Impor Turun 14,18 Persen, Investasi Industri Riau Kian Selektif Sepanjang 2025

Ekonomi, Nasional83 Dilihat

matabangsa.com – Pekanbaru | Provinsi Riau mencatat tren perlambatan impor cukup signifikan sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau melaporkan nilai impor daerah ini turun menjadi US$1.396,91 juta atau merosot 14,18 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa dunia industri Riau semakin selektif dalam melakukan belanja modal dan bahan baku dari luar negeri.

Penurunan ini tidak hanya terjadi pada komoditas migas, tetapi juga pada komoditas nonmigas yang menjadi tulang punggung aktivitas produksi di berbagai sektor. Nilai impor nonmigas Riau selama sepuluh bulan pertama tahun ini mencapai US$1.272,18 juta, turun 13,45 persen dibanding tahun sebelumnya. Kinerja impor tersebut menunjukkan adanya penyesuaian kebijakan belanja dari perusahaan—sebuah strategi umum saat industri menghadapi tantangan ekonomi global maupun domestik.

Meskipun impor sepanjang tahun menurun, data untuk Oktober 2025 menampilkan dinamika berbeda. Pada bulan tersebut, total impor Riau justru naik 11,61 persen menjadi US$158,70 juta. Faktor utama pendorong kenaikan ini adalah melonjaknya impor migas yang meningkat 407,80 persen dibanding Oktober tahun sebelumnya. Kebutuhan energi untuk menjaga kestabilan produksi menjelang akhir tahun membuat beberapa perusahaan meningkatkan persediaan mereka.

Kenaikan impor migas Oktober itu tidak mencerminkan tren jangka panjang, melainkan kebutuhan sesaat. Sebaliknya, impor nonmigas pada bulan yang sama turun 8,21 persen menjadi US$124,31 juta, menandakan bahwa aktivitas produksi di sektor manufaktur dan industri penunjang lainnya masih cenderung bergerak lambat. Penurunan impor nonmigas secara konsisten menunjukkan bahwa perusahaan industri lebih berhati-hati dalam mengatur kapasitas produksi.

Dari sepuluh komoditas nonmigas terbesar yang diimpor Riau, sebagian besar mengalami penurunan. Penurunan paling besar terjadi pada kelompok mesin-mesin dan pesawat mekanik, yang merosot hingga US$169,81 juta atau 55,98 persen. Komoditas ini biasanya mencerminkan aktivitas investasi industri. Ketika impor mesin turun drastis, hal itu menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan menunda ekspansi dan lebih fokus mempertahankan kapasitas yang ada.

Komoditas kayu dan produk turunannya, gandum-ganduman, serta berbagai produk kimia juga mengalami penurunan signifikan. Penurunan impor produk kimia, baik organik maupun anorganik, dapat menjadi indikator melemahnya aktivitas industri pengolahan yang memerlukan zat kimia sebagai bahan utama produksi. Industri pengolahan pangan, tekstil, hingga industri kimia dasar turut terdampak oleh perlambatan permintaan tersebut.

Sementara itu, empat komoditas nonmigas utama mencatatkan kenaikan. Komoditas pupuk menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan 13,88 persen, menandakan sektor perkebunan di Riau masih menunjukkan pergerakan positif. Kelapa sawit sebagai komoditas unggulan masih membutuhkan pasokan pupuk yang besar, sehingga impor komoditas ini tetap stabil dan bahkan meningkat sepanjang 2025.

Komoditas bubur kayu (pulp), garam-belerang-kapur, serta bahan kimia organik juga mencatat kenaikan nilai impor. Naiknya permintaan sejumlah komoditas tersebut memperlihatkan bahwa beberapa industri tertentu tetap menjaga kapasitas produksi mereka, terutama yang berkaitan dengan sektor pulp and paper dan industri pengolahan turunan lainnya.

Dari sisi negara asal barang, impor nonmigas Riau masih didominasi Tiongkok dengan nilai US$228,02 juta atau berkontribusi hampir 18 persen. Kanada berada di posisi kedua dengan US$206,10 juta, diikuti Vietnam yang menyumbang US$118,06 juta. Ketiga negara ini menjadi pemasok utama berbagai komoditas strategis, mulai dari bahan baku industri, mesin, hingga produk kimia.

