MTQ ke-59 Kota Medan Dibuka Rico Waas: Antara Syiar Al-Qur’an, Beduk Seremonial, dan Godaan Jajanan UMKM

Medan7 Dilihat

Di Medan, Sabtu malam itu tampak berbeda. Jalan Jenderal Gatot Subroto di Kecamatan Medan Sunggal bukan cuma jadi jalur lalu lintas, tapi berubah jadi panggung syiar. Beduk ditabuh, lampu dinyalakan, dan Rico Tri Putra Bayu Waas resmi membuka MTQ ke-59 Kota Medan—sebuah momen di mana suara merdu tilawah bersiap bersaing dengan suara klakson di kejauhan.

Acara pembukaan pun tak main-main. Zakiyuddin Harahap, Wong Chun Sen, unsur Forkopimda, hingga Airin Rico Waas dan Wiriya Alrahman ikut kompak menabuh beduk. Kalau dilihat sekilas, ini bukan sekadar pembukaan MTQ—ini hampir seperti konser pembuka, minus tiket dan penonton yang rebutan bangku VIP.

Dalam sambutannya, Rico Waas mengingatkan bahwa MTQ bukan sekadar lomba adu suara merdu atau hafalan super cepat. Ini adalah ajang syiar Islam dan penguatan nilai Al-Qur’an. Artinya, bukan cuma siapa yang menang, tapi siapa yang benar-benar “membawa pulang” nilai-nilai itu—bukan cuma piala dan piagam yang dipajang di ruang tamu.

Rico juga menyebut MTQ sebagai kebanggaan Kota Medan. Harapannya jelas: lahir qori dan qoriah yang bisa naik level—dari kecamatan ke kota, lalu provinsi, nasional, hingga internasional. Dengan kata lain, dari panggung lokal ke panggung dunia. Siapa tahu, dari Medan ke Mesir, bukan cuma durian yang terkenal.

Namun di balik semangat itu, ada pesan penting: penilaian harus adil dan profesional. Karena dalam lomba seperti ini, yang dipertaruhkan bukan cuma nilai, tapi juga kepercayaan. Jangan sampai ada bisik-bisik “menang karena kenal juri”—karena kalau itu terjadi, bukan hanya suara yang fals, tapi juga tujuan acara.

Menariknya, Rico juga mengapresiasi peningkatan kualitas penyelenggaraan. Lokasi lebih tertata, UMKM lebih dilibatkan. Jadi, selain mendengar ayat suci, pengunjung juga bisa sekalian mencicipi jajanan. Sebuah kombinasi spiritual dan kuliner yang, jujur saja, cukup menggoda iman—dalam arti yang berbeda.

Di sela-sela itu, teknologi juga ikut disinggung. Rico mengingatkan agar kemajuan digital dimanfaatkan secara bijak. Karena di era sekarang, orang bisa saja lebih hafal lirik TikTok daripada ayat pendek. Maka, MTQ ini jadi semacam “reminder halus” agar keseimbangan tetap terjaga.

Tema yang diusung tahun ini cukup berat tapi penuh makna: “Membangun Ketaatan yang Hakiki kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya menuju Medan Bertuah.” Terinspirasi dari Surah An-Nisa ayat 59, tema ini mengajak semua pihak untuk taat—bukan hanya saat lomba berlangsung, tapi juga saat kembali ke rutinitas sehari-hari.

Sementara itu, HM Sofyan melaporkan bahwa MTQ berlangsung selama sepekan, 11–18 April 2026, dengan 692 peserta dari 21 kecamatan. Angka yang cukup besar, menunjukkan bahwa semangat tilawah di Medan masih jauh dari kata sepi.

Acara diawali dengan pawai ta’aruf yang melibatkan sekitar 11.000 peserta. Bayangkan, ribuan orang berjalan bersama—sebuah pemandangan yang mungkin membuat jalanan macet, tapi hati justru terasa lapang. Delapan cabang lomba pun dipertandingkan, dari seni baca hingga karya tulis ilmiah Al-Qur’an—kombinasi antara suara, akal, dan seni.

Dan tentu saja, tak lengkap tanpa bazar. Sebanyak 112 pelaku UMKM ikut meramaikan, didampingi pameran OPD dan partisipasi 21 kecamatan. Jadi, kalau ada yang datang hanya untuk “lihat-lihat”, kemungkinan besar pulangnya tetap bawa sesuatu—kalau bukan ilmu, ya minimal oleh-oleh.

Begitulah MTQ ke-59 Kota Medan: antara syiar dan selebrasi, antara nilai dan nuansa, antara tilawah dan… jajanan. Sebuah pengingat bahwa agama bisa hadir dengan khidmat, tapi tetap bersahabat dengan kehidupan sehari-hari.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *