Ketum P4B Suwarno: Omset Pedagang Terus Menurun

Matabangsa13 Dilihat

Matabangsa – Medan: Dampak pemberlakuan stay at home (Tinggal dirumah) dan Sosial Distancing (Pembatasan Jarak Sosial) yang diterapkan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona (Covid-19) telah membuat omset para pedagang pasar di kota Medan menurun drastis. Penurunan omset ini kata Suwarno akibat banyaknya pelaku usaha dan toko-toko yang tutup akibat sepinya pembeli karena masyarakat takut keluar rumah.

”Sejak adanya pembatasan keluar rumah dan menghindari tempat-tempat keramaian, pembeli jadi sepi, karena masyarakat banyak yang takut keluar rumah. Tempat-tempat usaha juga banyak tutup, termasuk hotel, mall, restauran, cafe, dan lain sebagainya. Tentu hal ini berpengaruh bagi pedagang. Seperti di pasar petisah, hanya pedagang yang menjual kebutuhan pokok yang masih berjualan, itupun pembelinya sepi. Jika penjual pakaian, toko emas, toko sepatu dan barang-barang pecah belah sudah banyak yang tutup dan meliburkan karyawannya,” terang Suwarno, Ketua Umum DPP Pelindung Persaudaraan Pedagang Pasar Bersatu (P4B) Minggu, (19/4).

Ditambah Suwarno lagi, bagi mereka yang merupakan pegawai di pemerintahan tentunya masih ada mendapatkan gaji setiap bulannya.

Namun, bagaimana dengan mereka (para pedagang) yang bekerja pagi untuk kebutuhan esok hari. Tentunya dampak pembatasan keluar rumah dan sosial distancing ini sangat mempengaruhi perekonomian pedagang.

”Belum lagi para pedagang yang ada pinjaman di Bank dan kebutuhan sekolah anak-anak mereka, tentulah hal ini sangat memberatkan sekali,” ujarnya.
Tentunya, tambah Ketua Umum P4B ini lagi, ada banyak pedagang yang memiliki pinjaman modal kepada Bank. Kiranya juga, pihak Bank dapat membantu pedagang dengan memberikan kemudahan selama dampak COVID-19 ini.

Karena pemerintah dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo sebelumnya juga telah memberikan keputusan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk diteruskan kepada lembaga sektor keuangan selama pandemi corona virus (COVID-19) agar sementara menunda penagihan atau memberikan keringanan bagi pedagang yang terdampak wabah corona virus.

”Meskipun dilapangan, para pedagang masih terganggu karena sistem penagihan masih berjalan saat adanya instruksi OJK, ini harusnya juga dipatuhi dan pemerintah mengeluarka semacam surat himbauan bagi pihak jasa keuangan untuk di patuhi,” terangnya.

Pemiliki usaha Santan Kelapa Suwarno ini mengaku, kalau saat ini, omset usaha santan kelapa yang Ia kelola juga sangat menurun drastis. Banyak permintaan pelanggannya seperti hotel, restoran, toko roti dan lainnya menunda pesanan akibat tutup.
”Ini saja, saya contohkan telah berdampak bagi saya, dan meskipun saya tetap buka, namun saya juga telah mengurangi karyawan saya sementara untuk mengurangi biaya kerugian operasional sehari-hari,” kata nya, namun dirinya tetap antusias bahwa pemerintah akan secepatnya dapat menuntaskan wabah pandemi corona virus COVID-19 ini dengan cepat.
Untuk itu, sambung Suwarno, kiranya ada solusi dari pemerintah termasuk pemerintah Kota Medan untuk meringankan beban para pedagang yang telah mengalami kemerosotan drastis dampak dari pembatasan aktifitas diluar rumah.
Upaya pedagang mendekati bulan puasa
Mendekati bulan puasa yang tinggal hitungan hari, hendaknya ada perhatian kepada para pedagang termasuk pedagang kaki lima dan pedagang UMKM agar dapat dibantu dengan memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa pasar-pasar di Kota Medan steril dari Covid-19. Dan menyediakan alat pelindung diri (APD) dan pencuci tangan di setiap sudut pasar.
Pemko Medan juga hendaknya menyediakan masker bagi para pedagang dan memberikan sanksi kepada para pedagang yang tidak mematuhi aturan seperti tidak memakai masker dan tidak menerapkan Social Distancing.

”Kita pedagang pada dasarnya siap membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona (COVID-19), namun hendaknyalah juga kita para pedagang diberikan perhatian, beri alat pelindung diri dan fasilitas pendukung lainnya, sehingga mekipun situasi Covid-19, masyarakat dan pedagang tidak kawatir ketika berbelanja kepasar. Karena pasar sejak dulu sudah diakui mampu menghidupkan roda perekonomian daerah ketika terjadi masalah krisis ekonomi global,” terang Suwarno.
Dikatakan Suwarno lagi, pada saat bulan puasa nanti, dipastikan minat masyarakat untuk membeli kebutuhan pokok untuk keperluan persediaan selama bulan puasa meningkat.

”Disinilah peran dan fungsi pemerintah untuk memberikan keyakinan bagi masyarakat untuk tidak takut dan ragu berbelanja kebutuhan pokok di pasar, sehingga dapat membantu perekonomian pedagang,” pungkasnya. (Dave)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *