Tokoh Masyarakat Kotamobagu Temui Kolonel Edward Sitorus, Cari Bekal Persiapkan Anak Jadi Taruna TNI-Polri

Tokoh Masyarakat Kotamobagu Temui Kolonel Edward Sitorus, Cari Bekal Persiapkan Anak Jadi Taruna TNI-Polri

BANDUNG – Menyiapkan masa depan anak ternyata tidak cukup hanya dengan memasrahkan semuanya kepada doa dan keberuntungan. Orang tua juga perlu tahu medan yang akan dihadapi anak, termasuk ketika sang anak bercita-cita menjadi taruna TNI maupun anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Hal itulah yang mendorong tokoh masyarakat Kotamobagu, Sudirman Sulaiman, yang akrab disapa Haji Ninong, menemui Kolonel Kav. Edward Sitorus di Bandung, Rabu (7/10/2026).

Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Haji Ninong sengaja datang untuk menggali motivasi, pengalaman dan pandangan Edward Sitorus mengenai persiapan yang perlu dilakukan orang tua ketika mendampingi anak mengejar cita-cita menjadi prajurit TNI maupun anggota Polri.

Menurut Haji Ninong, cita-cita anak harus didukung dengan persiapan yang matang. Orang tua perlu memahami bahwa proses seleksi membutuhkan kesiapan dari berbagai sisi, mulai dari fisik, mental, akademik, kedisiplinan hingga karakter.

Dengan kata lain, anak tidak bisa hanya dibekali kalimat klasik, yang penting berusaha dan berdoa, lalu berharap seluruh persoalan selesai dengan sendirinya.

Karena itu, ia memilih berdiskusi langsung dengan Edward Sitorus, perwira TNI Angkatan Darat yang selama ini aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kehidupan prajurit dan berbagai persiapan yang diperlukan generasi muda.

Dari Barak ke Layar Ponsel

Edward Sitorus kini dikenal tidak hanya sebagai perwira TNI, tetapi juga sebagai figur yang aktif di ruang digital.

Ia dikenal sebagai YouTuber dan TikToker dengan jumlah pengikut sekitar 800 ribu. Melalui berbagai kontennya, Edward kerap membagikan informasi dan edukasi mengenai kehidupan prajurit, kedisiplinan, pembinaan diri serta berbagai hal yang berkaitan dengan persiapan generasi muda yang memiliki cita-cita mengabdikan diri melalui TNI.

Kehadiran Edward di media sosial membuat informasi mengenai dunia TNI dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Tidak hanya anak muda, tetapi juga para orang tua yang sedang mempersiapkan putra-putrinya menghadapi proses seleksi.

Dunia militer yang dahulu identik dengan lapangan latihan dan barak, kini sebagian informasinya ikut masuk ke layar telepon genggam.

Media sosial pun tidak selamanya soal joget, tren dan hiburan. Dalam konteks tertentu, layar ponsel juga bisa menjadi ruang belajar—meski tentu saja tetap harus dibedakan antara informasi edukasi dan ketentuan resmi seleksi.

Persiapan Harus Terukur

Dalam pertemuan tersebut, Haji Ninong menggali berbagai pandangan mengenai persiapan yang sebaiknya dilakukan sejak dini.

Pembahasan mencakup pembentukan fisik, kesiapan mental, akademik, kedisiplinan hingga karakter.

“Persiapan yang baik harus dilakukan secara wajar dan terukur, dengan tetap mengikuti seluruh ketentuan serta mekanisme seleksi resmi yang berlaku,” kata Haji Ninong.

Menurutnya, informasi yang diperoleh dari pengalaman dan pandangan Edward Sitorus diharapkan dapat membantu orang tua memberikan pendampingan yang lebih tepat kepada anak.

Sebab, persiapan menghadapi seleksi bukan berarti mencari jalan pintas atau perlakuan khusus. Justru sebaliknya, persiapan diperlukan agar anak mampu menghadapi seluruh tahapan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami berharap nasihat dan pengalaman yang diperoleh dari Kolonel Edward Sitorus dapat menjadi bekal untuk memberikan pendampingan yang lebih baik kepada anak,” harap Haji Ninong.

Ikhtiar Seorang Ayah

Pertemuan di Bandung tersebut pada akhirnya menjadi gambaran sederhana tentang ikhtiar seorang ayah dalam mendampingi anak mengejar cita-cita.

Ada orang tua yang cukup memberikan dukungan dari rumah. Ada pula yang merasa perlu mencari informasi langsung kepada orang yang dianggap memiliki pengalaman di bidang tersebut.

Bagi Haji Ninong, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mempersiapkan anak agar tidak datang ke arena seleksi hanya dengan modal semangat.

Harapannya sederhana: ketika waktunya tiba, sang anak sudah memiliki kesiapan fisik, mental, akademik dan karakter yang dibutuhkan.

Di sisi lain, pertemuan tersebut juga menunjukkan bagaimana media sosial telah mengubah pola penyebaran informasi. Pengalaman seorang prajurit yang dahulu mungkin hanya diketahui lingkungan terbatas, kini dapat menjangkau ratusan ribu pengguna melalui YouTube dan TikTok.

Namun, satu hal tetap menjadi garis bawah: **konten media sosial dapat menjadi bahan edukasi dan motivasi, sementara syarat dan mekanisme penerimaan TNI maupun Polri tetap harus merujuk pada ketentuan resmi yang berlaku.**

Sebab untuk mengejar cita-cita menjadi prajurit, semangat memang diperlukan. Tetapi semangat tanpa persiapan bisa membuat langkah terhenti lebih cepat. Dan persiapan tanpa mengikuti aturan resmi tentu bukan jalan yang tepat.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *