Kanker Serviks, Si “Silent Killer” yang Kini Diajak Ngobrol Bareng Pemkot

Bekasi6 Dilihat

Di tengah hiruk-pikuk urusan kota—dari macet sampai pajak—Pemerintah Kota Bekasi tiba-tiba mengajak warganya membicarakan sesuatu yang jauh lebih serius: kanker serviks. Penyakit yang dijuluki silent killer ini akhirnya “dipanggil ke meja diskusi,” seolah-olah bisa diajak kompromi asal diberi sosialisasi dan brosur yang cukup.

Wakil Wali Kota, Abdul Harris Bobihoe, mengingatkan bahwa kanker serviks ini licin—tidak berisik, tidak heboh, tahu-tahu sudah serius. Mirip beberapa masalah publik lainnya yang sering datang tanpa gejala, tapi dampaknya luar biasa saat sudah terlambat disadari.

Maka dimulailah gerakan besar: sosialisasi, skrining, hingga metode self sampling. Sebuah istilah yang terdengar canggih, seolah kesehatan kini sudah masuk era “do it yourself.” Tinggal ambil sampel sendiri, kirim, dan berharap hasilnya bukan kejutan yang tidak diinginkan.

Kegiatan advokasi pun digelar, lengkap dengan kehadiran perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, organisasi perempuan, hingga tokoh-tokoh penting lainnya. Sebuah forum serius, dengan satu tujuan: membuat masyarakat sadar bahwa mencegah lebih baik daripada… panik di akhir.

Program imunisasi HPV untuk anak perempuan sekolah juga terus didorong. Ini langkah maju, meski seperti biasa, tantangan sebenarnya bukan di programnya, tapi di kesadaran kolektif. Karena di negeri ini, kadang yang gratis saja masih sempat ditunda—apalagi yang butuh kesadaran jangka panjang.

Di sisi lain, fasilitas kesehatan juga dipamerkan: puluhan puskesmas, rumah sakit, klinik, hingga tenaga medis yang siap siaga. Infrastruktur sudah disiapkan, tinggal satu yang sering jadi PR terbesar: apakah masyarakat mau datang sebelum sakit, bukan sesudah?

Satirenya ada di sini—kita hidup di zaman di mana informasi kesehatan begitu melimpah, tapi kebiasaan cek kesehatan masih kalah populer dibanding cek notifikasi. Padahal, yang satu bisa menyelamatkan hidup, yang satu lagi hanya menyelamatkan rasa penasaran.

Pemkot Bekasi tampaknya paham betul, bahwa melawan kanker serviks bukan sekadar urusan medis, tapi juga urusan budaya. Budaya untuk tidak takut periksa, tidak malu bertanya, dan tidak menunda hal penting hanya karena “masih terasa sehat.”

Dan di akhir acara, imbauan pun kembali digaungkan: rutin skrining. Sebuah pesan sederhana, tapi sering kali kalah oleh kesibukan dan alasan klasik—“nanti saja.”

Padahal, kalau dipikir-pikir, silent killer ini tidak butuh undangan resmi untuk datang. Jadi mungkin, untuk sekali ini, tidak ada salahnya kita yang duluan “menyambut”—bukan dengan panik, tapi dengan kesadaran.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *