Dari Bank ke Baitullah: Ketika Bus Berangkat, Doa Ikut Dicicil Sejak Dini

Binjai18 Dilihat

Di halaman PT Bank Sumut Cabang Binjai, suasana pagi itu terasa sedikit lebih khidmat dari biasanya. Bukan karena antrean panjang nasabah, melainkan karena satu unit bus siap berangkat membawa 52 calon jemaah haji menuju manasik—sebuah langkah awal sebelum benar-benar menapaki Tanah Suci.

Mewakili Wali Kota, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Binjai Drs. Eka Edi Saputra, M.M hadir dengan pesan yang mengingatkan kita bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan jauh, tetapi juga perjalanan batin. Sebuah konsep yang terdengar dalam, meski pada praktiknya tetap diawali dengan memastikan koper tidak kelebihan berat.

Bus pun diberangkatkan dari Jalan Jenderal Sudirman dengan penuh harap. Para calon jemaah duduk rapi, mungkin sambil membayangkan Ka’bah, atau mungkin juga masih mengingat apakah sandal cadangan sudah masuk tas.

Tujuan mereka adalah Asrama Haji Medan, tempat di mana teori dan praktik ibadah haji dipertemukan. Di sana, manasik haji akbar akan berlangsung—semacam simulasi besar yang memastikan semua gerakan, dari niat hingga lempar jumrah, tidak hanya benar di buku, tapi juga lancar di lapangan.

Dalam sambutannya, Eka Edi Saputra menekankan pentingnya memahami rukun, wajib, sunnah, hingga larangan. Sebuah paket lengkap yang, jika diibaratkan, seperti panduan penggunaan perangkat spiritual—harus dibaca dengan teliti agar tidak salah langkah.

Pemerintah Kota Binjai pun memberikan apresiasi kepada pihak bank yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Karena di dunia modern, pelayanan nasabah tidak lagi hanya soal bunga dan saldo, tetapi juga sampai pada urusan bekal menuju akhirat.

Pimpinan cabang, Nafizar Lubis, menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung sejak 2006. Sebuah konsistensi yang sempat terhenti oleh pandemi, lalu kembali berjalan—mungkin sebagai pengingat bahwa niat baik memang bisa tertunda, tapi jarang benar-benar hilang.

Manasik selama dua hari ini akan dipandu oleh pembimbing berpengalaman. Artinya, para jemaah tidak hanya belajar sendiri, tetapi juga ditemani oleh mereka yang sudah lebih dulu memahami seluk-beluk perjalanan ini—dari yang teknis hingga yang penuh makna.

Pesan untuk menjaga kesehatan pun disampaikan dengan serius. Sebab, di tengah semangat spiritual, tubuh tetap punya batas. Dan ibadah yang khusyuk tentu lebih mudah dicapai ketika kondisi fisik juga mendukung—minimal tidak pusing saat tawaf.

Para pejabat dan undangan yang hadir menambah hangat suasana pelepasan. Sebuah momen yang tidak hanya tentang keberangkatan fisik, tetapi juga tentang dukungan moral—bahwa perjalanan ini bukan hanya milik individu, melainkan juga kebanggaan bersama.

Pada akhirnya, di balik semua persiapan ini, ada satu hal sederhana yang ingin dicapai: ibadah yang lancar dan penuh makna. Dan mungkin, di antara doa-doa yang dipanjatkan, terselip harapan kecil—semoga semua yang sudah dipelajari di manasik nanti benar-benar ingat saat dibutuhkan, bahkan ketika suasana sudah jauh lebih ramai dari sekadar latihan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *