Rico Waas Tinjau Trotoar Jalan Juanda dan Merak Jingga, Pejalan Kaki Jangan Lagi Dipaksa Uji Keseimbangan
MEDAN – Trotoar yang rata, nyaman, dan ramah bagi penyandang disabilitas seharusnya menjadi bagian normal dari wajah sebuah kota. Bukan fasilitas mewah yang membuat pejalan kaki harus ekstra hati-hati, seolah sedang mengikuti ujian keseimbangan di tengah kesibukan lalu lintas.
Pemerintah Kota (Pemko) Medan mulai membenahi persoalan tersebut melalui pembangunan trotoar di Jalan Juanda dan Jalan Merak Jingga. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas turun langsung meninjau pengerjaan di kedua ruas jalan itu untuk memastikan penataan berjalan sesuai rencana, Senin 12 Oktober 2026.
Pembangunan dilakukan dengan menata ulang penutup drainase atau cover slab menjadi trotoar yang lebih rata dan nyaman. Tak hanya itu, fasilitas tersebut juga dilengkapi jalur pemandu bagi penyandang disabilitas agar ruang publik lebih mudah diakses semua kalangan.
Di Jalan Juanda, panjang trotoar yang dikerjakan mencapai 1,48 kilometer. Sementara di Jalan Merak Jingga, pembangunan mencakup 1,28 kilometer. Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan menargetkan pengerjaan rampung menjelang akhir tahun.
Saat meninjau lokasi, Rico Waas didampingi Kepala Dinas SDABMBK Kota Medan, Khairul Azmi. Ia menjelaskan, penataan dilakukan dengan mengangkat penutup drainase, sedangkan saluran air di bawahnya tetap dipertahankan.
“Kalau sebelumnya kita memakai cover slab, permukaannya terkadang tidak rata, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Ini kurang nyaman bagi masyarakat. Jalur pemandu bagi penyandang disabilitas juga belum dibangun. Karena itu, sekarang kita bangun trotoar sekaligus menyediakan jalur pemandu,” ujar Rico.
Trotoar Bukan Arena Uji Keseimbangan
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang kerap dianggap sepele dalam pembangunan kota: kondisi trotoar yang tidak rata dan belum ramah bagi seluruh pengguna.
Padahal, bagi pejalan kaki, perbedaan tinggi permukaan trotoar bukan sekadar urusan estetika. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko tersandung atau terjatuh, terutama bagi lansia, anak-anak, dan warga dengan keterbatasan mobilitas.
Bagi penyandang disabilitas netra, jalur pemandu juga bukan ornamen pelengkap agar trotoar terlihat modern. Fasilitas itu merupakan bagian penting untuk membantu mereka bergerak secara lebih aman dan mandiri.
Karena itu, pembangunan trotoar semestinya tidak berhenti pada urusan memasang material baru atau membuat permukaan terlihat rapi. Kesinambungan jalur, kemudahan akses, dan kualitas pengerjaan juga perlu diperhatikan.
Sebab, trotoar yang bagus di satu titik tetapi terputus atau sulit digunakan di titik lain tetap menyisakan pekerjaan rumah bagi kota.
Pedagang Elektronik Diminta Mendapat Informasi
Dalam peninjauan di Jalan Merak Jingga, Rico Waas meminta jajaran kewilayahan setempat menginformasikan rencana penataan kepada para pedagang elektronik.
Jalan Merak Jingga dikenal sebagai salah satu tujuan masyarakat untuk berbelanja produk elektronik. Aktivitas perdagangan yang cukup ramai membuat penataan kawasan perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekaligus kegiatan usaha masyarakat.
Menurut Rico, drainase di kawasan tersebut sebelumnya telah dibangun. Namun, sejumlah bagian masih perlu dirapikan agar lingkungan terlihat lebih tertata dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat.
Penataan ini penting agar pembangunan fasilitas publik tidak berjalan sendiri tanpa komunikasi dengan warga maupun pelaku usaha yang beraktivitas setiap hari di lokasi tersebut.
Informasi yang jelas mengenai pengerjaan, akses keluar-masuk toko, serta pengaturan aktivitas selama pembangunan akan membantu mengurangi potensi gangguan terhadap kegiatan perdagangan.
Bagaimanapun, trotoar dibangun untuk memperbaiki kenyamanan kawasan, bukan malah membuat masyarakat bingung mencari jalan masuk ke toko yang hendak dituju.
Drainase Merak Jingga Ikut Dibenahi
Selain menyoroti trotoar, Rico juga menerima laporan warga mengenai genangan air di sejumlah titik di ujung Jalan Merak Jingga.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas SDABMBK Kota Medan telah merencanakan pelebaran drainase di seberang jalan, dekat kantor lurah. Langkah ini diharapkan dapat memperlancar aliran air dan mengurangi genangan yang terjadi akibat penumpukan debit air di kawasan itu.
“Pelan-pelan kita benahi. Kita ingin kawasan ini lebih tertata, nyaman bagi pejalan kaki, dan persoalan genangan air juga bisa ditangani,” katanya.
Rencana pelebaran drainase tersebut menjadi bagian penting dari penataan kawasan. Sebab, trotoar yang rapi akan kehilangan sebagian manfaatnya apabila pejalan kaki tetap harus berhadapan dengan genangan air setiap kali hujan turun.
Meski demikian, efektivitas penanganan genangan nantinya perlu dilihat dari hasil di lapangan, termasuk kelancaran aliran air setelah pengerjaan selesai.
Pembangunan Harus Terasa Manfaatnya
Pemko Medan berencana menata trotoar di sejumlah ruas jalan secara bertahap untuk meningkatkan kenyamanan pejalan kaki dan memperbaiki keteraturan kawasan perkotaan.
Langkah ini patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya membangun kota yang lebih ramah bagi warganya. Namun, pekerjaan rumah tidak selesai ketika proyek dinyatakan rampung. Pemeliharaan, pengawasan kualitas, dan ketertiban penggunaan trotoar juga perlu mendapat perhatian.
Jangan sampai trotoar yang baru dibangun justru kembali menjadi tempat parkir kendaraan, lapak tambahan, atau jalur yang terhalang berbagai benda sehingga pejalan kaki harus turun ke badan jalan.
Satire kecilnya, selama ini pejalan kaki kadang harus mengalah kepada kendaraan, menghindari permukaan yang tidak rata, lalu mencari jalan alternatif ketika trotoar terhalang. Padahal, mereka hanya ingin berjalan kaki tanpa perlu menyusun strategi seperti sedang menghadapi rintangan.
Kini, pembangunan trotoar di Jalan Juanda dan Merak Jingga diharapkan menjadi langkah nyata menuju ruang publik yang lebih manusiawi. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata panjang trotoar yang selesai dibangun, melainkan seberapa nyaman, aman, dan mudah fasilitas itu digunakan masyarakat.
Karena kota yang tertata bukan hanya kota yang enak dipandang dari balik kaca mobil, tetapi juga kota yang memberi ruang layak bagi mereka yang memilih berjalan kaki.(***)






