Rico Waas: Keberagaman Bukan Pajangan, tapi Kekuatan Kota Medan

Rico Waas: Keberagaman Bukan Pajangan, tapi Kekuatan Kota Medan

MEDAN — Kota Medan memang tidak pernah kekurangan warna. Beragam etnis, agama dan budaya hidup berdampingan dalam satu kota. Tantangannya tinggal satu: jangan sampai keberagaman hanya ramai ketika ada seremoni, sementara ketika masyarakat beribadah justru harus sibuk mencari rasa aman sendiri.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan, keberagaman bukan sekadar identitas, melainkan kekuatan yang harus dijaga bersama.

Hal itu disampaikan Rico saat menerima audiensi Panitia Peringatan 100 Tahun Buddhis Tamil Nusantara di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Kamis (1/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Rico menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga kehidupan beragama agar tetap harmonis. Menurutnya, sebagai kota yang heterogen, Medan membutuhkan komitmen nyata sehingga seluruh masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.

“Yang terpenting adalah bagaimana keagamaan masyarakat bisa terlindungi sehingga selalu aman dalam beribadah. Pemahaman kita, setiap manusia berhak memiliki agama apapun,” ujar Rico.

Menurutnya, keterbukaan Pemerintah Kota Medan terhadap berbagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan merupakan bagian dari upaya menjadikan Medan sebagai rumah bersama bagi seluruh kelompok masyarakat.

Termasuk komunitas Buddhis Tamil yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan perkembangan Kota Medan.

“Pemko Medan selalu mendukung dan sangat terbuka terhadap agama apapun yang ingin merayakan hari besar agama maupun budaya,” kata Rico.

100 Tahun Buddhis Tamil Jangan Sekadar Seremoni

Memasuki momentum satu abad Buddhis Tamil Nusantara, Rico berharap peringatan tersebut tidak berhenti sebagai acara seremonial yang selesai begitu panggung dibongkar dan kursi tamu dikembalikan.

Ia mendorong panitia untuk menghadirkan sisi sejarah, spiritualitas dan nilai-nilai kebudayaan yang lebih mendalam dalam rangkaian peringatan tersebut.

“Dalam acara nantinya saya berharap bukan sekadar perayaan, namun benar-benar menampilkan kesakralan agama,” pesan Rico.

Pesan itu menjadi penting karena perjalanan 100 tahun tentu bukan sekadar angka yang bagus dicetak besar-besar di spanduk.

Di balik satu abad tersebut terdapat perjalanan komunitas, sejarah keagamaan, kebudayaan dan kontribusi masyarakat Tamil yang menjadi bagian dari mozaik kehidupan Sumatera Utara.

Pembina Masyarakat (Pembimas) Buddha Sumatera Utara Sukasdi mengapresiasi keterbukaan Pemko Medan terhadap kegiatan keagamaan dan kebudayaan.

Dalam kesempatan itu, Sukasdi turut mengundang Rico untuk hadir pada puncak peringatan 100 Tahun Buddhis Tamil Nusantara yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026 di Hotel Selecta.

Menurut Sukasdi, peringatan satu abad tersebut membawa sejumlah misi penting, terutama untuk menelusuri kembali perjalanan etnis Tamil di Sumatera Utara.

“Peringatan 100 tahun ini akan membawa misi besar menelusuri kembali rekam jejak etnis Tamil di Sumatera Utara, merunut sejarah berdirinya vihara pertama, hingga aksi nyata menjaga alam melalui gerakan penghijauan,” jelasnya.

Dengan demikian, peringatan satu abad Buddhis Tamil diharapkan tidak hanya menjadi ajang mengenang perjalanan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi komunitas terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.

Sebab, keberagaman Kota Medan bukan sekadar tentang siapa yang berbeda dengan siapa. Lebih penting lagi, bagaimana semua perbedaan tersebut bisa hidup berdampingan tanpa harus saling bertanya siapa yang paling berhak menjadi bagian dari kota ini.

Medan sudah lama menjadi rumah bersama. Tinggal bagaimana seluruh penghuninya terus merawat rumah tersebut—termasuk memastikan setiap orang bebas beribadah, menjaga budaya, sekaligus berkontribusi untuk kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *