matabangsa.com – Medan: Di sebuah aula kampus penuh semangat dan—seperti biasa—pendingin ruangan yang kadang lebih dingin dari realita masa depan, Wakil Ketua DPRD Sumut Sutarto berdiri lantang mengajak mahasiswa menjadi motor pembangunan daerah. Sebuah ajakan yang terdengar heroik, nyaris seperti trailer film perjuangan—bedanya, ini tanpa efek CGI (Computer-Generated Imagery), tapi penuh efek jargon.
Dalam talkshow bertajuk “Membangun Generasi Cerdas” di FISIP USU, bersama ahli politik dan akademisi di kampus itu, Warjio, dan dimoderatori Ira Rizka Lubis, kata “disrupsi teknologi” kembali dipanggil ke panggung. Kata yang sudah begitu sering dipakai hingga kadang terasa seperti mantan—sering disebut, tapi jarang benar-benar dipahami.
Disrupsi, kata Sutarto, adalah perubahan besar akibat teknologi digital. Betul. Tapi yang sering terlupakan, bukan hanya dunia industri yang terdistrupsi—mahasiswa juga. Dari yang dulu rajin ke perpustakaan, kini rajin membuka tab baru. Dari yang dulu berdiskusi panjang, kini cukup debat di kolom komentar dengan modal emosi dan sinyal stabil.
Ajakan untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah tentu terdengar mulia. Namun di sisi lain, mahasiswa sering kali masih sibuk membangu deadline yang sudah lewat. Antara idealisme dan realitas, kadang yang menang bukan visi besar, tapi notifikasi TikTok dan Instagram.
Sutarto juga menyinggung derasnya arus informasi yang membuka peluang di industri kreatif, termasuk gaya berbisnis. Ini benar. Tapi ada satu detail kecil: informasi yang deras tanpa kemampuan menyaring hanya akan melahirkan generasi yang tahu segalanya—kecuali mana yang benar.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan ini mengingatkan mahasiswa diminta memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan keterampilan dan membangun koneksi. Ironisnya, “koneksi” yang paling sering dibangun justru WiFi kampus. Sementara koneksi intelektual, jejaring profesional, dan kapasitas diri masih sering buffering.
Lebih jauh, mahasiswa didorong menjadi agen perubahan. Sebuah istilah yang sangat ambisius—sayangnya sering berhenti di bio Instagram. Karena menjadi agen perubahan bukan soal menulis caption kritis, tapi berani konsisten dalam tindakan, bahkan saat tidak ada yang memberi likes.
Gagasan tentang mahasiswa sebagai penggerak transformasi digital juga menarik. Tapi mari jujur: banyak mahasiswa yang masih lebih jago mengedit video estetik daripada mengedit pola pikir. Padahal perubahan terbesar bukan di aplikasi, tapi di cara berpikir.
Sutarto menyebut pentingnya mengatasi kesenjangan digital. Ini poin penting. Namun sebelum mengajari masyarakat soal literasi digital, mungkin mahasiswa juga perlu lulus dulu dari “hoaks” dan “clickbait tingkat lanjut” hingga informasi palsu menggunakan kemajuan AI.
Talkshow ini, pada akhirnya, adalah pengingat. Untuk generasi GenZ menjadi mahasiswa di era disrupsi bukan sekadar ikut arus, tapi belajar berenang—bahkan melawan arus jika perlu. Karena teknologi tidak akan menunggu, dan masa depan tidak punya tombol “skip ad”.
Jadi, pilihan ada di tangan mahasiswa: mau benar-benar berkembang menjadi individu yang adaptif, kritis, dan solutif—atau cukup jadi penonton cerdas yang pandai mengomentari perubahan tanpa pernah ikut berubah.(***)






