Di sebuah sudut Bukit Sinyonya, yang biasanya lebih akrab dengan suara angin dan obrolan santai warga, tiba-tiba hadir suasana yang sedikit lebih “resmi”—lengkap dengan sambutan, spanduk, dan tentu saja, harapan besar yang dikemas dalam istilah “berkelanjutan.”
Adalah PT Federal International Finance atau yang lebih dikenal sebagai FIFGROUP, bagian dari Astra Financial di bawah payung besar Astra International, yang datang membawa satu kabar baik: peresmian Desa Sejahtera Astra (DSA) ketiga. Sebuah program yang terdengar seperti janji masa depan, tapi dimulai dari balai desa hari ini.
Tanggal 2 April 2026 pun menjadi momen penting, ketika desa yang sebelumnya mungkin hanya dikenal oleh peta lokal, kini masuk dalam radar pembangunan berkelanjutan. Sebuah loncatan yang, kalau dipikir-pikir, mungkin juga membuat beberapa warga bertanya pelan, “Apakah setelah ini hidup jadi lebih rapi seperti laporan tahunan?”
Menariknya, FIFGROUP tidak datang sendiri. Mereka menggandeng Universitas Multimedia Nusantara, yang siap membawa sentuhan akademis ke tengah kehidupan desa. Sebuah kolaborasi yang terdengar ideal: kampus membawa teori, desa menyediakan realita—dan keduanya bertemu di tengah-tengah harapan.
Peresmian ini pun dihadiri oleh para tokoh penting, mulai dari jajaran direktur FIFGROUP hingga Wakil Bupati Pandeglang. Kehadiran mereka seperti menegaskan bahwa desa bukan lagi sekadar latar belakang, melainkan panggung utama bagi program-program besar yang ingin terlihat membumi.
Dalam sambutannya, Esther Sri Harjati menyampaikan komitmen terhadap Astra 2030 Sustainability Aspirations. Sebuah kalimat yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari mungkin berarti: “Kami ingin memastikan bahwa kebaikan ini tidak hanya datang, tapi juga tinggal cukup lama untuk dirasakan.”
Konsep keberlanjutan pun menjadi bintang utama. Di mana pembangunan tidak lagi sekadar datang, foto bersama, lalu pulang, tetapi juga meninggalkan jejak berupa pendampingan, edukasi, dan pengembangan kapasitas. Atau dalam versi warga: bukan hanya bantuan, tapi juga diajari cara bertahan.
Tentu saja, bagi masyarakat desa, semua ini adalah kombinasi antara rasa bangga dan rasa penasaran. Bangga karena desanya dipilih, penasaran karena kata “berkelanjutan” sering kali terdengar lebih panjang dari penjelasannya.
Namun di balik semua istilah besar itu, ada hal sederhana yang sebenarnya ingin dicapai: kehidupan yang lebih baik. Entah itu melalui peningkatan ekonomi, pendidikan, atau sekadar membuat desa terasa lebih diperhatikan daripada sebelumnya.
Pada akhirnya, Bukit Sinyonya mungkin tidak berubah dalam semalam. Tapi dengan kehadiran program ini, setidaknya ada satu hal yang pasti: desa kini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari rencana besar—yang semoga, seperti namanya, benar-benar berkelanjutan, bukan hanya berulang dalam pidato.(***)






