Kejar-kejaran 5 Kilometer, Polisi Sergap Kurir Narkoba Bawa 450 Pod Getar Asal Malaysia
MEDAN – Aksi kejar-kejaran sepanjang sekitar lima kilometer mewarnai pengungkapan kasus dugaan peredaran narkoba yang dilakukan Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Medan.
Seorang pria berinisial RS (31), warga Kabupaten Aceh Selatan, Aceh, akhirnya diringkus polisi setelah kendaraan yang dikemudikannya dibuntuti petugas dari kawasan Jalan Ngumban Surbakti hingga Jalan Setia Budi, Medan, Senin (21/9/2026) dinihari.
Dari dalam mobil tersebut, polisi menemukan 450 pod getar yang diduga mengandung narkotika dan disebut berasal dari Malaysia.
Kasatresnarkoba Polrestabes Medan AKBP Rafli Yusuf Nugraha, SH, SIK, MIP, saat memberikan keterangan, Kamis (8/10/2026), mengatakan pengungkapan kasus tersebut bermula dari informasi masyarakat mengenai dugaan adanya pengiriman narkoba dalam jumlah besar.
Informasi itu kemudian ditindaklanjuti Tim 2 Subnit 1 Unit 1 Satresnarkoba Polrestabes Medan dengan melakukan penyelidikan.
Tim yang dipimpin Kanit 1 Satresnarkoba Polrestabes Medan AKP Ruspian, SH, MH, kemudian mengidentifikasi sebuah mobil yang melintas di kawasan Ngumban Surbakti.
Polisi tidak langsung menyergap kendaraan tersebut. Petugas memilih membuntuti mobil guna memastikan tujuan pengiriman barang yang dicurigai sebagai narkoba.
Namun, gerak-gerik pengemudi justru semakin mencurigakan. Situasi tersebut membuat petugas memutuskan melakukan penyergapan.
“Kami sempat membuntuti mobil pelaku, namun dalam proses pembuntutan gerak-gerik laju mobil pelaku semakin mencurigakan, sehingga kami putus melakukan penyergapan di Jalan Setia Budi Medan, setelah pembuntutan dan kejar-kejaran berlangsung sejauh 5 kilometer,” ungkap Rafli.
Penyergapan akhirnya berhasil. RS diamankan petugas tanpa kesempatan melanjutkan perjalanan.
Dari pemeriksaan awal terhadap kendaraan, polisi menemukan 450 pod getar yang disimpan di kursi tengah mobil.
Barang tersebut terdiri atas 320 pod getar merek King dan 130 pod getar merek Wukong.
“Narkoba kami temukan di kursi tengah mobil yang dikemudikan pelaku, 320 pod getar merek King dan 130 pod getar merek Wukong,” kata Rafli.
Selain barang yang diduga narkotika, polisi juga menyita sejumlah lembar mata uang asing, di antaranya mata uang Malaysia, Singapura, China dan Mesir.
Mengaku Baru Sekali, Tapi Bolak-balik Malaysia
Dalam pemeriksaan, RS mengaku baru pertama kali menjalankan tugas sebagai kurir narkoba.
Namun, pengakuan tersebut masih didalami penyidik.
Polisi menemukan adanya indikasi yang mengarah pada dugaan keterlibatan RS dalam jaringan narkoba lintas negara. Salah satu petunjuknya adalah rekam perjalanan tersangka yang dalam sebulan terakhir disebut cukup sering melakukan perjalanan antara Indonesia dan Malaysia.
“Pelaku ini bolak-balik Indonesia-Malaysia, kita menduga yang bersangkutan masuk dalam jaringan utama. Pelaku juga berupaya menghilangkan jejak komunikasi, karena saat diringkus hal yang pertama kali dilakukan pelaku adalah merusak handphone-nya sendiri,” beber Rafli.
Kalau benar baru sekali menjadi kurir, frekuensi perjalanan lintas negara tersebut tentu menjadi bagian penting yang harus dijelaskan. Apalagi, dalam perkara narkoba jaringan internasional, perjalanan berulang tentu bukan sekadar urusan wisata kuliner.
Polisi kini masih melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan yang berada di balik pengiriman 450 pod getar tersebut.
Penyidik memburu pemasok sekaligus pihak yang diduga menjadi pengendali RS. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, pihak tersebut diduga berada di Malaysia.
Polisi Kejar Pengendali Jaringan
Polrestabes Medan memastikan pengungkapan tersebut tidak berhenti pada penangkapan kurir.
Polisi akan mengejar pihak lain yang diduga terlibat, termasuk pemasok dan pengendali jaringan.
“Kami pastikan para DPO akan kami terus kejar, karena ini bagian dari upaya menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya narkoba,” pungkas Rafli.
Pengungkapan ini kembali menunjukkan bahwa jalur lintas negara masih menjadi perhatian aparat dalam upaya memutus mata rantai peredaran narkoba di Sumatera Utara.
Bagi polisi, menangkap kurir hanyalah satu mata rantai. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan siapa yang mengirim, siapa yang mengendalikan dan ke mana barang tersebut seharusnya berakhir.
Sebab, jika hanya kurir yang tertangkap sementara bandar dan pengendalinya tetap nyaman dari kejauhan, perang melawan narkoba hanya seperti mengejar asap tanpa memadamkan apinya.(***)






