Ini Nyata, Irigasi Lebih Tinggi dari Jalan dan Sawah, Warisan Teknik Sipil di Sleman

Nasional47 Dilihat

Sleman – Saluran Irigasi Buk Renteng atau yang dikenal sebagai Selokan Van Der Wijk di Tempel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu bukti kemajuan teknik sipil pada masanya. Konstruksi bangunan ini dirancang lebih tinggi dari jalan dan area persawahan di sekitarnya, memungkinkan aliran air tetap lancar tanpa mengganggu aktivitas warga.

Apakah ini bisa disebut ‘tol air’. Sepertinya bisa disebut demikian. Karena Selokan Van Der Wijk atau Saluran Irigasi Buk Renteng dalam konteks fungsinya sebagai jalur khusus untuk mengalirkan air irigasi di atas permukaan tanah.

Baca Juga: Meski Bulan Puasa, Warga Kecamatan Meranti Gelar Gotong Royong Sambut Hari Jadi ke-79 Kabupaten Asahan

Konsep “tol air” umumnya mengacu pada jalur air yang dibangun untuk mempermudah aliran air ke wilayah tertentu, serupa dengan fungsi jalan tol bagi kendaraan. Dalam beberapa kasus, istilah ini juga digunakan untuk jalur air yang dimanfaatkan sebagai rute transportasi kapal atau perahu, seperti Terusan Panama atau Terusan Suez.

Namun, dalam kasus Buk Renteng, meskipun fungsinya lebih ke arah irigasi dan bukan transportasi air, strukturnya yang lebih tinggi dari tanah, dengan pilar-pilar penyangga dan jalur lalu lintas di bawahnya, memang menyerupai konsep tol dalam dunia infrastruktur. Oleh karena itu, secara kiasan, bisa disebut sebagai tol air irigasi karena berfungsi sebagai jalur utama pengairan yang mengalirkan air secara lebih efisien ke area pertanian di Sleman.

Struktur bangunan irigasi ini ditopang oleh deretan pilar melengkung yang saling tersambung, menciptakan tampilan kokoh dan estetik. Pilar-pilar ini berfungsi untuk menopang saluran air di bagian atas, sekaligus memberikan ruang kosong di bagian bawah yang dapat dimanfaatkan sebagai jalur lalu lintas bagi masyarakat.

Baca Juga: Rincian Utang Sritex Dibongkar, Tembus angka Puluhan Triliun Buat Bangkrut dan PHK Semua Karyawan

Keunikan desain ini memungkinkan air mengalir tanpa hambatan sekaligus tetap memberikan akses bagi kendaraan maupun pejalan kaki di bawahnya. Dengan adanya terowongan di bagian bawah, saluran irigasi ini tidak hanya berperan dalam mendistribusikan air tetapi juga menunjang mobilitas warga sekitar.

Saluran yang dibangun pada masa kolonial Belanda ini berperan dalam mengalirkan air dari Sungai Progo ke sejumlah perkebunan tebu di wilayah Sleman maupun Bantul pada masa itu. Kini, kanal yang berhulu di Bligo, Magelang dan membujur sepanjang 35 Kilometer itu masih berfungsi dengan baik.

Baca Juga: Mau Taahu Kondisi Terkini Paus Fransiskus, Sempat Memburuk, karena Muntah dan Sebabkan Perburukan pada Paru-paru

Apakah tol air ini yang pernah di dunia atau Indonesia?

Saluran Irigasi Buk Renteng merupakan bagian dari sistem pengairan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Dibangun dengan prinsip keberlanjutan, irigasi ini tetap berfungsi optimal hingga saat ini dalam mengairi area pertanian di sekitarnya.

Masyarakat setempat memanfaatkan keberadaan saluran ini untuk berbagai keperluan, termasuk sebagai jalur alternatif penghubung antarwilayah. Beberapa bagian dari konstruksi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang tertarik dengan arsitektur peninggalan sejarah.

Baca Juga: Ternyata Jarak Lurus Masjid Istiqlal ke Masjidil Haram 7.919 Km, Perjalanan Udara Sekitar 9 Jam

Meski telah berusia puluhan tahun, bangunan irigasi ini tetap berdiri kokoh. Pemerintah daerah dan masyarakat sekitar terus melakukan perawatan agar fungsinya tetap optimal dalam mendukung sektor pertanian dan infrastruktur lokal.

Keberadaan Selokan Van Der Wijk membuktikan bahwa teknologi irigasi masa lalu memiliki keunggulan tersendiri. Desainnya yang efisien dan multifungsi menunjukkan kecerdikan insinyur pada masanya dalam menciptakan solusi yang bertahan dalam jangka panjang.

Dengan perawatan yang berkelanjutan, diharapkan saluran irigasi ini dapat terus berfungsi untuk generasi mendatang. Buk Renteng tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga bukti nyata bagaimana infrastruktur yang baik mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Saluran irigasi seperti Buk Renteng atau Selokan Van Der Wijk memang memiliki desain unik, tetapi bukan yang pertama di dunia. Konstruksi saluran air yang lebih tinggi dari tanah dengan pilar-pilar melengkung sudah ada sejak zaman Romawi, seperti aqueducts yang digunakan untuk mengalirkan air ke kota-kota besar.

Namun, di Indonesia, Selokan Van Der Wijk tergolong salah satu saluran irigasi yang unik karena menggabungkan fungsi irigasi dan jalur transportasi di bawahnya. Konsep seperti ini tidak banyak ditemukan di negara lain, terutama dengan arsitektur kolonial yang masih bertahan hingga sekarang.

Jika dibandingkan dengan saluran irigasi di dunia, beberapa yang terkenal antara lain:

Pont du Gard (Prancis) – Aqueduct Romawi dari abad ke-1 M yang masih berdiri.
Aqueduct of Segovia (Spanyol) – Salah satu aqueduct tertinggi di dunia yang masih utuh.
Magdeburg Water Bridge (Jerman) – Jembatan air modern yang memungkinkan kapal melewati jalur irigasi di atas daratan.
Jadi, meskipun bukan yang pertama di dunia, Selokan Van Der Wijk memiliki keunikan tersendiri sebagai infrastruktur kolonial yang masih berfungsi dan menjadi bagian penting dari sistem pengairan serta transportasi di Sleman, Yogyakarta.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *