Bobby Nasution Sentil Rencana Kampung Kreatif Gunungsitoli: Jangan Wisatanya Cantik, Rumah Warga Tetap Reyot
GUNUNGSITOLI — Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengingatkan Pemerintah Kota Gunungsitoli agar penataan Kampung Kreatif Nou Berkah tidak sekadar mempercantik kawasan bantaran Sungai Nou. Perbaikan rumah warga miskin harus menjadi prioritas agar pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.
Pesan itu disampaikan Bobby saat mengevaluasi proposal pembangunan Kampung Kreatif Nou Berkah yang dipaparkan Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli di kediaman sementara Gubernur Sumut, Rabu (28/10/2026) malam.
Bobby menyoroti rencana anggaran sebesar Rp50 miliar yang diusulkan untuk menata kawasan tersebut. Menurutnya, pembangunan destinasi wisata harus berjalan seiring dengan pembenahan rumah warga, bukan justru membuat lingkungan terlihat indah dari luar sementara persoalan kemiskinan tetap tertinggal di belakang.
“Jangan sampai kita keluar anggaran Rp50 miliar untuk tempat wisata, tapi rumah warga di belakangnya tetap reyot dan tidak terintervensi. Warga sudah semangat, mereka harus mendapatkan dampak langsung pembangunan pada tempat tinggal mereka,” tegas Bobby.
Pernyataan itu menjadi catatan penting bagi rencana pengembangan kawasan bantaran Sungai Nou. Sebab, berdasarkan data yang dipaparkan, kawasan tersebut dihuni 1.756 jiwa atau 410 kepala keluarga (KK). Sebanyak 76,1 persen penduduk masuk kategori miskin ekstrem atau desil 1, dengan rata-rata pendapatan keluarga hanya sekitar Rp800.000 per bulan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama kawasan itu bukan semata-mata tampilan lingkungan, melainkan juga kondisi sosial dan ekonomi warganya. Jika pembangunan lebih menonjolkan fasilitas wisata tanpa memperhatikan rumah tidak layak huni, dikhawatirkan manfaat program tidak menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat.
Bobby pun meminta Pemko Gunungsitoli memastikan keakuratan data lapangan, termasuk legalitas alas hak tanah yang ditempati warga di Lingkungan I Kelurahan Hilir dan Lingkungan III Kelurahan Pasar. Pemerintah kota juga diminta menjelaskan secara pasti jumlah rumah yang akan mendapat perbaikan.
Ia turut menyoroti visualisasi perencanaan yang dinilai belum sepenuhnya memperlihatkan kondisi permukiman sebenarnya. Dalam gambar perencanaan, sejumlah rumah warga tampak tidak terlihat sehingga perlu dipastikan apakah hal tersebut berkaitan dengan rencana penggusuran atau sekadar kesalahan sudut pandang visualisasi.
“Saya lihat ada titik yang harusnya rumah-rumah warga hari ini ada, tapi ketika visualisasi perencanaan dibangun, rumah-rumahnya hilang. Ini perlu diperjelas, apakah memang benar ada penggusuran atau hanya kesalahan sudut pandang (positioning view) dalam visualisasi,” ujarnya.
Bobby juga mendorong agar perbaikan rumah warga miskin dimasukkan secara konkret dalam rencana kerja, baik melalui skema hibah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun dukungan APBD Kota Gunungsitoli.
Dengan demikian, penataan kawasan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, mural, atau fasilitas wisata, tetapi juga menjawab kebutuhan dasar masyarakat yang selama ini hidup dengan keterbatasan.
Sementara itu, Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli menjelaskan, kawasan bantaran Sungai Nou yang diusulkan dalam program Kampung Kreatif Sumut Berkah berada di pusat pelayanan kota, sekitar 0,5 hingga 1,5 kilometer dari pusat kota. Lokasi tersebut dinilai strategis untuk dikembangkan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi baru berbasis wisata tepi air atau waterfront.
Berdasarkan data Pemko Gunungsitoli, lebih dari 80 persen warga kawasan itu bergantung pada bantuan sosial, antara lain Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), serta Penerima Bantuan Iuran (PBI/PBIK). Infrastruktur dasar, terutama sanitasi, pengelolaan sampah, dan ketersediaan rumah layak huni, juga masih terbatas.
Pemko Gunungsitoli merancang transformasi mata pencaharian warga melalui pengembangan ekonomi berbasis pariwisata. Nelayan diarahkan menjadi pemasok bahan baku kuliner seafood, operator wisata, hingga pengelola dermaga mini. Pedagang asongan didorong menjadi pelaku UMKM kreatif, sedangkan ibu rumah tangga akan diberdayakan untuk menghasilkan produk kuliner dan kriya khas Nias.
Pekerja lepas juga direncanakan memperoleh pelatihan agar memiliki keterampilan profesional di bidang pariwisata dan pengelolaan kawasan.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Pemko Gunungsitoli mengusulkan anggaran total Rp50 miliar. Rinciannya meliputi stabilisasi bantaran dan resapan terpadu sebesar Rp18,5 miliar, pembangunan waterfront Rp15 miliar, kampung mural dan identitas visual Nias Rp3,5 miliar, pengelolaan sampah berbasis komunitas Rp3,5 miliar, aktivasi ekonomi berbasis rumah warga Rp7,5 miliar, serta wisata air dan kuliner sungai Rp5 miliar.
Sowa’a memperkirakan program itu berpotensi menghasilkan efek pengganda fiskal sebesar 2,1 hingga 2,8 kali, dengan perputaran ekonomi mencapai Rp105 miliar hingga Rp140 miliar dalam lima tahun.
Proyeksi tersebut tentu menjanjikan. Namun, angka perputaran ekonomi masih merupakan perkiraan yang perlu dibuktikan melalui pelaksanaan program, peluang usaha yang benar-benar terbuka, serta peningkatan pendapatan masyarakat.
Pada akhirnya, Kampung Kreatif Nou Berkah akan dinilai bukan hanya dari ramainya pengunjung atau indahnya tepian sungai. Keberhasilannya juga harus terlihat dari berkurangnya rumah tidak layak huni, meningkatnya pendapatan keluarga, dan terbukanya kesempatan ekonomi bagi warga setempat.
Sebab, jangan sampai kawasan wisata berhasil membuat orang datang untuk berfoto, sementara warga yang tinggal di sana masih kesulitan memperbaiki atap rumahnya sendiri. Pembangunan yang berpihak kepada masyarakat seharusnya membuat lingkungan lebih indah sekaligus kehidupan penghuninya lebih layak.(***)






