matabangsa.com – Medan | Tekanan terhadap lingkungan Aceh meningkat seiring perluasan wilayah industri.
Sumber data dan peta yang digunakan dalam laporan ini berasal dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), sebuah organisasi masyarakat sipil yang selama bertahun-tahun fokus melakukan advokasi, riset, dan pemantauan terhadap aktivitas pertambangan serta industri ekstraktif di Indonesia.
JATAM secara rutin merilis peta spasial, laporan investigatif, dan analisis dampak lingkungan berbasis data resmi pemerintah, citra satelit, serta temuan lapangan, sehingga informasi yang disajikan menjadi rujukan penting bagi publik dalam memahami dinamika penggunaan lahan dan potensi ancaman ekologis di berbagai daerah.
Peta terbaru menunjukkan bukaan lahan masif dari berbagai konsesi aktif.
Konsesi emas PT Linge Mineral Resources seluas 36.420 hektare menjadi salah satu yang paling disorot.
Kegiatan pertambangan emas dianggap memiliki risiko tinggi terhadap air dan tanah.
Di sisi lain, terdapat 30 izin minerba dengan luas keseluruhan 132.105,12 hektare.
Aktivitas ini berpotensi mempercepat deforestasi di kawasan penyangga banjir.
Hutan industri juga ikut memperbesar tekanan ekologis.
PT Aceh Nusa Indrapuri mengelola 106.197 hektare, sementara PT Tusam Hutani Lestari menguasai 97.300 hektare lainnya.
Peneliti mencatat kawasan tersebut merupakan habitat penting berbagai spesies endemik.
Gangguan ekologis dapat memicu migrasi satwa liar hingga konflik manusia-satwa.
Risikonya meningkat ketika curah hujan ekstrem melanda wilayah pesisir.
Kondisi ini diperparah dengan degradasi lahan akibat aktivitas industri kayu seluas 80.804 hektare.
Ditambah konsesi 44.400 hektare milik PT Lamuri Timber yang berada di sekitar kaki bukit.
Kombinasi tekanan tersebut mendorong potensi banjir dan tanah longsor.
Wilayah banjir terparah di Aceh mencakup 12 titik, termasuk Pidie Jaya dan Aceh Tengah.
Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Bener Meriah juga rutin mengalami banjir besar.
Para ahli menilai kerusakan hulu sungai menjadi faktor utama yang memperburuk banjir.
Rehabilitasi kawasan hulu menjadi langkah krusial untuk meminimalkan risiko.
Pemerintah didesak mengambil langkah korektif sebelum kerusakan semakin meluas.(***)
Tags: #Aceh, #BanjirAceh, #KonsesiLahan, #HTIAceh, #PertambanganAceh, #Minerba, #KrisisLingkungan, #AcehUtara, #JATAM,
Foto: Peta JATAM memperlihatkan sebaran konsesi HTI, HPH, minerba seluas 132.105,12 ha, serta wilayah banjir terparah di Aceh yang berjumlah 12 titik dari Pidie Jaya hingga Aceh Singkil.






