Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan Pemberdayaan Masyarakat, Alfi Syahriza, yang hadir mewakili Gubernur Sumatera Utara.
Hadir pula Dekan Fakultas Farmasi USU Prof. Apt. Khairunnisa, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan Internasionalisasi Dr. Apt. Henny Sri Wahyuni, Ketua PHRI Sumatera Utara Melky Waas, serta sejumlah pimpinan organisasi pariwisata dan pelaku industri, antara lain Tengku Fery dari ASTINDO, Surya Salim dari ASITA dan Fauzi Haya dari ASPPI.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan sambutan Prof. Apt. Khairunnisa, kemudian dilanjutkan sambutan Ravi Shanker Goel, Konsul Jenderal India di Medan.
Alfi Syahriza kemudian menyampaikan sambutan selamat datang mewakili Gubernur Sumatera Utara.
Dua pejabat diplomatik Indonesia juga turut menyampaikan sambutan secara daring, yakni Edy Wardoyo, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Mumbai, dan Yudho Sasongko, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi.
Ayurveda Bertemu Jamu
Konsul Jenderal India Ravi Shanker Goel menekankan pentingnya Ayurveda dan pengobatan tradisional sekaligus membuka peluang penguatan kerja sama India dan Indonesia, terutama dengan USU.
Pembahasan menjadi lebih menarik ketika Professor Dr. Sumit Naithani dari National Institute of Ayurveda, Jaipur, India, di bawah Kementerian Ayush Pemerintah India, memaparkan Ayurveda serta kemiripannya dengan jamu, tradisi pengobatan yang sudah lama dikenal di Indonesia.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama mahasiswa dan peserta.
Selain Sumit Naithani, sesi akademik juga diisi Muhammad Fauzan dari USU, kemudian Prof. Dr. Gautam Kumar Jha dari Jawaharlal Nehru University, India, yang mengikuti kegiatan secara daring.
Peserta mendapat kesempatan bertanya langsung mengenai Ayurveda, pengobatan tradisional dan kemungkinan pengembangannya dalam konteks kesehatan modern.
Ada pula sesi presentasi dari PT Himalaya Wellness, perusahaan multinasional asal India yang telah hadir di Indonesia. Perwakilan perusahaan menjelaskan profil perusahaan sekaligus ketersediaan produknya di Indonesia.
Dari Ruang Kuliah sampai Goodie Bag
Acara tidak sepenuhnya berlangsung dengan wajah akademik yang serius. Di sela diskusi, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengikuti kuis yang digelar Konsul Jenderal Ravi Shanker Goel.
Hadiah diberikan kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan.
Goodie bag yang disponsori Himalaya Wellness juga dibagikan kepada peserta selama sesi tanya jawab.
Namanya juga acara yang ingin mendekatkan diplomasi kepada generasi muda. Jadi, selain membawa pulang pengetahuan tentang Ayurveda, sebagian peserta pulang membawa bingkisan. Setidaknya, diplomasi kali ini tidak hanya meninggalkan materi presentasi di layar proyektor.
Namun inti kegiatan tetap berada pada pertukaran pengetahuan.
Perayaan Hari Ayurveda 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan Ayurveda kepada mahasiswa sekaligus membuka pembicaraan mengenai titik temu antara tradisi pengobatan India dan jamu Indonesia.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan akademik dan hubungan antarmasyarakat antara India dan Indonesia.
Bagi USU, forum semacam ini juga membuka peluang kerja sama lebih luas di bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan pengobatan tradisional.
Sementara bagi hubungan India-Indonesia, Ayurveda dan jamu bisa menjadi salah satu jembatan baru. Dua tradisi kesehatan yang sama-sama lahir dari pengalaman panjang masyarakat kini mendapat kesempatan untuk dibicarakan dalam bahasa akademik.
Karena tradisi boleh tua, tetapi ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti mencari cara agar tradisi tersebut tetap relevan di masa depan.(***)