Kawasan ASEAN mencatat kontribusi terbesar dengan nilai US$378,67 juta atau sekitar 29,77 persen. Besarnya peran ASEAN tidak terlepas dari kedekatan geografis dan hubungan perdagangan yang kuat antarnegara. Uni Eropa turut menyumbang 12,22 persen, menegaskan bahwa komoditas tertentu yang tidak diproduksi di kawasan Asia masih perlu dipasok dari Eropa.

Meski demikian, total impor nonmigas dari 13 negara utama pada Januari–Oktober 2025 tetap turun signifikan, yaitu 13,79 persen. Penurunan terbesar dialami impor dari Malaysia yang turun 43,21 persen, disusul Vietnam yang merosot 40,66 persen, serta Tiongkok yang turun 20,36 persen. Penurunan dari ketiga negara ini menunjukkan perubahan rantai pasok industri di Riau, baik karena penyesuaian produksi maupun diversifikasi sumber impor.

Jika dianalisis berdasarkan kelompok penggunaan barang, seluruh kategori mencatat penurunan—mulai dari barang konsumsi, bahan baku/penolong, hingga barang modal. Barang konsumsi turun 42,78 persen menjadi US$65,49 juta. Penurunan ini dapat diartikan sebagai indikator bahwa masyarakat maupun pelaku pasar domestik mengurangi permintaan terhadap produk impor, entah karena efisiensi pembelian atau daya beli yang melemah.

Pada kategori barang modal, penurunan mencapai 59,38 persen, menjadi US$107,86 juta. Ini menjadi salah satu tanda paling jelas bahwa investasi perusahaan belum menguat sepanjang 2025. Ketika pembelian mesin, peralatan industri, dan perangkat produksi menurun drastis, industri biasanya sedang menahan ekspansi karena ketidakpastian ekonomi atau masih berupaya memulihkan kondisi internal.

Kategori bahan baku dan penolong turun lebih moderat, yakni 1,94 persen menjadi US$1.223,56 juta. Meski turun, kategori ini tetap menjadi yang paling dominan dengan kontribusi 87,59 persen terhadap total impor. Artinya, aktivitas produksi masih berjalan, tetapi dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi. Banyak perusahaan memilih mengoptimalkan bahan baku sebelumnya daripada menambah stok baru.

Menariknya, pada Oktober 2025 kategori barang konsumsi justru meningkat lebih dari 143 persen. Fenomena ini lazim terjadi menjelang akhir tahun ketika permintaan pasar meningkat untuk memenuhi kebutuhan hari raya, tahun baru, serta berbagai aktivitas perdagangan akhir tahun. Lonjakan ini menjadi penyeimbang bagi tren penurunan yang dominan sepanjang tahun.

Di tengah berbagai dinamika tersebut, neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat kinerja positif hingga Oktober 2025. Surplus perdagangan mencapai US$16,18 miliar yang terdiri dari surplus sektor nonmigas sebesar US$15,37 miliar dan sektor migas sebesar US$0,81 miliar. Surplus besar ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia masih lebih kuat dibanding impor, sehingga memberikan ruang stabilitas bagi perekonomian nasional.

Pada Oktober 2025 saja, Indonesia mencatat surplus perdagangan US$1,61 miliar. Surplus ini didominasi sektor nonmigas dengan kontribusi US$1,60 miliar, ditambah surplus migas sebesar US$9,70 juta. Situasi tersebut menegaskan bahwa meski impor menurun, aktivitas ekspor tetap terjaga dan mampu menopang kondisi perdagangan nasional.

Secara keseluruhan, perlambatan impor Riau sepanjang 2025 membawa dampak beragam. Di satu sisi, penurunan barang modal dan bahan baku mencerminkan kehati-hatian pelaku industri dalam berinvestasi. Di sisi lain, sektor perkebunan yang tetap membutuhkan pupuk dan bahan pendukung lainnya menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Neraca perdagangan nasional yang tetap surplus menjadi penopang utama stabilitas ekonomi meski terjadi penyesuaian besar pada sektor impor.

Jika tren ini berlanjut, pelaku industri kemungkinan akan terus menerapkan strategi efisiensi, sementara pemerintah memiliki peluang memperkuat kebijakan penguatan industri lokal agar semakin mengurangi ketergantungan terhadap impor.(***)

Tags: #EkonomiRiau, #Impor2025, #IndustriRiau, #PerdaganganRiau, #BPSRiau,
Foto caption: Aktivitas bongkar muat di pelabuhan Riau tampak stabil meski tren impor menurun sepanjang 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *