Jumat Barokah: Saat Wartawan Turun dari Headline, Naik ke Hati Nurani

Medan11 Dilihat

matabangsa.com – Medan: Di sebuah sudut kota yang tak pernah kekurangan berita, tepatnya di Jalan Bromo, Lorong Karya, Kecamatan Medan Area, para pewarta yang biasanya sibuk mengejar narasumber, kali ini justru “mengejar berkah.” Bukan dalam bentuk eksklusif wawancara, melainkan sebungkus sembako dan segenggam kebersamaan yang kadang lebih langka dari klarifikasi pejabat.

Di markas sederhana Pewarta Polrestabes Medan, Jumat (10/4/2026) berubah menjadi panggung kecil yang hangat. Di sini, berita tidak ditulis—ia dirasakan. Dan untuk sekali ini, para wartawan tidak perlu bertanya “siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.” Karena jawabannya ada di wajah-wajah yang saling menyapa.

Sang komandan acara, Chairum Lubis, tampil bukan dengan mikrofon konferensi pers, melainkan dengan paket sembako di tangan. Sebuah adegan yang mungkin tidak akan viral, tapi diam-diam lebih jujur dari banyak headline bombastis.

Prosesi pembagian berlangsung tertib. Tidak ada rebutan, tidak ada interupsi, apalagi “walk out.” Mungkin karena semua yang hadir sadar, ini bukan sidang DPR, ini Jumat Barokah—tempat di mana ego dititip sementara, dan kepedulian dipinjamkan seluas-luasnya.

Chairum Lubis pun menyampaikan pesan yang terdengar sederhana, tapi cukup “menyentil” realitas. Bahwa wartawan bukan sekadar pemburu berita, tapi juga manusia yang kadang butuh dipeluk—kalau tidak oleh keluarga, ya oleh sesama rekan seprofesi.

“Kita ini bukan hanya menulis tentang kepedulian, tapi juga harus mempraktikkannya,” kira-kira begitu pesan yang tersirat. Sebuah kalimat yang mungkin terdengar klise, tapi di tengah dunia jurnalistik yang kadang lebih cepat dari empati, kalimat itu terasa seperti oase kecil.

Menariknya, kegiatan ini juga menjadi ajang “silaturahmi tanpa deadline.” Tidak ada editor yang mengejar, tidak ada redaktur yang memotong tulisan. Yang ada hanya canda ringan, obrolan santai, dan mungkin sedikit gosip yang—untungnya—tidak masuk berita.

Para anggota pun tampak menikmati momen ini. Bukan hanya karena bantuan yang diterima, tapi karena kesempatan untuk kembali merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar byline di bawah judul berita.

Di tengah kondisi ekonomi yang sering disebut “masih menantang” (frasa favorit yang entah kenapa selalu muncul di setiap rilis resmi), kegiatan seperti ini jadi pengingat bahwa solidaritas tidak butuh anggaran miliaran. Cukup niat, waktu, dan sedikit kepedulian yang tidak dibuat-buat.

Dan di sinilah letak satirenya: ketika dunia luar sibuk berdebat tentang kebenaran dan kepentingan, sekelompok wartawan justru memilih diam sejenak—lalu berbagi. Tanpa konferensi pers, tanpa sorotan kamera besar, tanpa klaim pencitraan.

Jumat Barokah ini mungkin tidak akan jadi breaking news. Tapi justru itu keindahannya. Ia tidak butuh sensasi, karena yang dibagikan bukan sekadar sembako—melainkan rasa bahwa di tengah kerasnya dunia berita, masih ada ruang untuk menjadi manusia.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *